Kuncoro Hadi Dalam catatan Mankind and Mother Earth Toynbee, seluruh Itali bukanlah satu-satunya loka tumbuhnya budaya modern karena wilayah Flanders muncul dan menjadi magnet kedua dari bersinarnya kebudayaan barat (Eropa). Salah satunya, di antara laut Adriatik dan laut Utara, Nuremberg menjadi pusat budaya. Di sanalah, Albrecht Durer berkarya sejaman dengan Michelangelo dan Raphael. Ia memang menjadi seniman besar yang menjadi tandingan seniman-seniman Itali . Durer menjadi seniman Renaisans Utara yang (juga) memberikan nuansa religius serta misterius dalam karya-karyanya layaknya Leonardo da Vinci. Karya-karya (Durer) ini diangkat kembali lalu ditafsirkan dalam sakralitas aksara, naskah (Babad Tanah Jawi) dan pemahaman akan angka dalam lokalitas Jawa sehingga tampilan sakralitas Durer secara visual bermakna juga membuka pemahamaan makna sakralitas dalam kultur Jawa. Durer—dalam perkembangan Renaisans—memang tidak sekedar menampilkan sakralitas kristianitas tetapi juga memunculkan misteri angka dalam satu karyanya yang terkenal Melencolia I. Sakralitas angka memang mengundang kekaguman banyak orang. Dalam sebuah ilustrasi Amsal 11:21, yang termaktub ...

Lihat Selengkapnya...

Detail Karya Java of Durer #2 Java of Durer #2 | Drawing pen, Acrylic on Canvas | 300x235cm | 2013   Malaikat Malaikat menjadi karakter yang paling menonjol dalam Melencolia I. Malaikat dalam seni Renaissance yang paling umum dikenal sebagai sosok berjubah mistis dengan sayap yang besar dan memberikan nuansa surgawi nan kudus. Tetapi Durer menunjukkan makhluk suci ini dengan tampilan berbeda, ia mengenakan pakaian layaknya ibu rumah tangga—seolah seperti dewi Venus —dan kepalanya disandarkan di kepalan jari-jari tangan kirinya. Malaikat itu menatap dengan penuh perhatian, tapi tatapannya tak fokus pada sesuatu yang khusus. Ia nampaknya tidak melihat suasana sekelilingnya dengan intensif: langit yang cerah, benda-benda berserakan di lantai, maupun bentuk batu misterius (geometrik) di sebelah kanannya. Semuanya tak berhasil menarik perhatiannya. Ia memegang satu kompas (jangka) di tangan kanannya, tapi nampaknya tidak digunakannya. Sang malaikat itu tampaknya pasif, frustrasi dan melamun. Dalam situasi yang penuh dan ramai semacam itu, apa yang akan dilakukannya ...

Lihat Selengkapnya...