Seperti sejumlah tema lain yang berhubungan dengan kehidupan Kristus dan Bunda Maria, karya-karya The Holy Family menjadi sangat populer pada akhir Abad Pertengahan sebagai inspirasi melalui perenungan aspek emosional dari kisah Bible. Bahkan paling sering digambarkan dalam karya lukis di era Renaissance. Salah satunya karya Albrecht Durer tahun 1495, The Holy Family With The Butterfly. Namun, Dürer memilih untuk tidak mengejar setiap adegan menjadi ambigu atau emosional. Meskipun nampak sederhana, karyanya sangat sempurna mengasumsikan kehadiran pola dasar humanisme. Bahwa pendekatannya untuk tema ini dikondisikan oleh pengalaman pribadi. Dürer tidak punya anak sendiri, tetapi kita tahu bahwa ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya, Barbara Dürer. Mother "Candrarini of Durer" | Acrylic on Canvas | 150 x 150 cm Pada abad ke-15, di Eropa angka kelahiran dan angka kematian bayi sangatlah tinggi. Keadaan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Dürer hingga membentuk pemahamannya tentang hubungan khusus antara ibu dan anak. Karakter karya Durer tentang ...

Lihat Selengkapnya...

The Ill-Assorted Couple atau The Offer of Love adalah salah satu karya Albrecth Durer yang bertema tentang “wanita” dibuat antara tahun 1495-1496. Karya ini mengisahkan betapa dunia perdagangan di akhir Abad Pertengahan juga merambah pada perdagangan seks (prostitusi). Di gambarkan oleh Durer adegan seoerang tentara bayaran tua tengah bernegosiasi dengan seorang wanita penghibur muda yang cantik. Seks sebagai komoditi seolah tengah ditawarkan kepada penawar tertinggi dalam transaksi kepada yang mampu membayar tanpa mengenal lagi apa yang tengah dijunjung tinggi masalah etika di masa renaissance. Centhini of Durer | 180 x 180 cm Penggambaran ini menjadi fakta realita apa yang terjadi pada dinamika masa yang kita kenal sebagai periode kebangkitan intelektual yang terjadi di Eropa, khususnya di Italia sepanjang abad ke 15 dan ke 16. Abad ketika alam pikiran di kungkung oleh Gereja. Pada zaman itu berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner ...

Lihat Selengkapnya...

Detail Karya Java of Durer #2 Java of Durer #2 | Drawing pen, Acrylic on Canvas | 300x235cm | 2013   Malaikat Malaikat menjadi karakter yang paling menonjol dalam Melencolia I. Malaikat dalam seni Renaissance yang paling umum dikenal sebagai sosok berjubah mistis dengan sayap yang besar dan memberikan nuansa surgawi nan kudus. Tetapi Durer menunjukkan makhluk suci ini dengan tampilan berbeda, ia mengenakan pakaian layaknya ibu rumah tangga—seolah seperti dewi Venus —dan kepalanya disandarkan di kepalan jari-jari tangan kirinya. Malaikat itu menatap dengan penuh perhatian, tapi tatapannya tak fokus pada sesuatu yang khusus. Ia nampaknya tidak melihat suasana sekelilingnya dengan intensif: langit yang cerah, benda-benda berserakan di lantai, maupun bentuk batu misterius (geometrik) di sebelah kanannya. Semuanya tak berhasil menarik perhatiannya. Ia memegang satu kompas (jangka) di tangan kanannya, tapi nampaknya tidak digunakannya. Sang malaikat itu tampaknya pasif, frustrasi dan melamun. Dalam situasi yang penuh dan ramai semacam itu, apa yang akan dilakukannya ...

Lihat Selengkapnya...

Genesis Of Durer | Acrylic and Drawing pen on Canvas | 154,5 x 200 cm | 2013 Pameran bertajuk Visual of Java: Albercht Durer and the Sacred Script, Texts and Numbers ini mengkorelasikan karya-karya Albrecht Durer dengan aksara bahasa Jawa yang dipertemukan dalam titik sacred script, texts and numbers. Aksara jawa carakan memiliki sakralitas karena aksara ini diejawantahkan dan diingat dalam kultur jawa sebagai sebuah hukum kodrat “sangkan paraning dumadi”, sebuah ungkapan transedental tentang asal muasal. Carakan menjadi sebuah episteme saat digubah dalam sebuah seloka yang indah;               hananing cipta rasa karsa(Ha-na-ca-ra-ka)             datan salah wahyuning lampah(Da-ta-sa-wa-la)              padhang jagade yen nyumurupana(Pa-dha-ja-ya-nya)             marang gambaring bathara ngaton(Ma-ga-ba-tha-nga) Bagi orang Jawa, carakan dari ha sampai nga (berikut pasangan dan sandhangannya), selain disebut sebagai aksara juga disebut sastra dan sastra ini mengungkapkan isi kandungan batin manusia mulai dari yang sederhana hingga kawruh pangawikan kajaten (filsafat) yang lahir dari pikiran, perasaan ...

Lihat Selengkapnya...

Detail Java of Durer #1 Semangat Renaisans telah mengubah pandangan budaya masyarakat Eropa. Saat itu, kebebasan individualistik telah mewabah di setiap alam pikir manusia di seantero benua biru hingga banyak orang berfikir bahwa manusia memiliki eksistensi yang lebih dari sekedar menanti akhirat. Satu pemikiran yang jauh berbeda dengan semangat jaman pertengahan, dimana nafas dunia barat dipengaruhi  semboyan memento mori. Semangat yang ditopang kaki-kaki kuat gereja Roma itu akhirnya runtuh. Dalam pola perubahan saat Rene Descrates mengucap tegas  cogito ergo sum (saya berfikir maka saya ada) itulah, para pemikir telah membumikan kembali manusia sebagai pribadi yang utuh dan memiliki peran luar biasa atas diri mereka sendiri juga terhadap gerak hidup dunia di sekelilingnya. Manusia telah kembali menemukan jati dirinya. Di masa awal Renaisans, budaya ikut memiliki peran signifikan dalam mempopulerkan perubahan. Albrecht Durer seniman bergaya Renaisans utara, dengan pola cukilan kayu, sebuah pola yang umum digunakan saat teks mulai disebarkan sebelum diruntuhkan oleh mesin ...

Lihat Selengkapnya...