Drawing Pen, Acrylic on Canvas | 400 x 125 cm "Pada mulanya adalah Kata". Ini frasa sederhana yang selalu digunakan oleh Sutardji Khalzoum Bachry sebagai pembuka kredo puisinya. Meskipun sesungguhnya "pada mulanya adalah Kata" sudah terucap lebih kurang dua ribu tahun yang lampau. Kalimat pendek itu ditulis pertama kali di dalam Alkitab. Display Karya Pada Abad ke-15, "The Last Supper", salah satu karya Leonardo da Vinci dispekulasikan mengandung pesan tersembunyi yang menyiratkan keinginan da Vinci mempelajari pengetahuan tersembunyi dari alam semesta untuk mengetahui masa depan. Da Vinci memulainya dengan “Kata”, sebuah ramalan yang dia ciptakan lewat simbol-simbol visual dalam karyanya dan tulisan-tulisan huruf terbaliknya. Slavisa Pesci, seorang ahli teknologi informasi, menciptakan efek visual yang menarik dengan menumpangkan versi cermin The Last Supper di atas yang asli. Hasilnya, dua figur mirip ksatria Templar terlihat di kedua ujung meja. Sementara seseorang yang diduga membawa bayi, berdiri di sisi Yesus. Elemen Karya Sementara Giovanni Maria Pala, seorang ...

Lihat Selengkapnya...

Hikayat Genji & Panji | Drawing pen, Acrylic on Canvas | 100 x 150 cm ( 4 panels) Adalah Murasaki Shikibu, seorang perempuan Jepang, penulis novel pertama di dunia yang dikenal dengan judul The Tale of Genji. Dalam buku The Pleasures of Japanese Literature, Keene mengklaim bahwa Murasaki menulis "adikarya fiksi Jepang" dengan mengambil unsur-unsur tradisi waka buku harian istana, dan Monogatari asal zaman sebelumnya, ditulisnya dalam campuran aksara Tionghoa dan aksara Jepang seperti dalam Putri Kaguya atau Hikayat Ise. Ia mengambil unsur-unsur serta mencampurkan gaya penulisan sejarah Cina, puisi naratif, dan prosa Jepang kontemporer. Cerita Hikayat Genji berlatar pada akhir abad ke-9 hingga awal abad ke-10, dan Murasaki menghilangkan unsur-unsur dongeng dan fantasi seperti sering ditemukan pada monogatari sebelumnya. Murasaki sukses mengemas tema utamanya yakni kerapuhan hidup. Menurut Helen McCullough karya Murasaki memiliki daya tarik universal dan berpendapat bahwa Hikayat Genji melampaui baik genre maupun zaman. Tema dasar dan latar, cinta di ...

Lihat Selengkapnya...

Dunia, termasuk di dalamnya adalah masyarakat Jawa, pada saat ini ibarat berada di persimpangan jalan. Di satu sisi harus berhadapan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi, di sisi lain dihadapkan pada kondisi budaya yang menuntut tetap ditegakkannya jatidiri. Perkembangan jaman yang begitu cepat, mampu menyeret kehidupan manusia, merubah pola pikir dan pola hidup menjadi realistik berlebihan, pragmatik, materialistik, hedonik, dan liberal kapitalistik. Manusia menjadi tidak terkendali dan cenderung mengkhalalkan segala cara dalam meraih tujuan. Menjadi kaya lebih dari yang lain, popularitas melebihi popularitas lain. Kondisi seperti inilah yang digambarkan Ranggawarsita di dalam Serat Kalatidha yang dikenal sebagai jaman edan atau jaman kalabendu, jaman yang penuh bebendu. Orang bisa berbuat apa saja semaunya karena aturan sudah tidak ada fungsinya, rurah pangrehing ukara, dan tidak ada keteladanan pemuka dan pimpinan masyarakat, karana tanpa palupi. Instalasi karya pada Artstage Singapore 2017 Tanda-tanda perkembangan dan globalisasi tersebut, tampaknya seperti adanya tanda-tanda yang ...

Lihat Selengkapnya...

Bayangkan, dunia tanpa pintu. Tak akan ada pengetahuan yang datang dan tak ada yang akan pergi. Segala hal tentang hidup dan kehidupan akan gelap. Dalam falsafah jawa, pintu adalah gerbang tujuan hidup manusia – sangkan paraning dumadi — keharmonisan, kesejahteraan dan kedamaian. Sebagai simbol keseimbangan dan keberlanjutan hidup. Kala makaranya sebagai simbol cinta antara ibu dan anak. Selain itu juga tanda tentang jalan ke sorga, naik turunnya roh nenek moyang dalam keabadian. Madyapada Keabadian | Mix Media | 200 x 210 x 40 cm Mitologi keabadian di Jawa tertuang dalam naskah Jawa Kuno Adiparwa tahun 998 Masehi sebagai naskah tertua di Tanah Air tentang mitologi gerhana. Dalam Bab VI Adiparwa disebutkan, seorang raksasa (Betara Kala) yang merupakan anak Sang Wipracitti dan Sang Singhika berubah wujud menjadi dewa dengan meminum Tirta Amerta. Sang Hyang Aditya (Dewa Matahari) dan Sang Hyang Candra (Dewa Bulan) yang mendahului ulah raksasa pun mengadukannya kepada Dewa Wisnu. ...

Lihat Selengkapnya...

Seperti sejumlah tema lain yang berhubungan dengan kehidupan Kristus dan Bunda Maria, karya-karya The Holy Family menjadi sangat populer pada akhir Abad Pertengahan sebagai inspirasi melalui perenungan aspek emosional dari kisah Bible. Bahkan paling sering digambarkan dalam karya lukis di era Renaissance. Salah satunya karya Albrecht Durer tahun 1495, The Holy Family With The Butterfly. Namun, Dürer memilih untuk tidak mengejar setiap adegan menjadi ambigu atau emosional. Meskipun nampak sederhana, karyanya sangat sempurna mengasumsikan kehadiran pola dasar humanisme. Bahwa pendekatannya untuk tema ini dikondisikan oleh pengalaman pribadi. Dürer tidak punya anak sendiri, tetapi kita tahu bahwa ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya, Barbara Dürer. Mother "Candrarini of Durer" | Acrylic on Canvas | 150 x 150 cm Pada abad ke-15, di Eropa angka kelahiran dan angka kematian bayi sangatlah tinggi. Keadaan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Dürer hingga membentuk pemahamannya tentang hubungan khusus antara ibu dan anak. Karakter karya Durer tentang ...

Lihat Selengkapnya...