The Journey of Panji | Art Installation | 500 x 200 x 300 cm (Singapore Art Museum collection) Dalam kesusastraan pelbagai bahasa Nusantara—seperti catatan Zoetmulder—Kisah Panji menjadi sebuah tema yang sangat menarik sebagai model sastra “Jawa Tengahan” yang disampaikan dalam “bahasa” kidung, yang kemudian menyebar di beberapa wilayah Asia Tenggara. Panji—jika menggunakan terminologi linguistik—menjadi semacam “lingua franca”, sebuah perantara—seperti yang disebut Adrian Vickers—bagi “Peradaban  Pesisir “ Asia Tenggara. Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina). Dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut "Lingkup Panji" (Panji cycle). Cerita Panji bermula di Jawa sekitar akhir abad 14 hingga awal abad 15 Masehi. Kisah ini melahirkan banyak varian yang muncul di beberapa wilayah pada abad 17 hingga 18 Masehi. Panji memang lahir di Jawa, merepresentasikan setengah hasrat dan setengah realitas manusia Jawa, tetapi Bali yang mengawetkan kisah ...

Lihat Selengkapnya...

The best artworks to collect are often riddles. While they immediately hit you on an emotional level, they might take a lifetime to navigate thoroughly. Some of their layers might be unexpected even to the artist who created them. Eddy Susanto’s work belongs to this category. Perhaps it might appear too intellectual for some. The Indonesian will be required to look back at forgotten Javanese mythology and history. The European will be asked to grasp notions buried in the depths of half-remembered literature classes. Even a professor of comparative studies would be challenged in understanding the references to worldviews from opposite corners of the planet. And yet history is not enough. The viewer must be very aware of modern challenges posed by technology, science and the market. Basically, to fully understand Eddy Susanto’s work, you are required to be Eddy Susanto. Of course, 99.999999986% of us are not Eddy Susanto. So how ...

Lihat Selengkapnya...

Jakarta, CNN Indonesia -- Eddy Susanto (42), salah satu dari sekian seniman rupa Indonesia yang kerap tampil memamerkan karyanya di ajang pameran tingkat internasional. Baru-baru ini, ia menjadi salah satu dari tujuh seniman yang turut mengusung karyanya di ajang Singapore Biennale 2016. Bicara akan perhelatan pameran seni dua tahunan atau biennale, Indonesia pun juga memiliki ajang serupa, yang bedanya digelar di beberapa kota, seperti di Jakarta (yang tertua sejak tahun 1970-an), lalu Yogyakarta, Makassar, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera. Meski telah digelar di beberapa kota, Eddy menilai biennale yang digelar itu belumlah setara dengan ajang biennale tingkat internasional, atau masih berupa pameran seni biasa. "Jakarta biennale diadakan, Surabaya biennale diadakan, seolah-olah jadi latah. Biennale di Indonesia, walau pun di Jakarta, itu biasa saja, tidak seperti di Singapura," ujar Eddy saat berbincang dengan CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu. Padahal, kata seniman yang juga kurator seni itu, yang dipertaruhkan dalam biennale kontemporer adalah potensi hubungan internasional atau ...

Lihat Selengkapnya...