Eddytorial,  Write

Albrecht Dürer dan Angka Keramat (Bagian I)

DURER 1-16: Angka-Angka Keramat Dalam Pelbagai Tradisi

ANGKA KEHIDUPAN DAN CINTA (5)

Funf  ist

des Menschen Scele.

Wie der Mensch aus Gutem

und Bosem ist gemischt, so ist die Funfe

die erste Zahl aus Grad’ und Ungerade.

(Lima adalah jiwa manusia.

Seperti manusia ada yang baik dan jahat,

lima adalah angka pertama

sebagai hasil penjumlahan dari angka genap dan ganjil.)

Dalam naskahnya dramanya Piccolomini, Schiller menulis tentang makna klasik angka 5 berkaitan dengan manusia. Sebagaimana manusia yang merupakan campuran dari kebaikan dan kejahatan, 5 merupakan angka pertama dari hasil penjumlahan angka genap dan ganjil.

Lima selalu dihubungkan dengan kehidupan manusia dan 5 alat indera; 5 merupakan angka cinta dan kadang-kadang menjadi angka pernikahan, seperti dalam karya Plato Laws, ada lima tamu dalam bab tentang pernikahan. Ungkapan paling jelas dari nilai penting angka 5 terdapat dalam Hero and Leander (1598) karya George Chapman, yang mencantumkan sebuah puisi pernikahan(epithalamion):

Jika sebuah angka genap hendak engkau pecah

Menjadi dua bagian sama besar, hanya nol tersisa di tengah,

Untuk menyatukan kembali setiap bagian dari lain renggutan:

Dan lima secara sangat khusus mereka puja

Karena lima adalah angka ganjil pertama yang mengada

Dari penjumlahan dua buah angka terdepan

Yang ganjil dan genap; yakni dua dan tiga,

Tak ada angka seperti ini:

Angka ini mengalirkan

Ras angka yang kuat…

Sebagai sebuah paduan yang tak terpisahkan antara 3 yang maskulin dan 2 yang feminin, maka angka 5—dari perspektif matematika murni—merupakan angka yang paling tepat untuk mengungkapkan paduan antara laki-laki dan perempuan. (Teka-teki Turandot dalam epos Haft paykar karya penyair Persia, Nizhami, menunjukkan bahwa interpretasi itu juga dikenal di Iran di Abad Pertengahan.) Jung menganggap 5 sebagai angka manusia yang berbakat, yaitu tubuh dan 2 ditambah 2 ekstremitas menjadi 5 bagian. Dan Goethe, dengan pengetahuan yang mendalam tentang simbolisme angka-angka kuno, mengatakan bahwa—dalam novelnya Die Wahlverwandtschaften—sebuah pernikahan-sementara berumur 5 tahun, “angka ganjil yang indah dan sakral”. Hal ini berbeda dengan keluarga sosial yang dibangun diatas angka 4 dan disertai dengan “meja, tempat tidur, rumah, dan halaman”. Lima dipandang sebagai angka yang agak aneh dan suka memberontak, dan Hippasos menemukan sebuah bentuk geometris kelima, pentagondodecahedron, yang berisikan 12 pentagon (segilima) biasa. Penemuan Hippasos ini mempermalukan kaum Pythagorean yang hanya terfokus pada 4 hingga muncul legenda bahwa penemu bentuk geometris baru ini dihukum mati karena (dianggap) melakukan pelanggaran hukum.

Secara faktual, 5 menjadi angka pembuat struktur tidak tampak dalam Kristal—yang di dalamnya hanya ditemukan bilangan 2, 3, 4, dan 6—serta tidak dipakai oleh kaum Pythagorean dalam kaitannya dengan interval musik. Namun demikian, berkebalikan dengan fakta itu, 5 dipandang sebagai angka pembuat struktur paling khas dalam tubuh makhluk hidup, khususnya tanaman. Angka daun bunga sering ditimpakan pada 5, dan para psikolog seperti Paneth mengklaim bahwa terbukanya kuncup-kuncup bunga pada musim semi—ketika bunga-bunga berbintang 5 yang tidak terkira jumlahnya tiba-tiba mekar—merupakan sesuatu yang “revolusioner”. Dalam puisi The Garden of Cyrus (1658), penyair Inggris Sir Thomas Browne mencoba untuk memperlihatkan bahwa angka 5 tidak hanya representasi dari seluruh hortikultura di zaman dahulu tetapi juga seluruh kehidupan flora serta perlambangan fauna, seperti 5 jari tangan dan 5 jari kaki, atau bintang laut. Oleh karena itu, 5 bisa dipandang sebagai bilangan “nakal” dan sukar dikendalikan yang, seperti Eros, mengatur ketertataan kosmos secara apik. Dalam geometri visual, pentagon-pentagon tidak pernah benar-benar bisa dipadukan—selalu ada ruang kosong yang tersisa—tetapi bisa dipadukan secara baik dengan bentuk-bentuk geometris lainnya. “Kekuranglengkapan” ini diperbincangkan oleh para ahli tafsir Kristen seperti Agustinus, yang mengkaji hubungannya dengan Pentateukh, 5 kitab Musa, karena kitab-kitab Musa ini tidak bisa mengantarkan menuju kesempurnaan akhir, yang hanya bisa diraih di dunia ini dengan Kristus.

Dalam kacamata astronomi, sejak dahulu, 5 telah dianggap sebagai angka dewi Ishtar dan “penerus” Romawinya, Venus. Angka 5 memang memegang peranan dalam proses-proses astronomis pada umumnya. Tahun matahari kuno, yang disusun berdasarkan bilangan 60 [5 x (5 + 7) ] dan dapat dibagi menjadi 5 x 72 hari, kemudian diubah menjadi satu tahun matahari yang benar, 365 hari. Untuk melengkapinya, jumlah itu ditambah dengan 5 hari baru yang disebut epagomeneia. Bersandar pada mitos kuno, Plutarch menceritakan bagaimana terbentuknya 5 hari itu: sang dewa matahari—Helios—mengutuk Rhea karena mengkhianatinya dan ini berarti bahwa Rhea tidak akan bisa melahirkan buah kisah cinta gelapnya dibawah kekuasaan dewa matahari atau dewa bulan. Tetapi, Hermes yang cerdas menyelamatkan Rhea dan selepas memenangkan judi dengan dewa bulan, Rhea mendapatkan tujuh puluh detik setiap harinya. Maka, selama 360 hari, ia telah benar-benar mendapatkan 5 hari yang terlepas dari jangkauan matahari maupun bulan sehingga lepas dari kutukan Helios. Agaknya secara kebetulan pada zaman kuno dalam satu minggu terdapat 5 hari, yang juga terus berlaku dalam lustrum Roma, dimana hitungan 5 tahun dianggap sebagai satu minggu pada tahun dewa-dewa.

Pentagram Ishtar adalah sebuah simbol infinitif, sebagaimana 5 merupakan angka sirkular (yakni kekuatannya selalu berakhir dengan 5: 25, 125, dan seterusnya). Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika pentagram dalam tradisi Inggris dikenal sebagai “simpul kekasih”, yang menyimbolkan cinta abadi. Lagi-lagi pentagram ini bertalian dengan Ishtar dan dewi-dewi cinta lainnya. Pentagram pada tameng Sir Gawain bermakna perlindungan. Kesakralan lima Isthar dan Venus telah berlaku sejak zaman kuno, seperti dalam kuil Venus pentagonal di Baalbek dari zaman Hellenistik. Dengan kedatangan agama Kristen, Maria seringkali dianggap mempunyai sifat-sifat Ishtar atau Venus, termasuk simbol pentagramnya. Sebagaimana Ishtar, yang kekuatannya dibatasi oleh dewa bulan, Maria digambarkan sedang berdiri di atas bulan sabit. Bahkan mungkin auman binatang-binatang buas yang menakut-nakuti Perawan Maria kalah oleh pentagram. Senyatanya, Venus sering dianggap sebagai bintang Maria, dan sebuah himne kuno yang indah dengan awal kalimat: Ave maxis Stella, Dei mater al-Maidah (Hail, Bintang di Laut, ibu Dewa yang subur), mengingatkan kita akan hubungan di antara keduanya.

Dalam Kitab Perjanjian Baru terdapat 5 perempuan yang bernama Maria dan sebagaimana kultus-kultus baru biasanya muncul di tempat-tempat di mana agama-agama terdahulu merayakan ritus-ritusnya, kita mendapati adanya perubahan kuil-kuil Venus menjadi gereja-gereja yang diperuntukkan bagi Perawan Maria. Sebuah contoh yang tepat adalah kuil kuno Venus Eryeina di Sisilia, di mana Maria menampakkan diri dengan kerudung. Kerudung-kerudung ini hanya dibuka sekali dalam setahun pada 15 Agustus, hari pengukuhan Maria. Bilangan 5 juga merupakan bilangan sentral dalam Manicheisme; 5 anak laki-laki manusia primordial terlahir dan 5 unsur cahaya (eter, angin, air, cahaya, dan api) berhadapan dengan 5 unsur kegelapan. Orang-orang Manichean juga mengenal 5 bagian tubuh, 5 kebenaran, 5 tingkat pendeta, dan 5 keburukan. Mereka mengakui 5 malaikat pengumpul jiwa, selain 5 “penolong Tuhan Mahakuasa”.

Angka 5 tidak hanya dimiliki secara eksklusif oleh orang-orang Timur Dekat. Angka 5 ini mempunyai kedudukan penting dan bahkan di Cina kedudukannya lebih tinggi daripada dalam tradisi Semitik. Di Cina, titik-atas sebuah pentagram disematkan pada “tanah” yang disusul dengan “air”, “api”, “logam”, dan “kayu” sebagai gambaran hubungan antara 5 unsur: tanah menelan air, air memadamkan api, api meluluhkan logam, logam memotong kayu, dan kayu membajak tanah. Kotak magis yang tersebar luas ke seluruh pelosok dunia, yang berpusat pada 5 dan menjadi amat penting dalam kebudayaan Islam, berasal dari Cina kuno. Orang-orang Cina juga mengkombinasikan pentagram dengan planet Saturnus, Merkurius, Mars, Venus, dan Yupiter, dan seturut planet-planet ini mereka mengatur arah, musim dalam satu tahun, bunyi-bunyian, bagian-bagian tubuh, rasa yang berbeda-beda, binatang-binatang, dan warna-warna. Seluruh kehidupan di dunia ini didasari oleh bilangan 5. Kita mengenal 5 gunung yang sakral, 5 jenis biji-bijian, 5 tingkat kemuliaan, dan 5 hubungan antarmanusia: raja-hamba, ayah-anak, laki-laki-perempuan, kakak-adik, teman-musuh. Kita mendapatinya adanya 5 kebenaran, 5 jenis keberuntungan, 5 sifat moral, 5 buku klasik, tetapi juga 5 senjata dan hukuman pokok. Tangga nada kuno berisikan 5 not yang berkaitan dengan oktaf tanpa not kelima dan ketujuh. Melihat seringnya angka ini digunakan, jelaslah bahwa 5 merupakan angka yang memberi keuntungan di Cina kuno, sehingga pada saat perayaan tahun baru pintu-pintu rumah didekorasi dengan potongan-potongan kain yang bertuliskan, misalnya “Semoga keberuntungan lima memasukinya!”.

Menariknya, peran penting 5 semacam ini juga dijumpai di masyarakat Indian Amerika Utara. Angka 5 juga merupakan angka kunci bagi orang-orang Maya, yang memandangnya sebagai titik tengah 4 penjuru kardinal—sebuah ide yang kemudian menjadi titik tengah konsep salib Eropa dan Asia. Orang-orang Maya mempunyai dewa-dewa yang berbentuk 5; menurut Ratsch, “Satu dewa dengan 5 warna: merah, putih, hitam, kuning, dan hijau kebiruan pada gilirannya dikaitkan dengan titik-titik kardinal. Warna-warna, bentuk-bentuk, dan aspek-aspek ini secara keseluruhan menggambarkan sosok dewa. Bahkan sekarang ini 5 ditemukan dalam nama-nama orang Yucatan”.

Angka 5 juga mempunyai kedudukan penting di India kuno, di mana 5 titik salib (termasuk tengahnya) dianggap bisa melindungi dan menghindarkan dari kejahatan. Selain 5 materi untuk peribadatan dan 5 daun untuk upacara ritual, orang-orang India juga mengenal 5 alat domestik yang bersifat destruktif, yakni batu gerinda, tungku, sapu, lumpang, dan alu. Lima sesepuh bertugas mengurusi tata kehidupan desa (pancayat), dan kearifan mistis dan magis dilestarikan dalam kompilasi yang disebut panj ratna, “5 Permata” (jewels), sebuah nama yang diambil orang-orang India Muslim dari sebuah buku mistiko-astrologis terkenal karya Muhammad Ghawth Gwaliori, al fa- zaihir al-Khamsah, di abad ke-16. Meski demikian, hubungan antara praktik-praktik magis seperti itu dan 5 objek sakral dalam komunitas Sikh tidak terlalu jelas; seorang Sikh dihormati karena 5 hal, yang disebut 5 k, yakni kes, kach, kara, kripan, dan kanjha (rambut panjang, celana panjang, pisau, pedang, dan sisir yang semuanya khusus).

Ada beragam pandangan mengapa 5 sangat penting dan mempunyai peran sentral dalam banyak kebudayaan. Kecenderungan untuk mengelompokkan sesuatu dalam susunan lima muncul di mana-mana. Panca indera tentu saja berhubungan dengan 5 sebagai bilangan bagi manusia lazimnya, yang usia hidupnya—kata para penyair Persia—hanya 5 hari. Namun, 5 juga menjadi pedoman untuk menata buku dan kata tentang kearifan: 5 perintah bagi orang-orang awam dalam Buddhisme, 5 kebaikan utama yang dipaparkan oleh Aristoteles, dan secara khusus 5 kitab Musa, yakni Pentateukh. Dalam puisi Persia, epos disusun dalam kelompok-kelompok 5, dan Khamsa atau “quintet”, karya Nizhami tetap menjadi model yang tidak tergantikan dalam beratus-ratus puisi berbahasa Persia, Turki, dan Urdu. Kumpulan fabel India, Pancatantra (5 Ajaran), mengikuti pedoman 5 serupa sebagaimana berlakunya kecenderungan untuk menyusun petuah atau kata-kata bijak dalam kelompok-kelompok 5. Sama halnya, Goethe dalam karyanya West-Ostlicher Divan menyuguhkan 2 untai petuah yang masing-masing berisi 5 kalimat.

Tetapi bagaimana halnya dengan pentagram dan 5 sebagai angka pelindung? Telapak tangan manusia dengan 5 jari lazimnya merupakan azimat khusus di dunia Islam. Sebagian kaum Muslim menyebutnya sebagai “Telapak Fathimah” sesudah nama anak bungsu Nabi Muhammad dan ibu para Imam. Telapak tangan juga menyimbolkan panjtan, “5 orang,” yakni Muhammad, Fahimah, ‘Ali (suaminya), dan dua anak mereka (Hasan dan Husain), sebagai tokoh-tokoh terpenting dalam Syi` ah dan teladan yang sangat dihormati orang-orang Sunni. Telapak Fithimah dipercaya bisa menghalangi penglihatan setan, dan telapak batu agung di atas pintu masuk Gedung Pengadilan di Alhambra merupakan sebuah tanda bertuah. Dalam tradisi-tradisi kemasyarakatan di Timur Tengah dan Afrika Utara, tanda telapak ini dirajut atau dibordir di bendera dan pataka atau dilukis di atas pintu. Bentuk telapak tangan ini juga mengingatkan kita pada doa Ya Allah dan diyakini memberikan pertolongan. Sebaliknya, ketika seseorang memberi salam kepada orang lain dengan membuka telapak dan menghadapkannya ke wajah orang itu sambil berkata khams fi ‘ainak, “5 didalam matamu”, mata jahat imajiner atau yang nyata milik orang tadi menjadi tidak berpengaruh. Gerak membuka tangan dan menghadapkannya ke wajah orang lain, atau kata sederhana khams, “lima” dianggap sebagai sebuah kutukan yang sangat ampuh. Oleh karena itu, dalam bahasa Arab lisan, angka 5 kadang-kadang diekspresikan dengan kata atau bentuk yang lain agar kutukan itu tidak berlaku.

Sesungguhnya, pentagram lebih tersebar luas dibandingkan dengan tanda telapak tangan itu. Pentagram dipakai sebagai azimat di Timur Dekat di zaman kuno, di mana Dewi Ibu, Ishtar, dipercaya melindungi manusia dari ruh-ruh jahat. Kita bisa menjumpai tanda itu di dinding-dinding gereja yang dibuat dalam kurun Abad Pertengahan, di mana pentagram digunakan untuk melindungi rumah Tuhan dari setan atau menangkal jembalang-jembalang yang pernah dipuja, sebagai penguasa yang baik, bersama dengan dewi Perchra di Jerman. Dalam praktik sihir, menurut Paracelsus, pentagram dianggap sebagai simbol mikrokosmos. Seorang ahli sihir Prancis terkemuka abad ke19, Abbe Constant, yang menyebut dirinya sendiri Eliphas Levy, mempelajari pentagram secara teliti. Untuk digunakan secara pribadi, ia menyebutnya sebagai “pentagram yang disempurnakan secara ilmiah”, yang dibingkai bukan oleh garis-garis sederhana, melainkan oleh serangkaian simbol astrologis dan kata kabalistik. Di 5 tepi luar terdapat kata tetragrammaton, “dengan empat huruf” yang menunjuk transkripsi nama Tuhan dalam bahasa Ibrani: YHWH.

Dalam pandangan Constant, pentagram mengekspresikan kekuasaan ruh atas unsur-unsur materi dan bisa dipakai untuk mengikat ruh-ruh jahat udara, api dan air serta makhluk-makhluk halus yang berkaitan dengan tanah. Pentagram sering digunakan dalam praktik-praktik kabalistik dan sihir modern, khususnya sebagai simbol mikrokosmos. Agrippa von Nettesheim, seorang fisikawan, filosof, dan ahli ilmu gaib Jerman abad ke-16, menunjukkan bahwa ketika seseorang berdiri tegak di atas kaki mengangkang dan tangan melebar agak ke bawah, ekstremitas-ekstremitasnya akan memotong sebuah lingkaran utuh, bukannya membentuk 5 titik pentagram. Gambar manusia di dalam lingkaran semacam ini, yang sering ditambahi dengan simbol-simbol planet dan tanda penting lain, banyak dijumpai dalam kebudayaan Abad Pertengahan dan Renaisans.

Manusia tersusun atas 4 unsur dilengkapi dengan sebuah unsur kelima yang rahasia (quinta essentia) untuk menjadikannya 5 yang suci. Quinta essentia, inti-sari kita, dipandang sebagai unsur kehidupan yang nyata dan menghasilkan sesuatu yang diinginkan oleh para alkemis Abad Pertengahan. Untuk menemukan prinsip kehidupan dan mencegah kematian, manusia harus mengandalkan prokreasi dan Eros; quinta essentia itu berasal dari kemampuan pemberi hidup purba Dewi Ibu yang terus-menerus memperbarui kehidupan. Dan bangsa India mempunyai dewa cinta, Kama, dengan 5 anak panahnya yang terbuat dari bunga, seperti yang dikisahkan secara jelas dalam drama-drama religius, misalnya Gitagovinda.

Para teolog Kristen pada abad-abad awal Masehi menginterpretasikan angka 5 secara berbeda. Mereka melihat angka 5 bukan hanya representasi dari Kitab Pentateukh, tetapi juga 5 luka Kristus, dan mereka berpikiran bahwa angka ini berasal dari 3 + 2, yakni iman pada Trinitas dan dua perintah untuk mencintai Tuhan dan mengasihi tetangga. Dalam Against the Heretics, Irenaeus melangkah terlalu jauh dengan menuduh para ahli gnostik kurang memperhatikan angka 5, padahal fakta menunjukkan bahwa kata soter (juru selamat) dan pater (pendeta) masing-masing tersusun dari 5 huruf. Dalam Alkitab dikisahkan, Tuhan memberi makan 5000 orang dengan 5 kotak roti; salib juga memiliki 5 titik utama dan 5 jari serta panca-indera memberi kesaksian atas tindakan Tuhan. Sekalipun demikian, agaknya hubungan antara 5 gadis yang arif dan 5 gadis bodoh dengan angka Ishtar tidak dikupas oleh para teolog.

Tradisi religius lain yang memandang 5 sebagai angka yang sangat penting adalah Islam. Selain 5 Rukun Islam (yakni syahadat, shalat, puasa di bulan Ramadhan, zakat, dan haji ke Makkah), shalat dilakukan 5 kali sehari, dan kategori-kategori dalam fiqih Islam berjumlah 5: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Harta rampasan perang dibagi menjadi 5 bagian. Sebelumnya kita telah menyinggung panjtan, 5 orang yang hidup di bawah naungan keluarga Muhammad dan nama-nama mereka dipakai sebagai azimat; ada pula panj piriya, 5 orang Islam India yang bijak dan misterius. Ikhwan ash-Shafa (Persaudaraan Suci) Syiah pada abad ke-10 di Bashrah secara eksplisit menyatakan bahwa Islam dibangun di atas 5 dasar—bukan hanya di atas 5 Rukun Islam dan panjtan, tetapi juga di atas 5 nabi pembawa syariat (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad) dan diatas kata-kata misterius dan terpisah yang jumlahnya tidak lebih dari 5 huruf yang ada diawal beberapa surah Alquran. Ide-ide tradisional tentang 5 planet, 5 hari tambahan, dan 5 bentuk geometrik juga dipakai oleh para filosof Ikhwan ash-Shafa sebagai bukti atas pentingnya bilangan 5. Sebelum Ikhwan ash-Shafa, atau mungkin kira-kira pada abad yang sama, seorang filosof dan ahli kimia Arab, Jabir ibn Hayyan, mengikuti pentad-pentad filosofis Yunani dan 5 benda platonik serta ajaran Empedocles, yang menyebut materia prima, kecerdasan, jiwa, alam, dan materi jasmaniah. Jabir sendiri membagi dunia makhluk menjadi zat, materi, bentuk, waktu, dan ruang. Seorang filosof Muslim sebelumnya, al-Kindi, yang dikenal sebagai “filsuf bangsa Arab” telah mendalilkan sebuah pentad yang terdiri dari materi, bentuk, gerak, ruang, dan waktu.

Angka 5 juga mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam sebuah teks filsafat proto-Isma’ili, Umm al-kitab (“Induk Kitab”), yang mungkin dipengaruhi oleh spekulasi-spekulasi gnostik dan Manichaean tentang kelompok-kelompok 5 makhluk spiritual. Umm al-kitab dimulai dengan 5 cahaya yang masing-masing mempunyai 5 warna; setiap warna berkaitan dengan sebuah panjtan. Ada 5 malaikat penting, yakni Mika’il, Jibril, Izra’il dan Nakir yang bertalian dengan 5 kemampuan spiritual. Makna mistis-magis kuno angka 5 (yang ditulis oleh Bachofen secara sangat ekstensif dalam karyanya tentang masyarakat matriarkhal) dan fungsi azimat pentagram masih berlaku dalam adat-istiadat masyarakat. Jika remah-remah roti diletakkan di atas meja, misalnya, yang disusun membentuk sebuah tanda salib, maka dipercaya bahwa pertanyaan yang muncul ketika menyusun remah-remah itu akan terjawab secara afirmatif.

Satu buket ramuan yang berkhasiat memungkinkan pembawanya mengenal para tukang sihir dan pesulap. Dalam folklore Jerman Abad Pertengahan, akar pohon Pentasyllos mampu menjadikan orang kebal pada racun dan mengusir ruh-ruh jahat; akar ini juga merukunkan manusia. Di Thuringia bagian timur terdapat kepercayaan bahwa orang yang sakit gigi harus meludah 5 kali ke semak-semak pohon kuning dan kemudian membuat 5 simpul dengan salah satu ranting pohon itu. Setelah rantingnya kering, sakit giginya pun sembuh. Inilah contoh keterkaitan antara praktik pengobatan dan praktik sihir. Di daerah Jerman lainnya—Hassia—memanen dimulai dengan pemotongan padi oleh seorang anak berusia dibawah 5 tahun.

Sifat mengganggu, magis, alamiah, dan erotis angka 5 yang sejalan dengan kekuatan feminin yang membahayakan sekaligus melindungi, ditangkap dengan baik oleh John Donne dalam puisinya The Primrose (Bunga Mawar):

Bunga Mawar, hidup dan lalu tumbuhlah

Dengan angka lima yang sebenarnya,

Dan perempuan-perempuan, yang dilukiskan oleh bunga ini

Dengan angka misterius itu sebagai isinya.

Sepuluh adalah angka terjauh; jika setengahnya

Adalah milik setiap perempuan,

Maka setiap perempuan harus mengambil setengah lainnya dari pria,

Atau jika ini tidak mengutuhkannya,

karena semua angka adalah ganjil,

Atau bahkan, (saat) mereka seketika menjumpai lima,

Mereka boleh mengambil kami seluruhnya.

Pembuktian atas peran kaum perempuan di atas merupakan sebuah fenomena besar, sejak dari 5 gadis arif dan 5 gadis bodoh dalam Kitab Injil hingga parfum Chanel No. 5 yang laris.

ANGKA PARA PENOLONG (14)

A bends wenn ich schlafen geh,

vierzehn Englein mit mir stehn…

(Tatkala malam aku beranjak ke pembaringan,

empat belas malaikat menjagaku …)

Angka-angka besar sering mempunyai makna yang lebih mendalam bila dikaitkan dengan angka-angka pembaginya. Dengan menelusuri kelipatan dari sebuah angka keberuntungan, misalnya, para ahli tafsir mempunyai beragam cara untuk menginterpretasikan kelipatan angka tersebut sesuai dengan tujuan-tujuan mereka, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Meyer dan lainnya secara sangat mendetail. Sebagian angka ini memperoleh nilai penting dari hubungannya dengan siklus bulan; sebagian lainnya merupakan pembagi atau kelipatan dari angka-angka yang diturunkan dari 360 derajat lingkaran.

Di antara angka-angka bulan yang penting, angka 14 mempunyai daya tarik tersendiri, karena bulan merekah selama 14 hari hingga mencapai purnama penuh. Di Babilonia terdapat 14 dewa yang mengusir Nergal kembali ke dunia rendah selama hari-hari ketika bulan menyusut; tetapi kita juga dapat menginterpretasikan 14 sebagai duplikasi dari 7 pintu akhirat. Barangkali sekelompok 14 santa penolong—Nothelfer yang dikenal dalam kesalihan Katolik—pun berasal dari tradisi tersebut. Apa pun asalnya, ketaatan pada santa-santa ini mendorong orang-orang yang salih untuk membangun sebuah gereja barok yang indah, Vierzehnheiligen (14 santa), di Franconia bagian utara, serta kapel-kapel dan gereja-gereja lainnya. Empat belas penolong atau 14 santa—dalam hal ini 7 x 2—merupakan simbol keramahtamahan yang berpadu dengan nalar, serta simbol pertolongan dalam keadaan-keadaan berbahaya.

Di Mesir 14 dimaknai secara lain, di mana dewa Osiris yang baik hati, menurut mitos, dipotong-potong menjadi 14 bagian, dan setiap bagiannya membawa berkah bagi tanah yang menjadi makamnya. Di dalam Islam sebagai agama yang sangat menghargai simbolisme bulan, angka 14 mempunyai kedudukan yang khusus. Sekali lagi, kontribusi pokok bagi interpretasi eksoteriknya berasal dari Ikhwan ashShafa. Empat belas bukan hanya setengah dari 28, yakni jumlah bagian dari bulan dan huruf Arab, tetapi juga tercermin dalam 14 bagian tangan manusia dan 14 ruas tulang punggung atas dan bawah. Bahkan alfabet Arab terdiri dari apa yang disebut 14 huruf matahari dan 14 huruf bulan, serta 14 huruf dengan tanda diakritik dan 14 huruf tanpa tanda diakritik. Pertimbangan dalam penempatan jumlah 14 itu mempunyai peran penting dalam interpretasi mistis atas huruf-huruf itu sebagaimana hasil elaborasi pada abad ke-14 oleh kaum Hurufi, yang mengkombinasikan mistisisme huruf dan angka dengan bagian-bagian wajah dan tubuh manusia, sehingga diketahui, misalnya, bahwa kata yad (tangan) dan wajh (wajah) memiliki nilai numerik 14.

Yang mengherankan adalah bahwa spekulasi-spekulasi seperti ini tidak berlaku untuk Nabi Muhammad. Sebenarnya, salah satu namanya, Thaha, mempunyai nilai numerik 14 dan mengacu pada fakta bahwa ia yang penampilannya berseri-seri seperti bulan purnama muncul di kegelapan malam dunia ini sebagai cahaya beserta keindahan spiritual dan jasmaniahnya yang sempurna. Dalam tradisi Islam, 14 juga dihubungkan dengan keindahan: 14 tahun adalah usia remaja yang sangat indah dengan wajah tanpa noda, laiknya bulan purnama yang dilukiskan oleh seorang penyair Arab Abad Pertengahan dengan kata-kata indah: laksana rembulan 7 ditambah 7 dan 7 tempat serta 7 langit bersujud di hadapannya.

ANGKA BULAN SEPENGGALAH (15)

Lima belas menggambarkan zenit (puncak) kekuatan bulan, dan hubungan angka ini dengan bulan dapat diketahui dari nama salah satu fase bulan dalam bahasa Jerman kuno Mandel, “bulan kecil, bagian dari bulan,” yang berisikan 15 bagian seperti telur atau barang-barang kecil lainnya.

Angka 15 juga mempunyai makna matematis dan religius penting sebagai jumlah dari 5 angka bulat pertama dan hasil perkalian dari dua angka sakral, yakni 3 x 5. Lima belas adalah angka sakral bagi Ishtar, yang mungkin berasal dari angka Ishtar yang lebih penting, yaitu 5, atau mungkin juga karena 15 adalah 1/4 dari 60, angka dewa langit tertinggi di Babilonia. Niniveh kuno, kota yang tunduk pada Ishtar, memiliki 15 pintu gerbang, dan jumlah pendeta yang melayani Ibu Ida Agung, yang tidak lain adalah Ishtar itu sendiri, sebanyak 15.

Barangkali 15 adalah jumlah pendeta dan Babilonia yang mengikuti tradisi Romawi, dan di Roma kuno quindecimviri—15 orang pilihan—diizinkan untuk membaca dan menginterpretasikan buku-buku suci Sibylline. Fakta bahwa tasbih dalam agama Kristen dipakai untuk merenungkan 15 misteri yang berkaitan dengan kehidupan Maria mungkin berasal dari jumlah dewi dan santa perempuan kuno, mulai dari Ishtar dan Venus sampai Maria.

Kitab Perjanjian Lama menyebut kehidupan 15 generasi Israel di antara Ibrahim dan Sulaiman, dan dari Sulaiman sampai Zakariyya juga terdapat 15 generasi. Jumlah ini pasti mencerminkan mitos bulan kuno, karena Sulaiman mempunyai keterkaitan dengan bulan purnama yang terang-benderang dan Zakariyya yang buta dengan bulan gelap. Lima belas mempunyai peran penting dalam salah satu kotak magis paling terkenal yang baris atau kolomnya—mengitari angka sakral 5—selalu berjumlah 15. Meskipun legenda menunjukkan kotak ini berasal dari Cina, bangsa Babilonia menganggapnya berasal dari Ishtar. Jika ditambah dengan bintang Ishtar yang memancarkan 8 cahaya, jumlah angka diagonalnya menjadi 15.

ANGKA PRIMORDIAL (1)

Gleich wie die Einheit ist in einer jeden Zahl

So ist auch Gott der Ein’ in Dingen uberall

(Hanya karena keesaan berada di setiap angka,

maka Tuhan Yang Mahaesa ada di mana-mana dalam segala sesuatu)

—Angelus Silesius

Satu merembes ke setiap angka. Satu adalah ukuran umum bagi semua angka. Satu mengandung semua angka yang disatukan dalam dirinya, tetapi mementahkan perkalian. Satu selamanya sama dan tidak berubah. Itulah sebabnya satu mempertahankan dirinya sebagai hasil dari perkalian dengan dirinya sendiri. Meskipun tidak mempunyai bagian, satu bisa dibagi. Akan tetapi—bila dibagi—satu tidak menjadi bagian-bagiannya, melainkan menjadi unit-unit baru. Di antara unit-unit ini tidak ada yang lebih besar atau kecil daripada keseluruhan unit, dan setiap unit terkecil lagi-lagi tercakup dalam keseluruhannya. Itulah gambaran tentang sifat-sifat angka satu mistis ini yang ditulis oleh seorang mistikus Jerman Abad Pertengahan—Agrippa dari Nettesheim—sekira tahun 1500. Secara matematis pandangan itu tidak seluruhnya benar, tetapi menunjukkan pentingnya angka 1 dalam tradisi-tradisi religius.

Satu, yang dalam geometri digambarkan dengan titik, tidak dianggap oleh para Pythagorean dan pemikir yang berada di bawah pengaruhnya sebagai bilangan nyata, karena apa yang dinamakan bilangan adalah agregat yang tersusun dari unit-unit, sebagaimana kata Euclid. Kobel menulis pada 1537, “Dari sini Anda mengerti bahwa 1 bukan sebuah bilangan, melainkan penghasil (atau ‘ibu’ ), permulaan, dan dasar dari semua angka lainnya”. Karena 1 menjadi asal-mula pertama dari seluruh angka, dan sekalipun merupakan angka ganjil, angka ini dipandang sebagai bersifat maskulin dan feminin, meskipun lebih dekat pada sifat maskulin. Bila ditambahkan pada sebuah angka maskulin, 1 menghasilkan sebuah angka feminin, dan sebaliknya: 3 + 1 = 4, 4 + 1 = 5.

Satu menjadi simbol dari Satu primordial, Esa yang tiada duanya, Eksistensi yang tidak mempunyai lawan. Satu tersusun atas hubungan, keseluruhan, dan keesaan, dan bersandar pada dirinya sendiri tetapi berada di balik semua eksistensi makhluk. Namun demikian, Keesaan yang sesungguhnya tidak bisa dipahami karena begitu sebuah diri memikirkan dirinya muncullah sebuah dualitas: yang mengamati dan yang diamati. Dan polaritas ini adalah tanda pengenal yang penting: apa pun yang mempunyai atribut hanya bisa dikenali dengan polaritas. Besar dan kecil, tinggi dan rendah, masam dan manis—seluruh sifat semacam ini berhubungan dengan sebuah sistem penata. Sementara itu, Tuhan tidak mempunyai lawan (polaritas); Tuhan adalah wujud absolut yang tidak berhubungan dengan sistem penata apa pun. Oleh karenanya, para mistikus berusaha mendekati puncak Keesaan yang melampaui manifestasi-manifestasi tersebut, deus absconditus yang melampaui deus revelatus, dengan menafikan negasi-negasinya, dan melafalkan—sebagaimana dalam Upanishad—neti-neti (“bukan-bukan”), atau dalam Cabala, Ein Sof (“tanpa akhir”), yang kemudian puncak Keesaan itu akan menyingkapkan diri dalam lapis-lapis manifestasi turunan-Nya. Dalam Islam, orang yang benar-benar beriman dihantui oleh pertanyaan sebagai berikut: Dapatkah manusia sungguh-sungguh mengucapkan kalimat syahadat—“Tidak ada Tuhan selain Allah”—tanpa melakukan dosa besar syirk, yakni menyekutukan-Nya dengan sesuatu? Sufi-sufi paling radikal menyatakan bahwa hanya setelah seorang hamba meniadakan diri sepenuhnya dalam Kesucian, Allah sendirilah yang akan menyatakan, dengan mulut-Nya, pengakuan atas Keesaan-Nya sendiri.

Pandangan-pandangan mistis semacam itu dikenal luas dalam tradisi India kuno, yang mengklaim bahwa asas primordial dan berdaya tembus ke segala sesuatu adalah yang Esa tanpa ada duanya. Dan kata-kata serupa diucapkan oleh Plotinus—pemikir Neoplatonik paling

berpengaruh pada masa kuno akhir—yang ide-idenya menjadi dasar bagi perkembangan mistisisme dalam tradisi Yahudi, Kristen dan Islam. Baginya, Tuhan Esa melampaui semua bentuk, karena bentuk-bentuk selalu berarti keanekaragaman. Karena setiap keanekaragaman merupakan sebuah keanekaragaman dan keesaan-keesaan, keanekaragaman memisalkan keesaan itu sendiri. Dan karena Tuhan adalah asal-mula dan persangkaan dari segala sesuatu, Dia adalah Keesaan absolut. Kepercayaan Cina kuno mempunyai ide-ide serupa tentang angka 1, yang merepresentasikan Yang Semua, Yang Sempurna, Yang Mutlak yang melampaui seluruh polaritas. Satu adalah simbol ideal dari Tuhan karena Tuhan adalah ruh dan, dengan sendirinya, tidak mempunyai sifat-sifat material, yang melekat pada keanekaragaman. Angka 1 tidak mempunyai lawan, dan bahkan prinsip negatif yang tampaknya bertentangan dengan Ketuhanan, pada akhirnya akan batal atau menyatu dengan Keesaan. Sebagaimana angka 1, Tuhan adalah Satu Absolut serta Satu yang khas wujud-Nya.

Para pemikir Upanishad India berusaha mencari Keesaan dibalik beragam manifestasi yang dianggap sebagai sekadar penampakan, cara bertindak, atau bahkan fantasi yang menipu di hadapan yang Esa, atau sebagai permainan mengasyikkan yang menutupi Keesaan esensial. “Para penyair menyebut Yang Esa, satu-satunya, dengan kata-kata ‘pipa bermulut banyak’. Satu adalah api yang menyala dalam banyak sekali bentuk. Satu adalah matahari yang menerangi dunia”, kata seorang pendeta India. Penyair-orientalis jerman, Rueckert, mengungkapkan ide-ide serupa dalam puisi didaktiknya, Die Weisheit des Brahmanen (Kearifan Sang Brahman), yang menyadur kalimat terakhir dari Alquran surah al-Ikhlas (112) yang secara ringkas menunjukkan keesaan Tuhan:

So wahr als aus der Eins die Zahlenreihe fliesst

So wahr ays einem Keim des Baumes Krone spriesst,

So wahr erkennest du, dass der ist einzig Einer,

Aus welchem alles ist, and gleich ihm ewig keiner.

(Sebenar-benarnya untaian bilangan berawal dari satu,

Sebenar-benarnya mahkota daun sebuah pohon tumbuh dari sebenih biji,

Sebenar-benarnya pengetahuanmu adalah bahwa Dia adalah esa dan istimewa,

Dia, yang menciptakan segala sesuatu dan tidak ada yang menyamai atau abadi seperti-Nya.)

Mencapai Keesaan yang tersembunyi dibalik beraneka ragam manifestasi dan mengidentikkan diri dengan-Nya adalah tujuan dari mistisisme, sebagaimana ungkapan klasik dalam Upanishad: aham brahmasmi, “Aku adalah Brahma”. Namun, disamping monoteisme mistis inklusif ini, ada juga monoteisme lain yang bersifat “profetik” atau eksklusif. Monoteisme yang disebut terakhir ini adalah bentuk keberagamaan yang secara sangat jelas terlihat dalam Yahudi dan Islam (kaum monoteis yang sangat keras memandang agama Kristen—beserta doktrin Trinitasnya—bukan sebagai monoteisme sejati). Monoteisme seperti ini kemungkinan berasal dari henoteisme, yakni pemujaan kepada satu dewa khusus yang lebih tinggi dari dewa-dewa lainnya dan lebih dipuja daripada lainnya oleh hamba-hambanya.

Namun, Yahweh Taurat mengajarkan kepada para nabi-Nya bahwa Dia yang Esa adalah satu-satunya Tuhan, Tuhan yang tidak mengampuni penyembahan kepada selain Dirinya. Sama halnya, pengakuan iman Islam menegaskan bahwa “Tidak ada tuhan selain Allah” dan “Tuhan” disini dapat diinterpretasikan sebagai segala sesuatu yang membelokkan manusia dari kepasrahan mutlak kepada Sang Pencipta, Sang Pemelihara, dan Sang Hakim. Yang jelas, dalam Yahudi dan Islam berkembang kesalihan yang lebih mistis dan inklusif, yang bisa dipelajari dalam Cabala (Yahudi) di satu sisi dan dalam tradisi sufi (Islam) di sisi lain (khususnya dalam mazhab Ibn ‘Arabi). Keduanya sama-sama menunjukkan kecenderungan Neoplatonik. Pada titik ini, pernyataan yang tegas dan jelas bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah” bisa diungkapkan dengan formula “Tak ada sesuatu apa pun selain Allah”, dan penciptaan dari ketiadaan oleh kata penciptaan Allah diinterpretasikan sebagai ajaran misterius tentang emanasi dari Yang Mahaesa.

Monoteisme profetik tidak terbatas pada kaum Semitik. Pada abad ke-14 S.M., penguasa Mesir—Amenhotep IV—mempermaklumkan kepercayaan monoteistik yang berpegang pada matahari sebagai dewa utamanya. Namun, pendapat bahwa urmonotheism mendahului semua bentuk keagamaan lainnya tidak bisa dipertahankan lagi, betapapun banyak bukti material tentangnya dikumpulkan oleh seorang tokoh pembelanya—Pater Wilhelm Schmidt.

Agama Kristen, meski dipandang dengan perasaan curiga oleh agama-agama monoteistik yang tegas—yakni Yahudi dan Islam—sesungguhnya tetap menomorsatukan Yang Mahaesa. Kutipan dari Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus (4:5) dalam Perjanjian Baru menjelaskan tentang, “Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah, dan Bapa dari semua”. Dan sebagaimana kata Romo Bede, sebuah gereja di Yerusalem melambangkan sebuah rumah abadi bagi semua yang mengimaninya.

Seorang mistikus Protestan Jerman—Valentin Weigel—menyebut misteri angka 1 sebagai angka dewa dengan suatu ungkapan yang indah, “Satu adalah sebuah kesimpulan dan konsep dari semua angka, 2, 3, 5, 10, 100, 1000. Karenanya, Anda bisa mengatakan bahwa 1 adalah seluruh angka complicite—yang tergulung—dan 2, 3, 5, 10, 100, 1000 tidak lain hanyalah hamparannya. Saya mengibaratkan Tuhan dengan angka pertama ini dan makhluk dengan angka-angka lain karena Tuhan adalah satu dan karena makhluk dengan sendirinya bersifat ganda atau mempunyai dua aspek—satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Tuhan”.

Bagi para mistikus Islam, nilai numerik 1 untuk huruf alif, huruf pertama dalam alfabet Arab, dan huruf pertama dalam nama Allah, secara menakjubkan menawarkan peluang bagi permainan kata-kata dan kiasan untuk segala usia. Tidak cukupkah mengetahui huruf pertama dalam alfabet Arab dan nilai numeriknya, mengingat huruf ini mengandung semua kearifan dan pengetahuan? Orang yang telah mengenal dan mengetahui Tuhan Yang Mahaesa tidak memerlukan lagi selain-Nya.

ANGKA KETERATURAN MATERI (4)

Vier widerspenst ge Tiere ziehn den Weltenwagen

Du  zuegelst sie, sie sind an deinen Zauemen eines.

(Empat binatang yang gelisah menarik kereta dunia—

Kalian mengekangnya, dan keempat binatang itu

menjadi satu dalam kendali kalian.)

Kalimat-kalimat ini merupakan hasil elaborasi Rueckert atas pemikiran Rumi. Empat binatang menurut Yehezkiel dan Kitab Yohanes dikombinasikan dengan 4 unsur yang kekuatannya—termanifestasikan dalam materi ciptaan—tunduk di hadapan Tuhan Esa. Empat nyata-nyata berkaitan dengan keteraturan pertama yang dikenal di dunia dan menunjuk pada perubahan dari kehidupan liar ke suatu peradaban dengan menata beragam manifestasi yang kacau menjadi bentuk-bentuk yang teratur. Dari bukti-bukti tulisan paling kuno, tampak bahwa manusia terdahulu menjadikan 4 fase kemunculan bulan—sabit, setengah, penuh, dan ciut—sebagai pengatur waktu. Demikian juga, posisi matahari dan gerak bayangan membantu manusia untuk mengetahui arah, khususnya ketika panjang siang dan malam sama pada musim semi dan gugur. Dengan pengamatan yang teliti atas titik matahari terbit dan terbenam, khususnya pada musim semi dan gugur, 4 titik kardinal bisa diketahui. Empat penjuru dan empat angin merupakan koordinat bagi seluruh kehidupan di bumi. Kebenaran ini diakui bukan hanya dalam kosmologi Asia dan Eropa namun juga Amerika pra-Columbian. Dalam kebudayaan Maya, segala sesuatu dihubungkan dengan 4 titik kardinal, yang pada gilirannya diidentifikasikan dengan warna-warna. Titik-titik kardinal digambarkan dengan sebuah salib yang titik-titik terluarnya menyentuh 4 horison. Letak rumah dibangun sesuai dengan persegi ini: 4 jalan berasal dari pohon suci di tengah-tengah 4 penjuru mata angin, dan 4 tempat keramat di titik-titik luar diperuntukkan bagi para penjaga batas desa.

Di dalam banyak kebudayaan terdahulu, bumi digambarkan dengan persegi. Bagi orang Cina, bumi berbentuk kendaraan yang mempunyai terpal dan bentuk persegi ini mengilhami pembagian ladang, rumah, dan desa sesuai dengan prinsip fang—bujur sangkar. Dalam Injil hubungan angka 4 dan 4 penjuru mata angin diekspresikan dengan 4 malaikat atau kerubi untuk menggambarkan kekuasaan Tuhan atas seluruh dunia. Menurut pandangan Yehezkiel, ada juga 4 makhluk—manusia, singa, banteng, dan elang—yang dekat dengan singgasana Tuhan. Pada waktu-waktu selanjutnya, 4 makhluk tersebut melalui proses yang misterius dikombinasikan dengan 4 huruf nama Tuhan—YHWH, tetragammaton yang tidak boleh diucapkan.

Sementara itu, tanda salib yang terbentuk dari 4 titik kardinal dan kadang-kadang digambarkan dalam sebuah lingkaran berkembang menjadi sebuah makna keagamaan tertentu. Di Mesir kuno salib dengan sedikit perubahan menjadi hieroglif untuk “keabadian”. Bentuk salib ini bahkan ditemukan pada batu-batu nisan Kristen awal, dan seorang pelukis Coptic modern melukiskan Golgotha dengan sebuah salib Mesir sebagai simbol kebangkitan Kristus. Seorang pemikir Neoplatonik—Porphyry—yang menemukan tanda ini di Mesir dan Yunani, menyebutnya sebagai simbol spiritual dalam kosmos. Di Eropa kuno, orang-orang Etruscan menata kota-kota dan kuil-kuilnya sesuai dengan tanda salib yang membentuk dunia. Selanjutnya, para pendeta gereja menganggap salib yang terpahat dalam sebuah bujur sangkar sebagai simbol kekuasaan salib Kristus yang luas. Oleh karenanya, St. Jerome menulis, “Ipsa species crucis, quid est nisi forma quadrata mundi”—(Dan  seperti bentuk salib ini, bukankah dunia bersegi empat?). Para pendeta gereja juga percaya bahwa nama Adam—jika ditulis dengan huruf-huruf Yunani—menunjuk nama 4 penjuru mata angin: anatole, dusis, arkto, dan mesembria, dan makanya Adam menjadi representasi mikrokosmis empat alam materi.

Keterkaitan antara salib Kristus dan 4 penjuru dunia diekspresikan dalam rancangan gereja Bizantium kuno, sebuah bujur sangkar dengan pahatan tanda salib Yunani. Empat palang salib (yang sama panjangnya) menyangga kubah sebagai lengkungan sentral gereja. Keterkaitan angka 4 dengan penjuru mata angin dan dunia juga dituangkan dalam bentuk patung-patung dewa berkepala empat. Empat kepala Brahma dan dewa-dewa India lainnya—misalnya—menyimbolkan 4 penjuru dunia. Siwa dengan 4 tangan menyimbolkan hal yang sama, dimana dalam tariannya ia menghancurkan dan menciptakan dunia kembali.

Angka 4 masih mempunyai aspek-aspek lain, tetapi hampir semuanya lagi-lagi berkaitan dengan dunia materi yang telah mapan. Namun demikian, tidak boleh dilupakan bahwa di banyak peradaban angka 4 merupakan batas-batas hitungan—satu jengkal sama dengan 4 jari, sedangkan 4 telapak tangan sama dengan satu kaki. Secara linguistik, angka-angka sebelum 4 sering diperlakukan berbeda dengan angka-angka sesudahnya, dan kelompok-kelompok angka baru atau bentuk-bentuk berhitung dimulai dengan 4. Dalam tradisi klasik, perhatian yang besar pada 4 sebagai angka ideal diekspresikan secara sangat jelas dalam ajaran-ajaran Pythagorean. Keterkaitan bilangan 4 dengan dunia materi ditunjukkan oleh fakta bahwa benda padat keempat, yaitu kubus, dipandang sebagai bersifat tanah. Maka binatang-binatang buas berkaki 4 bisa dipandang sebagai makhluk-makhluk tanah yang khas.

Angka 4 juga menawarkan sebuah bentuk geometrik yang bisa dikenali dengan jelas dan mudah. Karenanya, bentuk-bentuk tetragonal, khususnya bujur sangkar, dianggap sempurna dan lengkap. Di Inggris orang-orang masih menyebut-nyebut “manusia bujur sangkar” dan Nietzsche mempunyai gambaran manusia yang serupa ketika memvisualisasikan manusia idealnya sebagai “tubuh dan jiwa bersegiempat”. Akan tetapi, bagi kaum Pythagorean, hasil dari 1 + 2 + 3 + 4 = 10, menjadi sebuah kesatuan agung yang meliputi semua, dan 4 saling terkait erat dengan 10.

Dengan memanfaatkan ide-ide Pythagorean, para pendeta gereja dan filosof Eropa Abad Pertengahan menemukan banyak bentuk tetra, dari 4 unsur, yang lagi-lagi menjadi fungsi penata, sampai 4 watak, yang menjelaskan aneka ragam kekuatan psikologis manusia. Dalam bukunya tentang tetraktys dan dekade (10), Theon dari Smyrna menunjukkan 10 kelompok benda yang tampil berempat: angka-angka (satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan); bentuk-bentuk sederhana; gambar-gambar bentuk sederhana; makhluk-makhluk hidup; komunitas (individu, desa, kota, bangsa); kapasitas; musim dalam satu tahun; usia manusia, dan bagian-bagian dari manusia (tubuh dan 3 bagian spiritual). Sementara itu, para ahli tafsir tidak hanya menyebut 4 makhluk di singgasana Tuhan tetapi juga 4 Ajaran, untuk tidak mengatakan doktrin pembimbing tentang empat makna kitab suci dan interpretasi Injil sesuai dengan prinsip historis, alegoris, moral, dan anagogis.

Penafsiran Kristen mengandung sebuah simbol ideal untuk 4 penjuru mata angin dalam bentuk salib Kristus dengan 4 palang yang—bagi orang-orang Kristen—mengindikasikan 4 penjuru mata angin dimana Injil harus disebarkan dan juga dihubungkan dengan dimensi-dimensi spasial: panjang, lebar, tinggi, dan kedalaman. Menurut interpretasi Kristen Abad Pertengahan, 4 sungai di surga mengalir dari Musa ke 4 nabi besar yang disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama, dan dari Yesus ke 4 Ajaran. Empat sungai surga juga dikenal dalam Hinduisme; disini disebutkan bahwa sapi surgawi menghasilkan 4 pancaran susu dari 4 ambingnya. Empat sungai semacam itu merupakan sebuah aspek penting dalam Islam berkenaan dengan surga; karenanya banyak taman di Iran dan Moghul India yang dibagi menjadi 4 terusan menuju apa yang disebut charbagh (4 taman). Motif ini sering dipakai dalam mausoleum untuk menunjukkan representasi duniawi kebahagiaan surgawi.

Ikhwan ash-Shafa (Persaudaraan Suci) di Bashrah, Irak pada abad ke-10 menyandarkan diri pada ide-ide Pythagorean dan karenanya, juga menekankan pentingnya angka 4. Bukankah Tuhan sendiri telah menciptakan sebagian besar makhluk di alam semesta ini dalam bentuk tetra? Ada sifat panas dan dingin, kering dan lembab; 4 unsur; 4 humor; musim; penjuru mata angin; angin; arah dalam kaitannya dengan konstelasi; mineral, tumbuhan, binatang, dan manusia; 4 jenis angka, dan seterusnya. Dengan nada yang sama, seorang pemikir mistis Jerman abad ke-17—Erhard Weigel—mendapati bahwa dalam angka 4 terdapat einmaleins (skema matematika) ciptaan alam yang jauh lebih mudah dipahami daripada dalam sistem desimal.

Seorang pemikir patristik—Irenaeus—melangkah  lebih jauh dengan mengklaim bahwa 4 adalah angka keteraturan spasial dan temporal yang sempurna sehingga tidak mungkin ada lebih atau kurang dari 4 Injil. Yang cukup menarik adalah bahwa 4 teks suci ini tidak terbatas dalam tradisi Kristen. Di India ada 4 Veda, dan Islam mengakui Zabur, Taurat, Injil, dan Alquran sebagai 4 kitab suci. Angka 4 juga memainkan peran yang menonjol dalam praktik-praktik Islam lainnya. Seorang Muslim boleh mempunyai 4 istri. Dalam kasus zina, si pendosa harus bertobat sebanyak 4 kali (tanpa paksaan), dan 4 saksi yang jujur harus dihadirkan untuk memberikan kesaksian secara mendetail. Empat khalifah pertama sejak permulaan sejarah Islam diberi gelar “Orang-orang Yang Beroleh Bimbingan” (Rasyidin), dan dalam Islam terdapat 4 mazhab utama yang dianut kaum Muslim sampai sekarang. Bahkan dalam ajaran sufi, angka 4 mempunyai nilai penting tertentu: pendakian menuju Tuhan dibagi menjadi 4 tingkat: syari’ah (hukum Tuhan), thariqah (jalan mistis), haqiqah (kebenaran), dan terakhir marifah (pengetahuan intuitif Ilahi). Orang yang mendaki 4 tingkat itu memulainya dari nasut (alam manusia), malakut (alam malaikat), jabarut (kekuasaan Allah) sampai lahut (alam ketuhanan). Di antara kaum sufi, 4 sufi yang disebut abdal memainkan peran penting, dan kelompok-kelompok yang beranggotakan 4, 40, 400 atau 4000 orang sering disinggung dalam legenda dan hikayat. Dan menurut adat-istiadat Indo-Muslim, seorang anak harus diperkenalkan pertama kali dengan kata-kata dalam Alquran pada usia 4 tahun, 4 bulan, 4 hari.

Angka 4 juga meliputi pandangan dunia kabalistik. Sebenarnya, seperti telah disebutkan sebelumnya, alam semesta ini dibagi menjadi 4 bagian: atsilut (alam emanasi), beriah (alam penciptaan) , yetsirah (alam pembentukan), dan asiyah (alam benda kasat mata). Demikian pula, 4 sefirot yang memancar dari sefirah binah memegang peran penting dan—menurut Zohar—bertalian dengan 4 penjuru mata angin. Empat bagian alam semesta ini dihubungkan dengan 4 warna dalam tarotAbad Pertengahan, yakni sebuah permainan yang berasal dari Mesir tetapi dielaborasi secara khusus di lingkungan Cabalistik. Segepok kartu tarot berisikan 4 warna: hitam, putih, merah, dan hijau. Tampaknya konsep 4 sebagai satuan numerik dan simbol dunia beserta keteraturannya sangat populer di zaman kuno dan Abad Pertengahan. Empat dewi kemenangan di kaki patung Zeus milik Phidias menggambarkan kemenangan atas seluruh dunia materi.

Angka 4 bukan hanya menjadi angka keteraturan spasial tetapi juga angka keteraturan temporal. Hesiod adalah salah seorang pemikir pertama yang dikenal berbicara tentang 4 zaman dunia yang—setelah zaman pertama selama 4800 tahun—akan menyusut sampai zaman keempat selama 1200 tahun. Tradisi India mengenal 4 tahap perkembangan dunia yang serupa, dari Zaman Keemasan sampai terakhir Zaman Besi yang jahat—Kaliyuga. Dalam Zoroastrianisme juga dikenal adanya 4 zaman, tetapi panjangnya sama, 3000 tahun. Pada tingkat yang lebih individual, masyarakat India mengakui adanya 4 tahap dalam kehidupan manusia, yang berpuncak pada periode keempat dengan menjadi seorang pertapa—yang tidak mempunyai apa pun. Kabir, penyair mistis India abad ke-15 yang mengkritik umat Hindu dan Islam, mengeluh bahwa berjuta-juta orang mencari 3 hal, tetapi tidak ada seorang pun yang mencari hal ke-4. Tiga hal itu adalah tujuan eksistensi manusia normal, yaitu artha (kekayaan), kama (kenikmatan inderawi), dan dharma (perilaku yang baik), tetapi tujuan yang paling mulia adalah moksha (terbebas dari aktivitas kehidupan fana). Dalam semua tradisi diatas, yang agaknya menjadi sebuah warisan bersama bangsa Indo-Eropa, yakni nilai penting bilangan 3, 4, dan 12, bisa dikenali dengan mudah.

Sejumlah orang Indian Amerika Utara, termasuk Zuni, Dakota, dan Sioux, juga memandang 4 sebagai angka sentral dalam sistem mereka. Mereka mengenal pengulangan 4 kali, 4 pembagian tahun kehidupan manusia, 4 kelompok binatang, dan klasifikasi benda-benda langit menjadi kelompok-kelompok yang beranggotakan 4. Angka ini masih memainkan peran dalam kehidupan Maya modern di Tucatan: manusia diwajibkan bekerja di sawah yang ditata menurut titik-titik kardinal, dan mereka melaksanakan upacara khusus untuk mengenalkan seorang anak pada komunitasnya pada usia 4 bulan.

Dengan sifat keteraturannya, angka 4 senantiasa penting untuk kehidupan praktis, baik bagi orang-orang Kymrien kuno yang membagi tanahnya menjadi 4 bagian atau berkelipatan 4, atau bagi orang-orang Romawi Gallia dimana setiap civitas (masyarakat kota) mempunyai quatroviri, sebuah badan pemerintah yang terdiri dari 4 orang. Kota-kota di Italia pada Abad Pertengahan juga mempunyai 4 konsul. Pemerintahan Romawi diambil alih oleh Charlemagne dan kemudian ditegakkan dengan aturan-aturan istana yang dipimpin oleh 4 menteri: menteri rumah tangga kerajaan, menteri pertahanan, penegak keadilan, dan pelayan minuman dan makanan istana (Mundschenk). Kesultanan Ottoman juga mempunyai 4 pejabat inti dalam pemerintahan: wazir, qadiasker (hakim yang terutama menangani kasus-kasus militer), defterdar (pengurus keuangan), dan nishanji (penanggungjawab penandatanganan dokumen-dokumen kerajaan). Dalam sistem Hindu terdapat 4 kasta yang disebut varna (warna): brahmana, ksatria, vaisa, dan sudra. Di Cina terdapat 4 kelompok manusia, dan kaum cerdik pandai direpresentasikan dengan 4 lencana seni: gitar untuk musik, papan catur untuk permainan logika, buku untuk kesusastraan, dan gambar. Penghargaan pada angka 4 sebagai penata dunia sedemikian tinggi sehingga di universitas-universitas Paris Abad Pertengahan dan universitas-universitas awal lainnya pengajar dan para murid diklasifikasikan menjadi 4 “bangsa”—Prancis, Inggris, Jerman, dan Norman—dan mahasiswa dari negara-negara lain digolongkan ke dalam salah satu dari 4 bangsa itu (yakni, mahasiswa dari negara-negara Timur digolongkan ke Prancis, sedangkan Belanda ke Jerman).

Semenjak dunia ini dibayangkan berbentuk segi empat, sebuah kota juga dibangun dengan bentuk segi empat. Konstruksi kota-kota yang berbentuk segi empat berasal dari zaman klasik. Hal ini bisa kita lihat dari reruntuhan Moenjo-Daro di lembah Indus. Pada awal milenium ke-3 S.M., kota ini dibangun dalam bentuk persegi sempurna. Kota lain yang serupa dibangun pada awal milenium ke-2 Hijriah (1591 M), yakni Hyderabad (Deccan) di India bagian selatan. Kota ini dibangun mengelilingi sebuah pusat yang berupa Char Minar, bangunan kubus yang sangat besar dengan 4 menara tinggi, dan diperluas menjadi 4 bagian kerajaan dan perdagangan. Roma juga disebut “Roma quadrata” karena bentuknya yang persegi empat. Dengan demikian, persegi menjadi simbol tempat tinggal dan pusat masyarakat sipil, sekalipun banyak “persegi” sekarang ini justru dipahami sebagai apa pun selain yang bersegi empat. Namun, di kota-kota Abad Pertengahan di Eropa bagian tengah dan timur, kota yang berbentuk persegi tetap sepenuhnya mempertahankan bentuk lamanya. Kata “perempat” (Stadviertel) mengingatkan akan pembagian kota era zaman kuno menjadi 4 daerah utama.

Istilah-istilah modern lain yang berasal dari pembagian empat adalah Quartier, kata dalam bahasa Jerman yang berarti tempat kediaman, dan Quartal,juga kata dalam bahasa Jerman yang berarti periode 3 bulan (1/4 tahun), juga quadra (istilah militer dalam bahasa Romawi) menjadi squadron (Jerman Geschwader) dan quaterna menjadi—meski dalam bahasa Italia caternocahier, “buku catatan” dalam bahasa Prancis. Ada juga quire—4 lembar kertas—yang masing-masingnya dilipat 4 kali (sehingga menjadi 16 halaman). Angka 4 muncul dalam hukum Abad Pertengahan dan zaman sekarang. Dalam Lex salica, seseorang yang dituduh sebagai pembunuh harus melempari bumi dari 4 sudut rumah di 4 penjuru. Jika tidak bisa membayar denda karena membunuh, ia harus disidang sebanyak 4 kali dan jika tidak ada orang yang memberi jaminan, akhirnya ia dieksekusi.

Karena 4 merupakan angka yang sangat “material” dan praktis, angka ini jarang dijumpai dalam adat-istiadat takhayul, kecuali daun semanggi berhelai 4, yang dianggap membawa keberuntungan, mungkin karena sangat jarang dijumpai. Dalam adat-istiadat Jerman kuno, pada malam Epifani, gadis-gadis akan menanam ubi-ubian di keempat sudut rumah. Setiap ubi diberi nama manusia, dan ubi yang pertama tumbuh tunas dipercaya menunjukkan calon suaminya.

Dalam tradisi Kristen, ada empat penginjil utama: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sementara dalam  adat-istiadat Persia dan Turki angka 4 juga mempunyai beberapa ungkapan populer, terutama pengulangan sebagai penekanan: orang menangkap dengan 4 tangan atau melihat dengan 4 mata, yang berarti bahwa ia melakukan sesuatu dengan energi penuh atau melihat dengan penuh hasrat dan hati-hati. “Sizi dort gozle bekledim” (Aku menunggumu dengan 4 mata) berarti  “Aku telah menunggumu dengan tidak sabar”. Tetapi, di Cina dua kata homofon she (4) dan shi (kematian) menjadi alasan untuk menghindari angka 4 (sebagaimana 13 sering dihindari di Barat).

Kitab Suci mengisahkan 4 penunggang kuda apokaliptik yang berwarna-warni kudanya. Empat penunggang kuda tersebut hendak menghancurkan dunia ketika mereka menuju 4 penjuru dunia dengan hanya menyisakan dunia spiritual yang tetap utuh. Dengan berakhirnya dunia materi, maka tidak diperlukan lagi kekuatan penata angka 4. Masih ada cara lain untuk melihat angka 4. C. G. Jung menegaskan pentingnya bilangan ini karena dia merasakan bahwa kekuatan penatanya diperlukan untuk melawan perkembangan kaotik di Jerman dalam rangka menciptakan sebuah tatanan yang baru dan positif di dunia ini. Menurut pendapatnya, arketip perempatan akan mencegah arketip Wodan—yang bersekutu dengan setan selamanya. Mandala—citra kuno tatanan spiritual dengan 4 titik kardinalnya—bagi Jung merupakan simbol ideal dari kekuatan penata yang berusaha mentransendensikan pendekatan trinitarian umum terhadap dunia ini. Oleh karena itu, seorang teolog Katolik—Victor White—secara berkelakar menulis dalam bukunya, Soul and Psyche, “Jung telah menyikapi angka 4 sebagaimana Freud melakukannya pada seks”. Artinya, ia memberikan fungsi psikologis dasar pada angka 4.

PILAR-PILAR KEARIFAN (7)

Die Planeten haben alle sieben

die metallnen Tore aufgetan

(Ketujuh planet telah

membuka pintu-pintu bajanya.)

Goethe—West-Ostlicher Divan

Angka 7 telah mempesona manusia sejak zaman dahulu kala. Dalam sebuah studi yang berjudul Seven: The Number of Creation, Desmond Varley berusaha, sebagaimana dilakukan banyak sarjana lain sebelumnya, meringkas segala sesuatu di dunia nyata ini menjadi angka 7. Sebenarnya, dunia ini tersusun atas tiga prinsip kreatif (intelek aktif, bawahsadar pasif, dan kekuatan penata dan kerja sama) dan empat materi yang mencakup 4 unsur dan kekuatan sensual yang selaras (udara = kecerdasan; api = kehendak; air = emosi; tanah = moral). Pembagian 7 menjadi dua prinsip penyusun ini, yakni 3 spiritual dan 4 material, telah dilakukan sejak zaman dahulu dan dipakai dalam hermeneutik Abad Pertengahan serta merupakan dasar pembagian 7 seni liberal menjadi trivium dan quadrivium.

Ada buku lain—ditulis pada akhir abad ke-18—yang menyebut bahwa periodisasi selalu berkaitan dengan 7, entah dalam musik—satu  oktaf terdiri dari 7 not—atau dalam susunan unsur kimia. Untuk mendukung pernyataan ini, penulisnya mengutip pandangan kuno yang mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia berlangsung dalam periode 7 dan 9. Tujuh usia manusia—kata Shakespeare—telah dikenal sejak zaman dahulu, dan dalam sebuah buku Pseudo-Hippokratik 7 disebut angka struktur kosmis: penulisnya mengatakan bahwa angka ini menimbulkan angin, musim, usia manusia, dan pembabakan kehidupan manusia secara alamiah. Namun sebelum penulis buku yang tidak terkenal itu, Solon telah menggunakan gugus-gugus bintang untuk membagi kehidupan manusia menjadi 7 periode yang masing-masingnya terdiri dari 10 tahap, dan ide-ide orang bijak Yunani ini pada gilirannya dikombinasikan dengan konsep-konsep dari Kitab Perjanjian Lama oleh filosof Hellenistik besar beragama Yahudi dari Alexandria, Philo. Philo menulis bahwa pada akhir tujuh tahun pertama tumbuhlah gigi dewasa setelah gigi susu; pada akhir tujuh tahun kedua dimulailah masa puber; dan pada tujuh tahun ketiga tumbuhlah jenggot di janggut seorang pemuda. Tujuh tahun keempat adalah titik kehidupan yang tinggi, dan tujuh tahun kelima adalah saatnya untuk menikah. Tujuh tahun keenam ditandai dengan kematangan intelektual, sementara tujuh tahun ketujuh memuliakan jiwa dengan nalar; tujuh tahun kedelapan menyempurnakan kecerdasan dan penalaran, dan pada tujuh tahun kesembilan, nafsu-nafsu telah redup yang berarti melapangkan jalan bagi keadilan dan kesederhanaan. Tujuh tahun kesepuluh adalah saat terbaik untuk meninggal, karena jika pada usia ini masih hidup manusia sudah menjadi tua renta, tidak berguna, dan pikun: sebagaimana ditegaskan Alkitab dalam Mazmur 90, batas usia manusia adalah 70 tahun.

Ide-ide seperti itu tersebar luas di seluruh dunia Barat, dan pada abad ke-17 Sir Thomas Browne menulis bahwa setiap tahun ketujuh ditandai dengan suatu perubahan hidup, keadaan fisik atau pikiran, dan kadang-kadang bahkan perubahan keduanya. Sekalipun demikian, ada 3 titik yang sangat penting, yakni 7 x 7 = 49;  9 x 9 = 81; dan 7 x 9 = 63. Tahun keenam puluh tiga adalah “masa yang sangat bersejarah … yang sangat mungkin diikuti dengan kematian”. Ide perkembangan manusia dalam tahap-tahap 7 tahunan secara jelas diungkapkan dalam sebuah novel filsafat terkenal, Hayy ibn Yaqzhand, philosophus autodidactus gubahan fisikawan dan filosofArab—Ibn Thufail—pada abad ke-12 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada awal abad ke-17. Tokoh utamanya, yang tumbuh dewasa sepenuhnya dalam kesendirian di hutan, berkembang melewati tahap-tahap 7 tahunan untuk mencapai kesempurnaan moral dan spiritual.

Dalam tradisi Cina, 7 juga dihubungkan dengan kehidupan manusia, khususnya dengan kehidupan perempuan. Gadis mempunyai gigi susu pada usia 7 bulan dan tanggal pada usia 7 tahun; dalam 2 x 7 tahun “roda yin” membuka ketika ia mencapai masa puber, dan pada 7 x 7 = 49 datanglah masa menopause. Dari sudut pandang medis, gambaran tersebut sangat tepat, dan bisa ditambahkan bahwa menstruasi secara teratur datang setiap 7 x 4 hari. Demikian juga, kehamilan berlangsung selama 7 x 40 hari sejak hari pertama berhenti menstruasi. Sebelum ilmu kedokteran modern berkembang, disebutkan bahwa seorang bayi dapat bertahan hidup ketika lahir pada usia kehamilan tujuh bulan, tetapi tidak pada usia delapan. Oleh karena itu, sebagaimana ditegaskan dalam Pseudo-Hippocrates, “Angka 7 dengan kearifan-kearifan gaibnya cenderung membuat segala sesuatu menjadi ada. Angka 7 adalah mesin pembuat kehidupan dan sumber dari semua perubahan; fase-fase bulan berubah setiap 7 hari. Angka ini mempengaruhi semua benda langit”. Dengan penegasan ini, Pseudo-Hippocrates sesungguhnya hendak menunjukkan kemungkinan asal-usul pemujaan pada angka 7, yakni 4 fase bulan yang bentuknya secara jelas berubah dalam setiap hari ketujuh. Karena dewa bulan adalah yang tertinggi dalam sistem pemujaan orang-orang Timur Dekat di zaman kuno, segala sesuatu yang berkaitan dengannya dipuja-puji. Orang-orang Babilonia mengenal tujuh planet: Matahari, Bulan, Merkurius, Mars, Venus, Yupiter, dan Saturnus (matahari dan bulan bukan planet yang sebenarnya), meskipun jumlah tujuh ini dipaksakan untuk memenuhi angka suci itu, “…dan ketika tujuh planet telah ditemukan orang tidak perlu lagi mencari planet lainnya”, kata Hopper. Tujuh planet itu adalah bagian dari 7 lapis langit, dan ide ini telah merangsang imajinasi manusia selama ribuan tahun.

Kesakralan angka 7 tidak hanya dipuja di Timur Dekat, tetapi juga di Amerika pra-Columbian di mana bangsa Maya percaya pada 7 lapis langit dan menganggap 7 sebagai angka penjuru mata angin. Menurut kepercayaan mereka, hubungan antara perempuan (3) dan laki-laki (4) menghasilkan sebuah satuan, 7, yang dikaruniai dengan kehidupan. Meskipun asosiasi-asosiasi 3 dan 4 ini bertentangan dengan apa yang terjadi di Asia dan Eropa—3 bersifat maskulin dan 4 feminin—hasilnya tetap menjadi sebuah kebenaran yang sama: 7, sebuah organisme hidup.

Kalender Babilonia, yang diperkenalkan di masa Hammurabi di abad ke-18 SM, dibuat berdasarkan fase-fase bulan; dan hari-hari ketujuh, kedelapan, kedua puluh satu, dan kedua puluh delapan setiap bulannya dianggap sebagai hari-hari malang bila aktivitas-aktivitas tertentu tidak dihindari.

Dalam agama Yahudi, hari ketujuh menjadi hari libur suci, sehingga disakralkan: larangan untuk bekerja ini diubah menjadi perintah. Perubahan seperti ini sering terjadi dalam sejarah agama-agama, dimana urut-urutan yang sakral dan profan, positif dan negatif saling bertukar posisi dengan diperkenalkannya sistem keagamaan baru. Oleh karenanya, tujuh, dengan konotasi “negatif” kunonya, bersifat ambivalen. Selain itu, perlu diingat bahwa pada musim panas di Babilonia, di antara 7 simbol zodiak tidak semuanya bisa dilihat di atas cakrawala, melainkan hanya 5. Ada kepercayaan bahwa jika seluruhnya tidak terlihat, maka 7 tanda itu akan menjadi alam-alam jahat, dan karenanya 7 dianggap sebagai angka yang berbahaya atau jahat.

Di Jerman, seorang perempuan yang sangat buruk dan suka mengganggu disebut eine boese Sieben, “setan Tujuh”,  sebuah istilah yang pertama kali muncul pada tahun 1662 dalam sumber-sumber berbahasa Jerman. Karena diasosiasikan dengan setan, 7 sering dipakai dalam praktik-praktik sihir. Dan kemudian dikenal adanya “tahun ketujuh terkutuk” (das verffixte siebente Jahr) , atau dalam kehidupan rumah tangga, “hasrat 7 tahun”.

Jumlah 7 planet muncul dalam bentuk-bentuk tersamar yang sama sekali baru, yakni dewa-dewa, pahlawan-pahlawan (Seven Against Thebes), atau manusia-manusia bijak yang kesemuanya bersifat mitologis sebagai simbol heroisme dan kearifan kreatif. Selain 7 planet, ada juga 7 bintang Pleiades yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Bintang-bintang ini juga tersembunyi di bawah cakrawala di Babilonia selama 40 hari terpanas dan hujan angin yang hebat. Oleh karenanya, bintang-bintang itu sering dianggap sebagai ruh-ruh jahat. Dari sini lahirlah konsepsi tujuh setan, seperti disebutkan dalam Lukas 8:2, di mana 7 setan diusir dari Maria Magdalena. Meski mempunyai kemungkinan-kemungkinan negatif, 7 biasanya dikaruniai kekuatan-kekuatan positif. Di Babilonia, tanda angka ini mempengaruhi seluruh dimensi kehidupan dan banyak hal, dan konsep ini agaknya menyebar dari Mesopotamia ke peradaban-peradaban sekitarnya. Di Mesir, misalnya, dikenal adanya 7 jalan menuju surga dan 7 sapi surga, dan dengan menggandakan jumlah ini akan didapatkan 14 tempat di alam kematian. Dalam sebuah teks klasik, Osiris menuntun ayahnya melalui 7 ruang dunia rendah.

Kitab Perjanjian Lama penuh dengan angka 7. Pada generasi ketujuh setelah Adam, hiduplah Lamech selama 777 tahun dan harus membayar balas dendam selama 77 tahun (Kejadian 4:24). Tujuh langkah menuju Kuil Sulaiman berhubungan dengan 7 cerita tentang kuil-kuil Babilonia. Merpati Nuh menghilang selama 7 hari, dan tanda-tanda datangnya banjir muncul selama 7 hari. Sungai Eufrat terbagi menjadi 7 aliran. Ganti-rugi dan hukuman diulang sebanyak 7 kali, dan 7 pemberkatan merupakan bagian dari upacara pernikahan. Selama upacara persembahan di Israel kuno, darah diteteskan sebanyak 7 kali, dan sebagaimana pesta-pesta agung yang berlangsung selama 7 hari, pengorbanan 7 hari dilaksanakan ketika Kuil Sulaiman dibuka. Pernikahan, seperti perpaduan Samson dengan 7 pintal rambut, juga berlangsung selama 7 hari laksana titik-titik menyingsingnya sang fajar. (Secara kebetulan, ide bahwa jiwa membutuhkan 7 satuan waktu untuk membebaskan dirinya dari jasad mati juga bisa dijumpai di bagian-bagian dunia lain, seperti di Cina dimana ritual-ritual kematian dilakukan 7 kali pada setiap hari ketujuh.) Selain tujuh pengorbanan, Kitab Perjanjian Lama pun menyebut tujuh pencucian di Yordania (2 Raja 5:10, 5:14) serta tujuh kali bersin akan membangkitkan orang dari kematian (2 Raja 4:35).

Ambivalensi angka 7 terungkap dalam mimpi Fir’aun tentang 7 sapi gemuk dan 7 sapi kurus (Kejadian 41:1-4) dan bisa dilihat dalam pengabdian pertamaYa’qub pada Leah selama 7 tahun, dan kemudian 7 tahun lainnya pada Rachel (Kejadian 29:18-30). Karena 7 mengandung segala sesuatu, peribahasa-peribahasa menyanjung 7 sebagai Pilar Kearifan (9:1), dan ketika Zakaria berbicara tentang 7 mata Tuhan, ia menggunakan citra ini untuk memohon kemahahadiran dan kemahatahuan-Nya (4:10). Ide 7 mata Tuhan muncul lagi dalam sufisme kemudian dalam kaitannya dengan 7 orang bijak nan agung, yakni 7 mata yang dengannya Tuhan melihat dunia. Kemudian 7 diperluas menjadi 70. Kitab Perjanjian Lama menyebut, misalnya, 70 bangsa dan 70 hakim di Sanhedrin. Setelah diperluas lagi menjadi beribu-ribu, angka ini menghasilkan 70.000 tirai cahaya dan kegelapan yang, menurut kaum sufi, memisahkan manusia dari Tuhan, atau melahirkan ide bahwa Tuhan dipuja oleh makhluk-makhluk dengan 70.000 kepala yang masing-masingnya mempunyai 70.000 wajah. Setiap wajah ini mempunyai 70.000 mulut, yang masing-masingnya mempunyai 70.000 lidah. Dan setiap lidah memiliki 70.000 bahasa. Ungkapan-ungkapan serupa tentang keajaiban angka 7 berupa gambaran bidadari-bidadari surga (houris) yang menunggu laki-laki Muslim yang salih. “Kata-kata Yahweh adalah kata-kata suci, perak yang disucikan 7 kali”, kata penulis Mazmur kedua belas, dan kata-kata ini mengilhami orang-orang Cabalis untuk menginterpretasikan ungkapan-ungkapan Alkitab secara lebih mendalam. Makanya, tinggal di sukkot selama 7 hari dihubungkan dengan 7 hari penciptaan, dan menurut Zohar, 7 sefirot rendah dalam Cabala dikaitkan dengan manifestasi-manifestasi historisnya yang berhubungan dengan Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Musa, Harun, Yusuf dan Dawud. Demikian pula, pembangunan Kuil Sulaiman, yang berlangsung selama 7 tahun, dihubungkan dengan 7 sefirot rendah, yang berisikan sefirah binah (“kecerdasan”) yang bertalian dengan Kuil itu. Sefirot rendah ketujuh (semuanya ada sepuluh) adalah Shekhinah, yang disebut Ratu Sabat dan—menurut penjelasan Zohar—mempunyai  hubungan dengan hari primordial ketujuh.

Kitab Perjanjian Lama (Kejadian 4:15) menyebutkan bahwa pembunuh Habil akan dibalas 7 kali, tetapi Kitab Perjanjian Baru (Matius 18:22) menyebut balasannya adalah tujuh pengampunan sebanyak 70 kali. Seorang teolog Jerman Abad Pertengaha—Rupert dari Deutz—berspekulasi tentang misteri ini dan menyimpulkan bahwa 7 adalah angka yang tidak bisa dibagi dan diubah dan karenanya, menunjuk pada balas dendam yang niscaya dalam Kitab Perjanjian Lama serta kehidupan abadi Kristus, immutabilis vita Christi.

Sebaliknya, 77 dalam Kejadian 4:24 (pembalasan untuk Lamech) adalah angka yang bisa dibagi. Artinya, pembalasan semacam itu bisa dibatalkan dengan 7 pertobatan sebanyak 70 kali. Elaborasi Kristen lain tentang angka 7 dalam Kitab Perjanjian Lama adalah 7 kata terakhir Kristus di tiang salib dan 7 bintang di tangannya. Dalam Kitab Yohanes—harta karun terpendam yang berupa mistisisme angka—domba kemenangan mempunyai 7 tanduk; 7 segel dibuka, dan surat-surat dikirim ke 7 gereja dan terakhir, 7 terompet ditiup menjelang Hari Pengadilan yang mengerikan.

Selanjutnya, para ahli tafsir Abad Pertengahan menemukan banyak ciri penting dalam angka 7. Sebagai angka kesempurnaan, 7 adalah hari libur Tuhan dan juga melambangkan berlalunya waktu, sejak dimulainya keabadian dengan bangkitnya Kristus pada hari kedelapan. Tujuh pahala Roh Kudus diimbangi dengan 7 siksa yang berat. Tujuh sakramen dibagi menurut praktik zaman kuno menjadi tritunggal yang sangat spiritual, yakni pembaptisan, penegasan, dan ekaristi, dan menjadi kuartet praktis, yakni penebusan dosa, ordo-ordo suci, pernikahan, dan pemberian minyak suci. Kesemuanya ini melanggengkan citra 4 kebajikan pokok dan 3 kebajikan teologis, yang secara berurutan terkait dengan tubuh dan jiwa. Sakramen itu dapat diinterpretasikan sebagai sebuah tritunggal yang berkait dengan Tuhan dan sebuah kuartet yang bertalian dengan umat manusia.

Dalam tradisi Islam, yang menarik untuk dicatat adalah bahwa surah pertama Alquran, al-Fatihah, mempunyai struktur yang sama: 3 dari 7 ayatnya ditujukan pada Allah dan 4 ayat lainnya berupa permohonan dan kebutuhan manusia. Kalimat syahadat dalam Islam “Tidak ada Tuhan selain Allah; Muhammad adalah utusan Allah” berisi 7 kata dalam bahasa Arab: la ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah.

Mengingat pentingnya angka 7 dalam tradisi Kristen, tidaklah mengejutkan bila umat Katolik diatur menjadi 7 bagian menurut prinsip-prinsip numerologis kuno, sebagaimana telah dielaborasi secara detail oleh Hopper. Pada abad ke-14, sejarahwan Mesir—al-Maqrizi—mengatakan bahwa orang-orang Kristen di Mesir (Koptik) merayakan 7 pesta besar dan 7 pesta kecil di gereja mereka. Tujuh kesenangan dan 7 kesedihan Maria selaras benar dengan irama heptadik. Oleh karenanya, dalam musik Renaisans terdapat sejumlah lagu (motest) dengan 7 suara, yang biasanya dipersembahkan kepada Perawan Maria atau berkaitan dengan 7 pahala Roh Kudus.

Sebenarnya, angka 7 mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pemikiran Kristen Abad Pertengahan, sehingga John dari Salisbury pada abad ke-12 menyusun sebuah buku yang berjudul  De septem septenis tentang 7 kelompok benda yang mewujudkan diri dalam sebuah sapta dalam bentuk-bentuk yang berbeda dan dimulai dengan 7 jenis pengetahuan, kemudian 7 seni liberal, 7 pahala Ruh Kudus, 7 tingkat kontemplasi, dan seterusnya sampai 7 prinsip dasar filsafat. Karena 7 dianggap sebagai angka universal, para pemikir Abad Pertengahan ingin mengetahui apakah 7 gereja yang disebut dalam Alkitab dimaksudkan untuk menunjukkan universalitas gereja atau apakah harus membalik logika dan berpendapat bahwa, karena ada 7 gereja, 7 planet, dan 7 langit, maka 7 adalah angka universal.

Akibat tersebarnya ajaran-ajaran Pythagorean dan spekulasi-spekulasi mistis Hermes Trismegistos, tradisi Kristen Abad Pertengahan didasarkan bukan hanya pada kiasan-kiasan Biblikal, tetapi juga pada warisan kuno. Di Yunani kuno, 7 menduduki tempat penting dalam kaitannya dengan Apollo dan Athena. Angsa-angsa yang bernyanyi berputar mengelilingi pulau Delos sebanyak 7 kali sebelum Leto melahirkan Apollo yang wajahnya berseri-seri, dan kelahiran ini terjadi pada hari ketujuh, yang karenanya diperuntukkan baginya. Lirik yang disenandungkan Tuhan terkadang mempunyai 7 baris. Bahkan ada spekulasi yang menyatakan bahwa Apollo, yang hidup bersama dengan orang-orang Hyperborean selama 7 bulan, berkaitan dengan 7 bulan di musim dingin, tetapi spekulasi ini agak meragukan. Kaitannya dengan Athena justru lebih kuat, karena 7 adalah angka penting yang tidak menghasilkan atau dihasilkan (yakni, tidak bisa dibagi dan tidak diketahui faktornya dalam dekade pertama). Angka ini sangat cocok dengan Athena, seorang perawan yang muncul dari kepala Zeus. Hubungan ini diungkapkan secara apik oleh Philolaus, yang pada abad ke-5 S.M. menulis bahwa 7  “sebanding dengan dewi Athena, pemimpin dan penguasa segala sesuatu, dewi abadi, kokoh, tetap, serupa hanya dengan dirinya sendiri, dan berbeda dari semua lainnya”. Fakta bahwa 7 tidak mampu menghasilkan (tidak bisa dibagi) diserap oleh mistisisme Yahudi menjadi Sabath, hari ketujuh, ketika umat manusia dituntunkan untuk beristirahat dan tidak melakukan aktivitas apa pun. Di Yunani kuno, ide-ide Pythagorean tentang angka 7 dielaborasi secara khusus oleh Nicomachus dari Gerasa, yang mengkaji hubungan-hubungan antara 7 planet, 7 not dalam satu oktaf, 7 kunci musik, dan 7 vokal dalam bahasa Yunani.

Sekalipun diasosiasikan dengan dewi perawan Athena, 7 juga dikaitkan dengan pandangan patriarkal yang dikuatkan oleh pemakaian 7 di Roma kuno, dan dengan struktur sosial yang patriarkal. Roma dibangun di atas 7 bukit (yang kebetulan dinisbahkan untuk banyak tempat lainnya). Tujuh adalah angka keberuntungan penduduk Roma dan menjamin langgengnya kekuasaan negara yang terus berkembang ini. Ungkapan Roma septemgeminata (tujuh Roma) menunjuk pada kepercayaan tersebut. Bahkan dalam pertandingan circansian, 7 pun dipakai sebagai angka keberuntungan, karena konon Roma dibangun pada tahun pertama pertandingan Olimpiade ketujuh. Kisah ini barangkali merupakan legenda, tetapi sesungguhnya ada berpuluh-puluh lembaga yang terkait dengan sapta, seperti septemviratus, sekelompok 7 orang yang memegang peran kunci dalam pemerintah negara. Sapta-sapta Roma kurang lebih bersifat duniawi, dan tidak ada sapta suci dalam kepercayaan orang-orang Roma. Namun demikian, nilai penting 7 diekspresikan dengan baik dalam agama Kristen terdahulu ketika pendeta gereja Roma, Tertullian, menyebut Tuhan dengan “septemplex spiritus qui in tenebris lucebat, sanctus simper” (tujuh ruh kudus yang bersinar dalam kegelapan).

Namun demikian, di zaman Kristen awal sejumlah pemujaan kepada misteri juga tumbuh di Kerajaan Romawi, dan banyak diantaranya membagi entitas-entitas suci dan spiritual menjadi tujuh ala pembagian kuno. Di zaman kuno akhir di Mesir terdapat 7 pembawa tongkat lambang kekuasaan yang berkaitan dengan 7 planet dan 7 hari. Nama-nama mereka menyebar ke Prancis melalui Roma dan kemudian diambil oleh tradisi Anglo-Saxon dan Jerman. Makanya, hari-hari dalam satu minggu masih ada hubungannya dengan nama-nama dewa langit yang dimulai dari matahari (Sunday, Minggu) dan bulan (Monday, Senin). Mars tercermin dalam bahasa Prancis mardi, Tuesday (Selasa) atau Dienstag dalam bahasa Inggris dan Jerman, karena Ziu=Thiu bertalian dengan Mars. Selanjutnya, ada Merkurius (Prancis, mercredi; Inggris, Wednesday yakni Wodan’s day), Yupiter (Prancis, jeudi; Inggris, Thursday; dan Jerman, Donnerstag, dari kata Tunar, Donar), Venus (Prancis, vendredi; Inggris, Friday; Jerman, Freitag, setelah dewi Freya), dan terakhir Saturday (sabtu) yang berasal dari nama Saturnus.

Dalam tradisi gnostik Kristen, kekuasaan dewa-dewa kuno atas planet diubah menjadi hubungan antara 7 langit rendah dan kekuasaan jahat (yang menggantikan dewa-dewa pra-Kristen). Ide-ide semacam ini dikenal oleh orang-orang Ophite yang—sebagaimana para gnostik lain—menganggap 7 planet (archon) itu sebagai pemimpin dunia materi; planet-planet itu dikuasai oleh sebuah ruh mulia yang kadang-kadang tampak sebagai perempuan, seperti Ruaha, jembalang perempuan jahat. Dalam gnosis Mandean, semua ruh ini berwatak jahat, sehingga 7 merupakan angka yang berbahaya bagi orang-orang Mandean: sebagaimana dinyatakan dalam sebuah kitab suci Mandean, 7 penggoda telah menggoda seluruh anak Adam.

Yang lebih penting lagi dalam sejarah agama di Eropa Barat adalah peran 7 dalam pemujaan Mithras yang sangat kuat pengaruhnya. Semula Mithras adalah dewa matahari bangsa Iran, tetapi pada permulaan Masehi pemujaan kepadanya, seperti sejumlah pemujaan lain, berkembang menjadi sebuah agama misteri. Dalam misteri-misteri Mithras dipercaya bahwa jiwa muncul melalui 7 planet dan menjadi kehadiran suci. Kehadiran ini secara simbolik digambarkan dengan 7 pintu yang harus dilalui oleh seorang ahli dengan menanggalkan sepotong pakaian di setiap pintunya sebagai simbol pergantian sifat manusia dengan sifat lainnya. Ritus ini bermula di Babilonia kuno; ketika dewi Ishtar mengunjungi dunia rendah, dia harus menanggalkan sepotong pakaiannya di setiap pintunya.

Dalam misteri-misteri Mithraik, orang-orang yang benar-benar ahli akhirnya mencapai pintu kedelapan, Pintu Cahaya, dimana mereka harus telanjang, menanggalkan seluruh sifat materi, dan siap untuk lahir kembali di dunia spiritual. Ritus-ritus pertobatan dan penyucian yang berkenaan dengan penyembahan ini berlangsung—seperti  yang diperkirakan—pada hari ke-7, 14, 21, dan 28 setiap bulan. Sebuah permainan anak-anak seperti Sudamanda mempunyai nuansa pemujaan misteri, yang datang ke Jerman dan Inggris melalui bala tentara Romawi. Dalam permainan ini, seorang anak melompat dengan satu kaki melewati gambar seperti tangga di atas tanah, dan tangga terakhir di kotak kedelapan disebut surga atau neraka.

Tujuh tingkat inisiasi menuju pemujaan Mithras dan ide-ide kuno tentang pendakian manusia melalui langit-langit berbintang menjadi dasar konsep Kristen tentang 7 lapis tempat penyucian. Namun yang lebih penting adalah tingkat-tingkat itu menggambarkan konsep 7 tangga di jalan mistis yang diterima oleh masyarakat umum. Perlu diingat bahwa konsep serupa juga ditemukan dalam pemujaan-pemujaan para dukun di Siberia: kutub kosmis di mana si dukun muncul sering memiliki 7 irisan, dan dukun Samoyed tidak sadarkan diri selama 7 hari 7 malam sebelum dia mengemban tugasnya. Ia juga makan jamur berbintik 7 dan melakukan ritus-ritus yang berisikan angka 7 (atau 9) .

Tujuh jalan agaknya merupakan salah satu ide universal diwilayah agama, baik yang diungkapkan oleh mistikus Flemish—Ruysbroek—yang menyebut 7 tangga dalam pendakian mistis atau oleh penyair Persia—Aththar—pada akhir abad ke-12 yang mengisahkan perjalanan burung-burung jiwa melalui 7 lembah, atau oleh sufi Irak—Nani—yang menggambarkan 7 dinding benteng spiritual, atau oleh St. Teresa dari Avila yang menggambarkan 7 benteng batiniah. Di balik semua gambaran jalan ini terdapat sebuah ide kuno tentang pendakian melalui 7 langit berplanet.

Sebagaimana bisa ditangkap dari nama-nama Aththar dan Nani, Islam juga menekankan pentingnya angka 7 karena akar-akar Semitiknya disatu sisi dan tradisi-tradisi Persia kuno disisi lain. Sebenarnya, pertukaran antara dua wilayah kultural berlangsung secara semarak dan kemudian membentuk seluruh tradisi kultural Islam Persia. Pemujaan Mithras, misalnya, berasal dari Iran, dan Herodotus mengabarkan adanya 7 suku di Iran yang masing-masing mempunyai kuil api sendiri. Bangsa Persia juga membagi dunia menjadi 7 daerah (climates) dan epos bangsa Persia, Shahnamit (Buku tentang Raja-raja) , yang ditulis oleh Firdausi tidak lama setelah tahun 1000 M, mengisahkan 7 langkah heroik Rustam dan 7 tindakan lain yang dilakukan oleh Isfandiyar. Raja Gurshasp dikaruniai 7 anak laki-laki, dan Giv harus mengembara selama 7 tahun.

Peran angka 7 ini juga terlihat dalam Zoroastrianisme, di mana 6 Amesha Spentas, atau ruh pembimbing, dilengkapi dengan Ahura Mazda, dewa keadilan dan kebaikan, sehingga jumlahnya menjadi 7. Dalam Arda Viraf Nama, sebuah buku berbahasa Persia yang mengisahkan pendakian jiwa menuju dunia berikutnya, Viraf menempuh perjalanan selama 7 hari untuk mencapai tujuannya. Banyak adat-istiadat Iran memakai angka 7, yang dimulai dengan gambaran tentang manusia sebagai haft andam, 7 anggota badan (yakni 2 kaki, 2 tangan, perut, dada, dan kepala). Secara khusus selama upacara pernikahan, 7 orang harus melakukan kewajiban-kewajiban tertentu. (Sama halnya, di Pakistan 7 perempuan yang telah menikah dengan bahagia harus membuat 7 potong bahan pakaian pertama untuk gaun pengantin.) Jika seseorang jatuh sakit, sepotong makanan harus dikumpulkan dari 7 rumah dan diberikan kepada si sakit, yang diharapkan akan sembuh. Di zaman modern, seiris makanan yang bernilai religius buatan sejumlah perempuan dipersiapkan bersama dengan makanan yang diminta dari 7 perempuan yang bernama Fathimah. Banyak resep masakan yang dibuat dari 7 bahan; haft maghz, “7 biji” adalah sejenis marzipan, dan ada 7 jenis turshu, atau sayuran yang diasamkan. Bagi Nawruz, Tahun Baru Persia di musim semi dirayakan dengan memamerkan 7 benda yang namanya diawali huruf s di dalam rumah. Ada juga 7 gaya kaligrafi.

Islam awal juga mengakui pentingnya angka 7. Menurut Alquran, Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam 7 lapis. Thawaf, mengelilingi Ka’bah di Makkah selama ibadah haji, dilakukan sebanyak 7 kali, demikian juga lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah; pada akhir haji, di dekat Mina setan dilempar 3 kali masing-masing dengan 7 buah kerikil. Tradisi masyarakat mempertahankan 7 syair pujian yang “digantung”, mu’allaqat, sebagai kekayaan puisi pra-Islam di Arab (meskipun 7 telah menjadi sebuah angka kelompok yang mengawali suatu puisi). Menurut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, ada 7 dosa besar. Tujuh pemuda yang tertidur di gua Kahfi—yang juga dikenal dalam sejarah Kristen awal—disebutkan dalam Alquran (QS 18:21), dan nama-nama pemuda salih ini dipakai dalam tradisi Islam dan tradisi gereja Timur Ortodoks sebagai azimat, yang sering ditulis dalam kaligrafi nan indah. Surah al-Hijr (QS 15:87) menyebut 7 matsani, “tujuh ayat yang diulang-ulang”, yang mungkin mengacu pada 7 ayat dalam Surah al-Fatihah yang diwahyukan dua kali. Di antara huruf-huruf Arab yang misterius dan tidak diketahui artinya diawal sejumlah surah Alquran, kombinasi h-m muncul 7 kali. Hal ini diinterpretasikan sebagai habibi Muhammad, “Muhammad kekasihku”. Kata salam (kedamaian) juga muncul 7 kali. Sebuah hadis menyebutkan 7 aspek batiniah Alquran, yang ditekankan dalam tulisan-tulisan mistis terkemudian dan hermeneutik esoteris Syi’ah. Ada juga 7 jenis seni membaca Alquran, dan di tempat tertentu selama perjalanan haji ke Makkah, diucapkan 7 kali Allahu akbar (Allah Mahabesar). Tujuh huruf Arab yang tidak ada dalam Surah al-Fatihah kemudian dipakai dalam sulap atau untuk membentuk kotak-kotak magis. Kelompok Islam yang secara khusus aktif dalam spekulasi numerologis adalah kaum Hurufi di Iran pada akhir abad ke-14. Dengan kepercayaan bahwa segala sesuatu terkandung di dalam huruf-huruf dan nilai-nilai numeriknya, mereka secara mudah menarik hubungan-hubungan antara sapta-sapta di dalam Alquran dan 7 bagian tubuh manusia.

Angka 7 juga sangat digemari oleh kaum sufi. Tasawuf memperbincangkan 7 latha’if titik-titik subtil di tubuh tempat kaum sufi memusatkan kekuatan spiritualnya. Titik-titik ini serupa dengan chakra dalam sistem mistik India. Dengan menelusuri latha’if, kaum sufi dapat mencapai tingkat-tingkat kesadaran yang lebih tinggi dan mulia selama menjalani ibadah-ibadah secara khusuk. Latha’if ini dianggap terkait dengan 7 sifat pokok Allah yang kemudian termanifestasi dalam 7 nabi besarNya dari Adam sampai Muhammad. Dengan demikian, di sini angka 7 mempunyai peran penting: seorang mistikus melihat 7 lilin, mengenakan 7 jubah spiritual, dan seterusnya. Salah satu kelompok sufi—Tijaniyyah—meyakini bahwa pengulangan doa tertentu bisa mempertemukan para pengikutnya dengan Nabi Muhammad.

Hierarki mistis dalam Islam tersusun atas 7 tingkat. Tingkat tertinggi adalah quthb (kutub), atau sumbu penciptaan, dan tingkat terendah adalah 4000 orang suci yang menyamar. Seringkali muncul kelompok-kelompok 7 orang suci. Misalnya saja, kota Marakesh di Maroko berada dibawah perlindungan kelompok 7. Kelompok-kelompok serupa beranggotakan gadis-gadis salih yang menjadi martir dalam sejarah dan folklore sufi. (Konsep 7 martir juga dikenal dalam tradisi Kristen). Bahasa masyarakat penuh dengan perkataan yang mengandung angka 7. Di Iran kucing mempunyai kehidupan dan membawa anak-anaknya 7 kali ke tempat-tempat yang berbeda. Lapisan-lapisan langit dikenal sebagai “7 pintalan”, dan rasi bintang Ursa Major disebut “7 singgasana”. “Melakukan pekerjaan 7 mullah” berarti “tidak berbuat apa-apa”, dan bila seorang Jerman mengatakan bahwa ia terkait dengan seseorang “karena 7 gantang kacang” (durch sieben Scheffel Erbsen) untuk menyebut jauh sekali jaraknya. Orang Persia akan berkata, sebelum menyebut sesuatu yang negatif atau berbahaya, “Semoga 7 Alquran (atau 7 gunung) menghalanginya (dari orang-orang yang mendengarnya)”.

Buku-buku dan kisah-kisah sering disusun dalam sapta. Contoh pertama karya sastra yang memakai angka 7 adalah epos karya Nizhami, Haft Paykar (7 Gambar) Dalam karya ini, penyair Persia ini mengisahkan bagaimana sang pahlawan mengunjungi seorang ratu yang berbeda setiap hari dalam satu minggu; dan hari, bintang yang sesuai, warna bintang, wewangian, dan pengaruh-pengaruh lain semua dielaborasi sesuai dengan patokan-patokan kearifan astrologis. Juga bisa ditilik cerita-cerita dalam Seven Wise Masters, yang menjadi populer di Eropa Abad Pertengahan, atau 7 pelayaran Sinbad. Ada buku-buku yang disebut Seven Oceans (salah satunya, yakni sebuah pengantar tentang sistem retorika Persia, diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh F. Wickert pada tahun 1827). Ada juga risalah-risalah yang disebut Seven Spheres atau Seven Climata, dan karya-karya Persia seperti ini bukanlah kajian-kajian geografis, melainkan risalah-risalah tentang berbagai jenis kesusastraan; angka 7 dalam judul-judulnya mengekspresikan kelengkapan.

Akan tetapi, peran 7 menjadi sangat penting dalam ajaran aliran Ismaili yang disebut Syi’ ah Sab’iyyah karena imam terakhirnya adalah imam ketujuh dalam rantai imamah sejak Muhammad melalui Ali dan anaknya yang meninggal sebagai syahid, Husain. Aliran ini, yang menghasilkan literatur filsafat penting sejak abad ke-10, merumuskan sapta-sapta agung yang tampaknya sangat dipengaruhi oleh gnosis Hellenistik. Ilyas, Nuh, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Musa, dan  Isa adalah 7 pilar dunia, yakni 7 pilar Majelis Kearifan atau 7 penggembala. Wahyu turun dalam 7 periode siklis, dan imam ketujuh sebagai pengganti nabi ketujuh dan terakhir akan bangkit kembali. Para filosof Ismaili mengenal 7 huruf dalam kata penciptaan Tuhan, kun fayakun (k-n-f-y-k-u-n) , “Jadi, maka jadilah” adalah prinsip-prinsip yang mengalirkan 7 sumber primordial; dari halimun primordial ini terciptalah 7 langit dan kemudian 7 bumi. Tujuh nabi besar berkaitan dengan 7 langit; 7 imam yang muncul setiap periode kenabian berkaitan dengan 7 bumi; 12 pengganti dari setiap nabi berhubungan dengan 12 simbol zodiak; dan 12 hujjah (bukti) untuk setiap imam berhubungan dengan 12 “pulau”. Sumber heptagonal di Pusat Ismaili baru di Kensington Selatan, London, menyimbolkan ide-ide tersebut dalam bentuk yang artistik.

Ikhwan ash-Shafa di Bashrah, yang dekat dengan ide-ide merinci manusia menjadi 7 bagian vegetatif dan 7 bagian spiritual dan menegaskan bahwa makhluk berasal dari Tuhan melalui Sang Kecerdasan Pertama hingga menjadi manusia dalam 7 langkah. Nasir-i Khusraw, filosof Ismaili abad ke-11, membagi seluruh alam semesta menjadi tujuh benda spiritual dan material. Komunitas Druze, yang berasal dari orang-orang Ismaili, mempunyai tujuh aturan. Tradisi lain, keyakinan Babi-Bahai yang tumbuh dari Islam Syi’ah, juga menekankan pentingnya angka 7: Bab (“Pintu Gerbang”) yang mendirikan gerakan ini di Iran di awal abad ke-19 disebut “manusia 7 huruf”, karena namanya, ‘Ali Muhammad, ditulis dengan 7 huruf (‘-l-y-m-h-m-d)

Angka 7 banyak dijumpai di India. Bersama dengan 3, 7 adalah angka terpenting dalam Veda. Angka 7 secara khusus berkaitan dengan Agni, dewa api, yang memiliki 7 istri, ibu, atau adik serta 7 api, balok, atau lidah, dan lagu-lagu yang diperuntukkan baginya berjumlah 7. Dewa matahari mempunyai 7 kuda penarik keretanya di langit. Rgveda menyebut 7 bintang dan 7 sungai soma surga, minuman para dewa. Indra, dewa angin dan hujan, adalah “pembunuh 7”, dan ada 7 bagian dunia, 7 musim, dan 7 benteng di surga; laut memiliki 7 kedalaman dan orang menyebut 7 benua besar. Kegemaran orang-orang India pada 3 dan 7 melahirkan kombinasi 2 angka dalam Rgveda: 7 sungai berkembang menjadi 21, dan seekor sapi mempunyai 3 x 7 nama. “Segala sesuatu berada di alam dewa dan di alam diri—segala sesuatu akan diperoleh dengan lagu pujian 7 baris”, kata Satapata Brahman. Lazimnya, angka penting semacam ini juga dipakai dalam ritual—misalnya, 7 langkah mengelilingi api dalam ritus pernikahan.

Jelaslah bahwa konsep-konsep India kuno semacam ini telah masuk ke dalam Buddhisme. Buddha yang baru lahir menapak 7 langkah untuk mengatakan bahwa senyatanya ini merupakan kelahirannya yang terakhir. Ia mencari keselamatan selama 7 tahun, dan mengitari pohon Bodhi 7 kali sebelum duduk bermeditasi di bawahnya. Surga Buddha mempunyai 7 teras, dan 7 karya keagamaan akan membawa manfaat bagi orang-orang yang mempercayai kehidupan ini. Dalam wilayah ilmu pengetahuan, 7 adalah dasar dari akumulasi angka yang tak terhitung jumlahnya dalam literatur Buddha, mulai dari 7 atom, 7 partikel terkecil, 7 partikel kecil, 7 partikel, dan seterusnya sampai mil yang berisikan 103 x 4 x 2 = 710 unit.

Menurut kepercayaan masyarakat Jepang, 7 dewa membawa keberuntungan dan kebaikan. Di mata orang-orang Jerman, 7 bukanlah angka sakral, melainkan angka kelompok sebagaimana tertulis dalam Older Edda, “7 hari kita lalui di desa yang dingin, 7 hari lagi di atas laut, dan 7 hari ketiga kita lewati di padang-padang rumput yang meranggas”. Agaknya, angka 7 sampai di wilayah Jerman karena pemujaan Mithraik disatu sisi dan aktivitas-aktivitas misionaris Kristen disisi lain dan kemudian menjadi angka 9 pribumi Jerman dalam berbagai keterkaitan.

Peran penting 7 sebagai angka magis tampak nyata dari kedudukannya dalam praktik magis dan proses kimia. Oleh karena itu, 7 Tanda Sulaiman sering digunakan dalam magis Islam, dan nama Abraxas yang aneh, misterius dan terdiri dari 7 huruf pun di sini memainkan peran penting. Sebagaimana doa makbul yang sering diulang 3 atau 7 kali, prosedur-prosedur penting di laboratorium kimia pun diulang-ulang. Penyulingan, misalnya, biasanya harus dilakukan 7 kali.

Angka 7 juga dirasakan penting dalam pengobatan kuno. Dalam tradisi Hippocrates disebutkan bahwa angka 7 mengendalikan penyakit-penyakit ringan dan segala sesuatu yang bisa hancur di dalam tubuh. Para tabib zaman kuno mengetahui bahwa penyakit-penyakit berat mendera selama 7 hari atau kelipatan 7. Kaum Pythagorean menyebut 7 sebagai “kritis” dan memandang semua tanggal yang dapat dibagi 7 sebagai tanggal kritis, termasuk tanggal tujuh dan empat belas. Ide-ide semacam ini dipertahankan dalam pengobatan masyarakat: di Jerman dahulu orang percaya bahwa babi tidak akan terkena kolera jika selama 7 hari diberi minuman dan dimandikan dengan air yang mengandung asphodel (suatu jenis tumbuhan). Dalam folklor Jerman, 7 saudara dipandang sebagai setan-setan pembawa demam, dan penyembuhannya memerlukan waktu 7 atau 9 hari atau minggu. Untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu seperti encok disarankan agar melafalkan doa sebanyak 7 dan 3 kali, sebagaimana dalam doa Jerman Abad Pertengahan yang harus diulang 3 kali berikut ini:

Hast du eines von den 77 Gichtern, so gesegne ich es dir.

Es gehen drei heilige Maenner herduer:

Der erst ist Gott der Vater, der zweite Gott der Sohn,

der dritte ist das Marienkind, das dir deine 77 Gichter wegnimmt.

(Jika engkau terkena salah satu dari 77 penyakit aku mendoakanmu.

Datanglah 3 orang suci:

Pertama adalah Tuhan Bapa, kedua Tuhan Anak,

ketiga anak Maria yang mengusir 77 penyakitmu.)

Tujuh pengulangan semacam ini dapat diperluas menjadi doa-doa yang absurd, seperti contoh yang dikutip oleh Tranchtenberg dalam Jewish Magic and Superstition untuk menyembuhkan demam tiga hari, “Ambillah 7 duri dari 7 pohon palem, 7 bilah kayu dari 7 balok, 7 paku dari 7 jembatan, 7 abu dari 7 tungku, 7 skop tanah dari 7 halaman rumah, 7 buah baling-baling dari 7 kapal, 7 genggam bumbu, dan 7 helai rambut dari jenggot seekor anjing tua, dan ikatkan semua ini pada kerah pakaian dengan seutas tali putih berbelit”. Umumnya dibutuhkan tujuh tahun untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh sihir, dan hantu-hantu seperti Perempuan Putih, yang berkaitan dengan benteng-benteng kuno yang menyeramkan, cenderung muncul kembali setiap 7 tahun.

Angka 7 yang berdaya magis ini juga dipakai secara lebih positif. Di Bavaria, dongeng yang diceritakan oleh gadis-gadis berusia di bawah 7 tahun dianggap sangat berharga (Siebenjahresgant), karena seorang anak pada usia 7 tahun dapat melihat kekayaan yang tersembunyi. Bahkan ada kepercayaan bahwa seekor ayam jago hitam, setelah berumur 7 tahun, akan menghasilkan telur yang berisi naga. Karena luasnya penggunaan angka ini, 7 dapat menjadi angka kelompok indefinitif yang berarti “banyak”. Ahli tafsir—Donatius Tyconius—mengatakan dalam karyanya, Seven Rules for the Interpretation of the Holy Writ, bahwa angka stereotipe ini harus dilihat secara simbolik. Inilah alasan mengapa sering didapati penggunaan 7 angin, 7 laut, 7 daerah, 7 tempat, atau dalam tradisi Ketimuran, 7 gurun pasir, dan 7 manusia paling bijak diserupakan dengan 7 keajaiban dunia. Para penyair dipuji dengan 7 tempat kelahiran atau 7 makam (Homer di Yunani kuno, Yunus Emre di Anatolia tengah). Berbagai nama lokal yang dibentuk dengan 7 juga mengekspresikan banyak hal: Siebenbuergen (Tujuh pohon ek), Sacelele (“7 desa” di Rumania), atau Yedikule (“7 menara”, benteng yang mengelilingi tempat kuno di Istambul). Sama halnya, hydra (suatu jenis tumbuhan) mempunyai 7 kepala dan tameng Ajax 7 lapis, dan tidak boleh dilupakan juga tentang 7 orang kate di balik 7 gunung dan kelompok-kelompok lain dalam dongeng, seperti 7 burung gagak, 7 kambing kecil, atau 7 penunggang kuda putih. Para penyair sering memakai rentang 7 tahun untuk mengekspresikan waktu yang panjang, sebagaimana dalam puisi Hermann Loens berikut ini:

Rosemarie, Rosemarie, sieben Jahre mein Herz nach dir schrie…

(Rosemary, hatiku menangisimu selama 7 tahun…)

Atau puisi Boerries von Moenchhausen, Ballad of the Nettlebush, dimana jelatang berdiri selama 7 tahun di tepi jalan untuk mengingatkan raja yang telah mengingkari janjinya pada sang kekasih. Bahkan sajak anak-anak seperti:

Wer will guten Kuchen backen,

der muss haben sieben Sachen…

(Jika engkau ingin membakar sepotong kue yang lezat,

engkau membutuhkan 7 hal…).

termasuk dalam kelompok ini. Juga bisa melihat sepintas judul-judul novel atau kumpulan artikel berbahasa Jerman atau Inggris untuk mengetahui pentingnya angka 7. Apakah pernah merenungkan karya Gottfried Keller, Faehnlein der 7 Aufrechten, atau karya Agnes Miegel, Fahrt der 7 Ordensbrueder? Keduanya membicarakan 7 pahlawan yang taat. Dan terakhir ada sebuah pepatah Arab yang menyebut 7 hal yang tidak pernah bisa diraih orang sepenuhnya, yakni “roti yang ditawarkan dengan ramah, daging kambing, air dingin, bahan pakaian yang lembut, wewangian yang semerbak, tempat tidur yang nyaman, dan pemandangan yang indah”.

%d blogger menyukai ini: