The Book of Hours of Nagarakrtagama | acrylic on canvas, wood, mp3 player | 180 x 291 cm http://eddysu.com/karya/the-book-of-hours-series-2015/ Syair menjadi sebuah fenomena identitas diri, yang dikirim  melalui berbagai bentuk dan keberadaannya di berbagai media. Salah satu bentuk paling umum dalam penggunaan identitas untuk mengungkapkan apa yang mungkin dapat digambarkan sebagai sebuah perasaan pengalaman bersama, yang memungkinkan pemirsa untuk membayangkan pengalaman dan emosi narasi tanpa banyak kendala. Bagai sebuah keajaiban, identitas syair yang digunakan untuk menentukan dirinya, juga menunjukkan kapasitasnya yang hampir merevolusi dalam setiap periode sejarah. Bahkan di Eropa barat munculnya budaya kontemplasi telah merevolusi selama lima belas abad. Kebudayaan ini tentang pengabdian pada kesedihan, untuk mendekatkan manusia dalam keilahian yang terkait dengan emosi dan dapat diakses melalui meditasi.   Detail karya: Book of Hours of Pararaton   Pada perkembangannya, diterbitkanlah kitab-kitab sebagai buku panduan perenungan (Book of Hours) yang digunakan individu secara pribadi untuk mengaktifkan emosi, dengan kata lain, memungkinkan pengalaman transendensi dalam menemukan ...

Lihat Selengkapnya...

The Illumination of Google | acrylic on canvas, hemp rope, mini monitor | 180 x 291 cm http://eddysu.com/karya/the-illuminations-series-2015/ Aksara-bahasa menjadi salah satu media penyampai gagasan manusia, dibentuk oleh konstruksi sosial budaya, diawetkan dan langgeng oleh manusia beserta kebudayaan yang menopangnya. Aksara-bahasa mengalami perubahan berdasarkan kesepakatan serta pergantiannya bisa terjadi secara cepat dan singkat atau lama.  Dan yang pasti memiliki fungsi sosio-kulturalnya. Menjadi kode dinamis, berkembang dan dikembangkan oleh sebuah komunitas. Aksara-bahasa Jawa menjadi contohnya. Dua hal itu (aksara dan bahasa Jawa) saling berkelindan, menyatu, meski tak selalu berjalan beriringan. Bermula dari Palawa dan Sanskerta yang sering termaktub dalam prasasti kuno. Tetapi penanda (signifier) tekstual lisan brahmin ini mulai dirubah di Jawadwipa. Fase arkais paling mula hilangnya aksara Palawa (di Jawa)—seperti catatan de Casparis dalam Indonesian Paleography—ditandai dengan adanya prasasti Plumpungan di Salatiga milik baginda raja Bhanu. Bongkahan batu andesit itu bertarik 750 Masehi dan telah menggunakan aksara Kawi (Jawa kuno). Sementara bahasa Kawi ...

Lihat Selengkapnya...

Hymns of Dystopia | merapi stone, winong wood, metal, and sound system | 200 x 150 x 200 cm Ini tentang sentimen manusia akan kehidupan yang berakhir menjadi terlalu utopis untuk realitas, atau terlalu dystopian bagi mereka yang cukup beruntung memiliki dunia. Tentang sebuah “naskah” yang menjelma sebagai hymne pesimis akan sebuah dunia dalam mencapai tahap kematangan teknologi yang hanya untuk menghancurkan dirinya sendiri. Karena kemajuan yang terjadi hanya dalam hal teknologi, tapi tidak pada kapasitas moral umat manusianya. Adalah klise untuk mengatakan bahwa di antara masalah terbesar yang kita hadapi tentang kemajuan moral atau etis manusia belum sejalan dengan kemajuan teknologi dan pemikiran ilmiah. Karena kecemasan sejarah yang mendalam adalah bahwa pemisahan antara kapasitas teknologi dan moral merupakan bahaya terbesar yang didefinisikan sebagai masalah. Meskipun kecemasan tersebut hanyalah sebuah kecemasan berdasarkan pada masa depan yang diproyeksikan. Semua budaya memiliki mitos keangkuhan atau peringatan tentang rasa ingin tahu yang tak terkendali. Dan itu ...

Lihat Selengkapnya...

Dalam bahasa Inggris, ‘writing’ merujuk kepada dua hal, yaitu sebagai kata benda (tulisan) dan sebagai kata kerja (menulis). Kegiatan menulis sehingga menghasilkan tulisan adalah proses pembentukan kata-kata pada sebuah media, sehingga lahirlah teks-teks. Sejarah pun dimulai karena adanya rekaman tulisan dan keberadaan budaya manusia sebelum dikenal melalui tulisan mulai dari zaman prasejarah. Setelah itu adanya zaman sejarah diawali. Defining the nation (Soekarno) | acrylic on wood | 200 x 150 cm Seorang arkaelogis, Denise Schmandt Besserat, mengungkapkan bahwa ada hubungan antara koin-koin bersimbol (tokens) yang terbuat dari tanah liat–yang ditemukan pada kebudayaan kuno–dengan tulisan pertama (cuneiform). Token-token dengan simbol-simbol yang berbeda membuktikan bahwa ada kegiatan pencetakan dan tentunya membutuhkan beberapa simbol atau tanda. Oleh karena itu, bisa jadi token-token itulah prototipe pertama akan sebuah simbol teks. Menulis, adalah salah satu bentuk budaya yang tercipta melalui proses-proses yang disebutkan. Penemuan lambang-lambang oral (huruf) yang bentuk akhirnya berupa tulisan, adalah suatu prestasi intelektual yang dicapai ...

Lihat Selengkapnya...

the javanese cabinets of curiosities | bamboo, teak wood, animal bones | 50 x 50 x 100 cm Cabinets of curiosities, yang juga dikenal sebagai 'wonder rooms', berisi koleksi kecil benda-benda yang luar biasa, layaknya sebagai museum, berusaha untuk mengkategorikan dan menceritakan kembali tentang keajaiban dan keunikan kehidupan yang pernah ada di alam ini. Tersusun seolah bercerita tentang masa lalu yang pernah hidup, mewakili tema atau ide tertentu, sebagai gambaran bahwa kehidupan ini suatu saat akan berakhir. Cabinets of curiosities menjadi monumen untuk mengawetkan gairah kekaguman manusia akan kehidupan selama ribuan tahun.   Detail Karya   Dalam hal ini tubuh menjadi metafora (atau simbol) untuk menceritakan kembali dan merangkumnya dalam sebuah ide tertentu. Objek yang seolah bernyawa menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Kematian adalah re-animasi yang seolah menjadi bagian dari sebuah cerita drama yang dipentaskan. Sementara sekarang ini kita melihatnya sebagai suatu bentuk hiburan yang mengerikan, karenanya penting untuk merefleksikan cara pandang yang berbeda ...

Lihat Selengkapnya...