Lingkungan yang alami, jiwa masyarakat yang ramah dan guyub secara tidak langsung menjadi komoditas naiknya harga tanah dan properti di desa. Kurun 10 tahun terakhir, di Jawa khususnya Yogyakarta, semakin banyak orang kota membeli tanah dan properti di desa, namun tidak ditinggali malah berinvestasi, apalagi hidup bermasyarakat di dalamnya. Orang Jawa adalah masyarakat yang cukup eksistensialis. Artinya, meyakini sesuatu ada baru mencari makna atas keberadaannya itu. Persis seperti eksistensi mendahului esensi. Bukan sesuatu di dunia ini ada karena sudah ditentukan dari sananya. Masyarakat Jawa mampu membaca gejala-gejala alam untuk dijadikan suatu pertanda dan sikap mereka terhadap cara hidup di dunia. Menjadikannya pakem dan keniscayaan, suatu hal yang pasti, melalui tutur kata dari generasi ke generasi, dari yang tua kepada yang muda, lantas semuanya itu menjadikannya adat istiadat atau kebudayaan atau keyakinan.     Rentang 10 tahun bisa menjadi pertanda gejala-gejala alam bagi orang Jawa yang dititipkan oleh waktu. Angka dan bilangan biasanya digunakan sebagai ...

Lihat Selengkapnya...