Eddytorial,  Write

Albrecht Dürer dan Angka Keramat (Bagian II)

POLARITAS DAN PEMBAGIAN (2)

Die Zwei ist Zweifel, Zwist, ist Zwietracht, Zwiespalt, Zwitter,

Die Zwei is Zwillingfrucht am Zweige, suess und bitter.

(Dua adalah keraguan, perpecahan, perselisihan, pertikaian,

Dua adalah buah kembar di ranting, manis dan pahit.)

Ruckert merangkai kata-kata cerdas ini dalam epos didaktiknya, The Wisdom of the Brahmin, untuk menunjukkan banyaknya karakteristik negatif yang dimiliki oleh angka 2. Dalam tradisi-tradisi keagamaan, 2 berarti perpecahan, terbelahnya Keesaan suci yang absolut, dan karenanya merupakan bilangan yang menyangkut dunia makhluk: “makhluk itu dengan sendirinya berwatak ganda” sebagaimana kata Valentin pada abad ke-16. Dalam setiap aspek kehidupan, terlihat kuatnya peran dikotomi, dyad (sepasang unit yang dianggap satu) dan struktur ganda. Sekalipun demikian, ketiganya tidak mesti mengacu pada perselisihan yang sepenuhnya bersifat negatif. Setiap kemungkinan percakapan, yakni menyapa seseorang dengan selain dirinya, mengandung ketegangan antara Aku dan Engkau, sebuah ketegangan yang bisa membuahkan manfaat dan juga petaka. Garis, sebagai ungkapan geometris bilangan 2, memisahkan sekaligus menyatukan.

Banyak bahasa yang mempunyai bentuk gramatikal dwirangkap. Persoalan ini diangkat menjadi tema sebuah artikel yang ditulis oleh seorang pemikir Jerman, Wilhelm von Humboldt, pada awal tahun 1828. Dwirangkap yang menunjukkan hubungan antara dua individu tetapi bukan antara si Aku dan kelompok lebih besar ini telah muncul sejak zaman purbakala dan sisa-sisanya masih bisa dijumpai dalam dialek-dialek Jerman tertentu, terutama di beberapa daerah di Westphalia dan Bavaria-Austria. Di sini, sebagaimana dalam beberapa bahasa Slavic, dwirangkap itu khususnya terjadi dalam kata ganti personal. Bahasa Arab, sebagai sebuah tradisi linguistik Semitik, tetap sepenuhnya mempertahankan bentuk-bentuk ganda, sementara bahasa Ibrani modern telah membuangnya meskipun bentuk-bentuk ganda tersebut masih bisa kita temukan di dalam Kitab Perjanjian Lama. Pertentangan antara Aku dan Engkau pada dasarnya mengandung sebuah oposisi, dan oposisi seperti ini menjadi lebih nyata ketika Aku manusia dipertentangkan dengan Engkau yang absolut, khusus dan suci. Seperti terlihat di atas, kiranya mustahil untuk menunjuk sesuatu yang benar-benar bertentangan dengan Tuhan absolut. Di sini, angka 2 menjadi sebuah angka kontradiksi dan antitesis dan, secara logis, bukan-Tuhan. Karena menuai perselisihan, angka ini jarang dipakai dalam dunia magis.

Selepas membaca uraian di atas, kita tidak bisa menganggap persamaan matematika 1 + 1 = 2, karena dari sudut pandang esoteris dan mistis, hanya ada Yang Esa, yang tidak mungkin ditambah atau dikalikan. Jika satu dewa ditambah dewa lain sama dengan 2 dewa, maka keduanya tidak bisa lagi disebut sebagai Yang Esa ideal, abadi, dan khusus. Karenanya, dari kaca mata agama dan magis, 2 selalu menjadi simbol pertentangan antara dua unit yang bersifat relatif, bukannya dua unit yang absolut. Lagi-lagi Agrippa dari Nettesheim memberikan sebuah deskripsi amat bagus tentang keanehan-keanehan religius angka 2: 2 adalah “angka manusia, yang disebut ‘lainnya’” dan 2 adalah angka dunia rendah. Angka ini juga adalah angka perkelaminan dan kejahatan, karena, sebagaimana ditegaskan oleh semua penafsir Injil, dalam kisah penciptaan di Kitab Kejadian ungkapan “dan angka 2 itu dulunya baik” tidak dijumpai pada hari kedua. Oleh karenanya, diyakini bahwa “setan-setan yang menakutkan” dan “ruh-ruh jahat yang mengganggu para pengelana” berada dibawah kekuasaan angka 2. Fakta bahwa “yang kedua” adalah andra (“yang lain”) dalam bahasa-bahasa Skandinavia, sangat sesuai dengan rumusan Agrippa yang menempatkan makhluk-makhluk sebagai “yang lain” terhadap Tuhan.

Dua ada hanya dengan makhluk, karena tanpa polaritas, kehidupan material tidak akan ada. Seperti halnya arus listrik mempunyai kutub positif dan negatif, serta binatang hidup terus menghirup dan menghembuskan nafas melalui aktivitas jantung yang berkontraksi dan berelaksasi, angka 2 terkait dengan semua manifestasi di dunia makhluk. Seperti ditulis dengan citra yang sepenuhnya Islami oleh Goethe, yang seluruh karyanya menunjukkan pengetahuan tentang misteri polaritas:

Im Atemholen sind zweierlei Gnaden …

Du danke Gott, wenn er dich presst

Und danke’ ihm, wenn er dich wieder entlaesst.

(Ada dua keanggunan ketika bernafas …

engkau harus bersyukur ketika

Dia menyempitkanmu dan melapangkanmu.)

Ungkapan di atas memperbincangkan keadaan-keadaan fluktuatif qabdh, “kesempitan”, “tekanan”, dan basth, “kelegaan”, “kelapangan”, seperti pengalaman-pengalaman yang dialami oleh kaum sufi di dunia Islam dan diungkapkan dengan citra-citra yang selalu baru. Seperti halnya perasaan khawatir tidak bisa dipahami tanpa perasaan berpengharapan, kesempitan dan kelapangan pastilah merupakan dua sisi yang tak terpisahkan. Agar dikenal dan diketahui, Tuhan Yang Mahaesa memanifestasikan diri-Nya dalam apa yang disebut oleh Rudolf Otto sebagai mysterium tremendum dan mysterium fascinans. Ide ini telah dikenal dalam tradisi Islam sejak berabad-abad silam, karena kaum Muslim berpandangan bahwa Tuhan memanifestasikan diri-Nya melalui keindahan dan kelembutan-Nya (jamal), serta keagungan dan kekuasaan-Nya (jalal) yang mengacu pada kesempurnaan khas dan tak terlukiskan di mana semua pertentangan menyatu. Sebagaimana mistikus Cabalistik itu, para sufi Muslim mengibaratkan dunia ciptaan sebagai huruf kedua dalam alfabet Arab, yakni b, yang dalam bahasa Ibrani dan Arab mempunyai nilai numerik 2. Seperti halnya Injil yang diawali dengan b’reshit, “Pada awalnya”,  kata-kata pertama dalam Alquran adalah Bismillah, “Dengan nama Allah …”. Dengan demikian, dalam kedua Kitab Suci ini, huruf pertamanya adalah huruf penciptaan, b.

Seorang penyair besar Persia—Jalaluddin Rumi—yang membandingkan kata penciptaan Allah kun (dalam bahasa Arab tertulis KN) dengan sebuah tali terpilin dari dua benang (yang dalam bahasa Inggris disebut twine dan dalam bahasa Jerman Zwirn, yang keduanya berasal dari kata dasar two), menciptakan sebuah simbol dualitas yang indah dalam diri makhluk. Benang terpilin ini terlihat dalam semua manifestasi makhluk, tetapi orang-orang bodoh yang terjerumus untuk mempercayai keanekaragaman tertipu olehnya, sementara orang-orang arif mengetahui bahwa Keesaan tersembunyi di balik keanekaragaman yang kasat mata.

Barangkali cara paling cerdas untuk menunjukkan adanya polaritas dasar yang menjadi sandaran kehidupan adalah mengamati yin dan yang dalam kepercayaan Cina sebagai ungkapan dari sifat aktif dan pasif, laki-laki dan perempuan, orang-tua dan anak, api dan air, siang dan malam, dan semua hubungan komplementer yang ada. Hubungan-hubungan ini luar biasa subtil dan muncul dalam hubungan-hubungan kosmis dan manusia. Sang Mahawujud dan Mahakuasa tampak dalam prinsip yang, sementara rembulan, air, dan ratu tampak dalam prinsip yin. Yin dan yang selalu hadir bersama dan tak terpisahkan, karena mustahil membuat pilihan bagi Yang Esa absolut: kata “wanita” pastilah menyertakan ide “pria,” sebagaimana halnya “sehat” memisalkan adanya “sakit”. (Contoh-contoh ini diambil dari karya mistikus Persia, Rumi, bukan dari khazanah Cina, tetapi secara sangat jelas memperlihatkan hubungan yang-yin). Dalam wilayah pemikiran Cina lainnya, 2 jenis tongkat kecil yang dipakai dalam ramalan-ramalan I Ching menjadi saksi betapa majunya seni ramal-meramal yang didasari oleh konsep-konsep psikologi.

Yin dan yang di Cina merupakan kekuatan alamiah feminin (gelap) dan maskulin (terang). Keduanya berasal dari Satu primordial (T’ai chi). Paduan dua kekuatan ini menciptakan 5 “kekuatan pengubah” atau elemen-elemen yang berasal dari “10.000 hal”.

Karena realitas kejahatan menjadi kesan yang sangat kuat, sebagian agama mengembangkan sebuah pandangan-dunia dualistik. Contoh yang paling terkenal dan masih hidup adalah Zoroastrianisme, agama Iran kuno, dengan sepasang dewanya yang saling bertentangan: Ahura Mazda sebagai dewa terang dan kebaikan dan Ahriman sebagai dewa kegelapan dan kejahatan. Bagi kaum Zoroastrian, segala sesuatu di dunia ini adalah milik dari salah satu kekuatan itu. Hanya saja, dalam sistem-sistem gnostik kemudian, khususnya Manicheisme, prinsip kebaikan secara eksklusif tertambat pada ihwal spiritual, sementara prinsip kejahatan melekat pada segala sesuatu yang bersifat material. Oleh karenanya, jiwa berusaha menjauhi penjara dunia dan tubuh yang jahat dan material.

Karena angka 2 berarti penghancuran kesatuan wujud primordial dan menunjuk pada alienasi makhluk dari sumber tertingginya, agama-agama yang berorientasi mistis lebih menekankan aspek-aspek negatifnya. Sementara itu, agama-agama “profetik” menemukan nilai positif dalam ketegangan antara Yang Satu dan yang banyak, Sang Pencipta dan makhluk, karena tujuan agama-agama ini bukanlah unifikasi makhluk dengan Tuhan Yang Mahaesa (seperti tetes hujan yang lenyap dalam lautan), tetapi dialog kreatif dan kesadaran akan hubungan antara Aku dan Engkau dalam doa. Keterpisahan ini dan ungkapan kerinduannya serta pengembaraan tanpa akhir, yang muncul dari pengetahuan bahwa keterpisahan antaraYang Abadi dan makhluk yang tercipta dalam dimensi waktu tidak bisa dipertahankan, telah menjadi inspirasi bagi banyak penyair di Timur dan Barat. Seorang penyair Jerman, Rudolf Alexander Schroeder, menulis, misalnya: Ich moechte Dir nimmer so nah sein, Dass ich mich nach Dir nicht sehnte…(Aku tidak akan mendekati Engkau sedekat-dekatnya hingga aku berhenti merindukan-Mu…).

Sama halnya, salah seorang pemikir Muslim yang sedikit lebih awal dari Schroeder, yakni Muhammad Iqbal, dalam citra yang benar-benar baru mengekspresikan makna kerinduan, yang dianggapnya sebagai bunga api kreatif manusia yang sesungguhnya dan berbeda dengan kesunyian abadi kesatuan mistis yang menurutnya berbahaya dan tidak produktif. Akan tetapi, kerinduan untuk menyatukan kembali apa yang telah dipisahkan oleh laku penciptaan merasuk ke dalam kebanyakan agama. Dan Goethe kepada kekasihnya berharap bahwa “kata kedua ‘Jadilah !’ tidak akan memisahkan kita dari waktu kedua” (Und ein zweites Wort ‘Es wercle!’  Trenn uns nicht zum zweitenmal …).

Dalam banyak kebudayaan, hubungan seksual ditafsirkan sebagai cara untuk mengatasi oposisi polar antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, dalam tradisi Tantra Hindu dan Buddha, orang berusaha mencapai pengalaman dengan Keesaan absolut melalui praktik-praktik seksual. Dalam ajaran Hindu, bahkan dewa membutuhkan shakti-nya, kekuatan femininnya. Dalam teks-teks mistikofilosofis terdalam dan pada umumnya agak abstrak—seperti Upanishad—pengalaman unio mystica sebanding dengan perpaduan cinta pria dan wanita: “Sebagaimana seseorang yang dipeluk oleh kekasih wanitanya tidak lagi mengetahui apa yang ada di dalam dan di luar”, seorang mistikus, yang dipeluk oleh keesaan absolut, tidak lagi mengenal dualitas antara dewa dan makhluk. Dalam tradisi Yahudi, kaum Cabalis juga berbicara tentang hieros gamos, perpaduan suci antara kekuatan maskulin dan feminin yang dilambangkan dengan pasangan-pasangan yang memberi dan menerima potensi dalam keesaan Tuhan. Ini tampak jelas dalam kombinasi sefira kesembilan, Yesod, dan yang kesepuluh, Shekhinah.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa, dalam banyak tradisi agama, manusia primordial dicitrakan dengan sifat androgini (dalam bahasa Jerman, Zwitter, yang berasal dari kata “dua”) . Ada sekelompok patung Hindu yang menggambarkan dewa setengah laki-laki dan setengah perempuan. Menurut Tacitus, bahkan di dalam agama Teutonic kuno terdapat sebuah wujud androgini yang dinamakan Twisto, yang dianggap sebagai bapak dari Manno, manusia “laki-laki”. Wujud seperti ini, yang dipandang sebagai salah satu kesempurnaan, disinggung dalam sebuah agrafon Yesus yang dikutip oleh Clement dari Alexandria, “Kemudian Salome bertanya kepada Yesus: ‘Kapan kerajaanmu datang?’ Dan Tuhan menjawab, ‘Ketika dua menjadi satu, ketika lelaki menjadi perempuan, dan ketika tidak ada perempuan lagi’.”  Dengan kata lain, kerajaan Tuhan akan berdiri kembali ketika dualitas telah lenyap. Dualitas muncul, sebagaimana dikisahkan dalam Taurat dan Cabala, karena manusia makan dari pohon pengetahuan dan lantas mengetahui eksistensi kebaikan dan kejahatan, kehidupan dan kematian, serta seksualitas. “Engkau telah membahayakan dirimu”, kata Zohar, teks pokok dalam Cabala, “karena segala sesuatu yang berasal dari pohon pengetahuan mengandung dualitas”. Gereja Kristen juga mempunyai interpretasi negatif atas angka 2, yang dipandang sebagai penyimpangan dari ketunggalan, dari kebaikan pertama. Bukankah tertulis dalam Injil bahwa 2 binatang kotor dari setiap ras diselamatkan ke dalam bahtera Nabi Nuh? Selain itu, 2 adalah angka yang diasosiasikan dengan kaum ahli bidah, yang, dalam kata-kata Gregorius Agung, duplex cor, yang memiliki dua hati dan, karenanya, tidak mengikuti Injil dengan sepenuh hati.

Sesungguhnya, hubungan antara 2 dan keraguan dijumpai dalam banyak kebudayaan yang dimulai dengan Janus bermuka dua di Roma kuno. Dalam kebudayaan Persia, berwajah dua berarti “palsu” dan berwarna dua berarti “hipokrit”, sementara orang-orang Arab menyebut seorang hipokrit sebagai “ayah berlidah dua”, atau “berlidah dua”, seperti kata dalam bahasa Jerman doppelzuengig. Segala sesuatu yang ambivalen dan ambigu, seperti ditunjukkan oleh kata ambi (“keduanya”), termasuk dalam wilayah yang tidak pasti (atau twilight, “temaram”) sebagai suatu dilema. Akan tetapi, angka 2 juga mempunyai sifat positif. Misalnya, dalam penafsiran Kristen Abad Pertengahan, angka ini menunjuk pada dua perintah untuk mencintai Tuhan dan mengasihi tetangga. Sifat positif lainnya adalah 2 lembar yang berisikan Sepuluh Perintah, yang berarti dua ciri kewajiban manusia pada Tuhan dan tetangga. Secara lebih luas, kehidupan beragama dapat dibagi menjadi vita contemplativa dan vita activa, yang dipersonifikasikan dengan Rachel dan Leah dalam Kitab Perjanjian Lama, serta Mary dan Martha dalam Kitab Perjanjian Baru. Di lingkungan Cabalis Isaac Luria, Leah, dan Rachel dianggap sebagai dua aspek dari Shekhinah, yang mengeluh selama pembuangannya sebelum menyatu dengan Tuhan.

Dalam agama yang dianut masyarakat luas, khususnya di Timur, kita menjumpai adanya perasaan takut pada angka 2: orang tidak boleh melakukan 2 hal secara bersamaan, menikahkan 2 pasangan pada hari yang sama, atau menikahkan 2 orang kakak beradik laki-laki dengan 2 kakak beradik perempuan. Dua keluarga dekat tidak boleh tinggal dalam satu rumah. HukumYahudi melarang manusia untuk berj alan melewati di antara 2 perempuan, 2 anjing, atau 2 babi, dan 2 orang laki-laki tidak boleh membiarkan binatang-binatang ini melewati mereka berdua. Para petani Kristen di Mesir tidak pernah membaptis 2 anaknya pada hari yang sama di gereja yang sama pula, karena dikhawatirkan salah seorang diantaranya akan meninggal. Takhayul-takhayul serupa dijumpai di bagian-bagian wilayah Balkan tertentu, yang masyarakatnya meyakini bahwa 2 orang tidak boleh minum pada saat yang bersamaan dari sumber air yang sama.

Karena adanya perasaan tidak suka pada dua penampakan atau tindakan yang sama, orang meyakini bahwa dua orang kembar dikelilingi dengan sebuah aura misteri, dan dalam sejumlah peradaban kuno dua orang kembar, atau setidaknya salah satu dari mereka, dibunuh. Di antara beberapa orang India Pantai Barat Laut, orang-tua si kembar harus mematuhi tabu-tabu tertentu, karena diyakini anak kembarnya menguasai air, hujan dan angin, dan keinginan-keinginan mereka dikabulkan oleh kekuatan-kekuatan supranatural. Makna khusus angka 2 juga tampak dalam bentuk-bentuk linguistik: selain disebut ganda, kelompok-kelompok yang beranggotakan 2 sering diberi nama khusus yang dimulai dengan twins (Jerman: Zwillinge). Dua banteng disebut sebuah kuk (yoke, Jerman: ein Jock Ochsen), dan 2 ekor ayam hutan adalah sepasang (brace); orang menyebut sepasang sepatu dan sepasang benda, dan tentu saja duo dan duet dalam musik. Kata dalam bahasa Jerman Zweifel, “keraguan” berasal dari kata two, “dua”, sedangkan dalam bahasa Latin du-bius dan turunan-turunannya, termasuk kata doubt (keraguan). Banyak sekali kata gabungan yang berasal dari kata-kata dalam bahasa Latin di- atau dis-, seperti dispute, discord, atau disagreement, menunjuk pada sifat pembagian (divisive) angka 2.

Meskipun dualitas dan polaritas—dalam arti positif—diperlukan bagi kelangsungan hidup, dalam pandangan dunia para numerolog, angka 2 cenderung bersifat negatif, menimbulkan perpecahan dan pembagian (Zwietracht dan Entzweiung dalam bahasa Jerman), dan kekuatan lain diperlukan untuk mengatasi dunia yang pecah ini. Oleh karena itu, kita beranjak dari kesederhanaan suci (Einfalt) melalui keraguan (Zweifel), menuju Trinitas.

SINTESIS YANG MERANGKUL (3)

Angka ganjil tertua, angka Tuhan setepatnya

Angka langit terkasih, yang titik tengahnya tertutup

dan berjarak sama dari kedua tepinya,

angka pertama yang mempunyai awal, tengah, dan akhir.

(Joshua Sylvester)

Seperti dikatakan oleh Ludwig Paneth, 3 mendorong terbentuknya sebuah integrasi baru tanpa menegasikan dualitas yang mendahului integrasi itu, tetapi lebih tepatnya menguasainya seperti anak sebagai perekat yang menyatukan ayah dan ibunya. Angka 3 berada di luar pertentangan yang disebabkan oleh angka 2, seperti bisa kita lihat dalam ungkapan “menertawakan orang ketiga” dan dalam pepatah Jerman: Wenn sich ihrer zwei streiten um ein Ei, steckt’s der dritte bei (Ketika dua orang berkelahi untuk memperebutkan sebuah telur, orang ketigalah yang akan mendapatkannya.). Karakter misterius angka 3 sering dituangkan ke dalam puisi, seperti dalam Sepmaine yang terkenal karya seorang pemikir Prancis abad ke16, Du Bartes.

Malahan, angka 3 memiliki tiga aspek dan, karenanya, sangat dibutuhkan. Angka ini merupakan angka “nyata” pertama dan angka pertama yang membentuk bentuk geometris: karena 3 titik menutup segitiga, bidang pertama inilah yang bisa ditangkap oleh alat-alat indera manusia. Sekalipun angka ini tampak sepenuhnya intelektual dalam sejarah spekulatif agama, ide dewa tritunggal yang memasyarakat menunjukkan bahwa 3 pasti mempunyai dasar-dasar yang berurat-berakar dalam pikiran manusia. Pada awal Abad Pertengahan, Albertus Magnus juga mengatakan bahwa 3 berada didalam segala sesuatu dan menandakan adanya trinitas dalam fenomena alam. Bagi Wolfgang Philipp, semua wujud mengandung sebuah Ergriffenheit (emosi) tripolar, yang termanifestasi dalam gelombang, radiasi, dan kondensasi, dan ia berpendapat bahwa karena kita merupakan eksistensi tripolar, kita selalu berhubungan dengan trio (tiga serangkai) . Inilah alasan mengapa tiga hal adalah hal-hal yang baik, dan kita merasa senang ketika menemukan prinsip-prinsip aktif, pertengahan, dan pasif kita sendiri teraktualisasi dan sesuai dengan tiga kebaikan itu.

Ketika melihat air, udara, dan tanah, manusia mengembangkan ide eksistensi 3 dunia (yang disebut Midgard, Asgard, dan Niflheim dalam tradisi Jerman). Manusia mengenal tiga zat (yakni padat, cair, dan gas). Manusia menjumpai 3 kelompok makanan (mineral, nabati, dan hewani) dan menemukan akar, batang, dan bunga dalam pohon; dan kulit, daging, dan biji dalam buah. Arah dan bentuk matahari tampak berbeda di pagi, tengah, dan sore hari. Sesungguhnyalah, karena dunia yang kita lihat dan tinggali ini bersifat tiga dimensional, seluruh pengalaman kita terjadi dalam koordinat ruang (panjang, tinggi, lebar) dan waktu (dulu, kini, esok).

Semua kehidupan tampak berada di bawah tiga aspek: awal, tengah, dan akhir, yang dapat diungkapkan dalam istilah-istilah yang lebih abstrak: menjadi, mengada, dan lenyap. Keseluruhan dapat dibentuk dengan tesis, antitesis, dan sintetis. Juga ada 3 warna pokok: merah, kuning, dan biru yang campurannya membentuk semua warna lainnya. Sejak zaman dahulu kala, para pemikir telah berusaha menjelaskan penyingkapan Yang Mahaesa menjadi keanekaragaman yang secara khusus mengacu pada angka 3. Lao-tze berkata, “Tao menciptakan keesaan, keesaan menciptakan dualitas, dualitas menciptakan trinitas, dan trinitas menciptakan segala sesuatu”. Demikian juga, kaum Pythagorean mendalilkan bahwa keesaan yang utuh dibagi menjadi 2 kekuatan yang saling berlawanan untuk menciptakan dunia ini dan kemudian menjadi tritunggal untuk menciptakan kehidupan. Bagi Dante, 3, seperti yang dilihatnya terjalin dalam Trinitas, adalah ajaran cinta, yakni kekuatan sintetis.

Dalam sejarah agama-agama, peran angka 3 telah mendorong terbentuk dan terciptanya beragam kelompok trinitarian dan dewa tricephalic. Pada awal milenium ketiga S.M., kita mengetahui dewa-dewa Sumeria: Anu, Enhil, dan Ea yang melambangkan langit, udara, dan bumi, sementara bangsa Babylonia kuno menyembah trinitas bintang: Sin (bulan), Shamash (matahari), dan Ishtar (Venus), dengan 4 dewa planet yang—bila ditambah dengan trinitas tertinggi—menjadi 7 yang sakral. Dewi Yunani, Hekate, menampakkan diri dalam tiga bentuk yang berbeda: di langit sebagai Selene atau Luna (bulan), di bumi sebagai Diana, dan di dunia bawah sebagai Hekate. Sama halnya, puji-pujian untuk Perawan Maria dalam tradisi Kristen ditujukan kepadanya secara bergantian sebagai ibu, perawan, dan ratu. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam Rgveda, tiga dewa telah dikenal di India kuno, dan sekarang kita mengetahui ada banyak sekali kelompok tiga dewa, seperti Agni, Soma, dan Gandharva. Tiga posisi matahari (pagi, tengah, dan siang hari) sama pentingnya dengan 3 langkah Wisnu yang menyimbolkannya. Ada juga kelompok-kelompok 3 x 11 = 33 dewa, yang diperluas dalam Mahabharata menjadi 33.333. Sekalipun demikian, trio agung ada dalam agama Hindu: Brahma Sang Pencipta, Siwa Sang Perusak, dan Wisnu Sang Pemelihara. Dewa-dewa ini kemudian dijelaskan sebagai 3 aspek dari sebuah realitas yang tak tersentuh. Dalam Buddha Mahayana, khususnya di Jepang, Amida, Sheishi, dan Kwannon merepresentasikan kekuatan-kekuatan langit. Orang-orang Etruscan juga mempunyai sebuah tritunggal suci, tetapi yang lebih terkenal adalah dewa-dewa tritunggal Yunani sebagaimana Homer sebut: Zeus, Athena, dan Apollo. Homer menambahkan bahwa dewa-dewa tritunggal dan sekutunya, kelompok 9, dihubungkan dengan benda-benda atau peristiwa-peristiwa suci. Di Iran pengakuan atas dewa waktu, Zurvan, dan kemudian dewa Mithras sebagai dualisme sejati dalam agama Zoroastrian kuno memperlihatkan bahwa agama ini membutuhkan sebuah kekuatan ketiga yang melampaui Ahura Mazda, prinsip terang dan kebaikan, dan Ahriman, prinsip jahat dan kegelapan. Edda menyebut tritunggal Nordic kuno dalam sebuah ramalan yang berbunyi, “Odin memberi pikiran jiwa Hoenir, cahaya dan warna Lodur”. Tetapi sebelumnya, agama orang-orang Jerman mengakui adanya Odin, Wili, dan Weh, yang berhasil mengatasi kekacauan yang disimbolkan dengan raksasa primordial Ymir dan kemudian menciptakan dunia dari bagian-bagian tubuhnya.

Dewa-dewa tritunggal juga dikenal di Mesir kuno. Dalam agama negara yang berpusat di Thebes, 3 pelaku utamanya adalah Amon, Chonsu, dan dewi Mut, sedangkan tritunggal yang diakui dalam agama gaib tersebut adalah Isis, Osiris, dan anak laki-lakinya, Horus Sang Penyelamat. Dalam agama Kristen, konsep Trinitas sepenuhnya selaras dengan kecenderungan-kecenderungan umum dalam sejarah agama-agama, seperti dikatakan oleh Hopper dalam Medieval Number Symbolism: “Kelemahan pokok ajaran Kristen, sebagaimana kesaksian ajaran Arian, adalah dualitas ketuhanannya. Tuhan Anak adalah langkah pertama untuk menutupi kelemahan ini dan adanya pribadi ketiga, Roh Kudus, menjadi bukti yang tak terbantahkan tentang Keesaan…Pernyataan bahwa Tuhan Bapak dan Tuhan Anak adalah Satu mengundang pertanyaan berdasarkan alasan-alasan numerik dan filosofis. Tetapi Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus tidak bisa diingkari adalah Satu di atas landasan Tiga!”

Disebutkan bahwa St. Ignatius dari Loyola pernah menitikkan air mata ketika melihat sesuatu dalam kelompok-kelompok 3 atau sesuatu yang berkelipatan tiga, karena angka 3 ini segera mengingatkannya akan Trinitas. Misteri tritunggal ini oleh Dante disimbolkan dalam struktur Divine Comedy, yakni karya sastra yang berbentuk terzine 3 bagian sebagai cara terbaik untuk mengekspresikan ideal-ideal trinitarian. Sebaliknya, hampir mustahil untuk merepresentasikan Trinitas Kristen dalam bentuk gambar. Upaya-upaya di Abad Pertengahan, seperti relief Trinitas di Plau di Mecklenburg, menunjukkan kemustahilan tersebut, dan kita bisa sangat mengerti mengapa Paus Urban VIII menganggap sebuah gambar di lantai mosaik katedral Hildesheim (Jerman) sebagai penyimpangan: tritunggal spiritual tidak dapat diekspresikan dalam bentuk gambar.

Dewa-dewa yang lebih rendah biasanya berjumlah 3; ini menandakan keunggulan tersendiri dibandingkan dengan dewa-dewa yang lebih tinggi. Moiras di Yunani dan Norns dalam tradisi Jerman, misalnya, merupakan kekuatan feminin pengendali takdir yang menguasai penciptaan, kehidupan, dan kematian dengan memutar dan memotong benang kehidupan. Angka 3 juga bermakna penting dalam hubungan antarmanusia sebagaimana terlihat dari triumvirat, kekuasaan tiga manusia, dan diktum akademis kuno tres faciunt collegium, yang menggariskan bahwa kehadiran 3 mahasiswa menjadi syarat dilaksanakannya sebuah mata kuliah, dan 3 orang secara bersama-sama dapat mengambil keputusan.

Dalam filsafat dan psikologi, 3 adalah angka klasifikasi: waktu, ruang, dan kausalitas merupakan satu kesatuan. Plato mengatakan bahwa idealitas tersusun dari kebaikan, kebenaran, dan keindahan, sedangkan Agustinus menetapkan kategori mengada, mengetahui, dan berkehendak. Sama halnya, Chandoya Upanishad di India menyebut beberapa kelompok trio, seperti mendengar, memahami, dan mengetahui; dan dalam Upanishad kemudian, 3 nilai dasar yang mengekspresikan keutuhan sebuah wujud suci adalah sat, chit, dan ananda (mengada, berpikir, dan kebahagiaan). Dalam doktrin Zohar, dunia ini diciptakan dari 3 hal, yakni kearifan, nalar, dan persepsi, yang termanifestasi dalam diri Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Bagi kaum Cabalis, trio sepuluh sefirot tertinggi menggambarkan potensi-potensi persepsi; trio menengah, kekuatan-kekuatan primordial kehidupan spiritual; dan trio paling rendah, kekuatan hidup primordial. Manichaeisme mengenal 3 jalan, dan Kuil Grail mempunyai tiga pintu gerbang: iman yang benar, kebersihan, dan kemurahan hati.

Aktivitas-aktivitas spiritual sering diklasifikasikan menjadi tiga. Hegel menulis tentang tiga wujud sebagai Ansichsein, Dasein, dan Fuersichsein. Aktivitas-aktivitas spiritual dibagi menjadi berpikir, berhendak, dan merasa. Proses-proses biologis dalam tubuh juga berjumlah tiga. Ilmu kimia Abad Pertengahan mempelajari 3 materi yang bekerja dalam tubuh manusia, dan ilmu kimia modem mengklasifikasikan materi menjadi asam, basa, dan garam. Sama halnya, fisika bersandar pada hubungan tripartit antara massa, energi, dan kecepatan. Pembagian ruh, jiwa, dan tubuh dipungut oleh kebudayaan Barat dan Islam dari Hellenisme. Berdasarkan Alquran, tawasuf membagi jiwa menjadi 3 tingkatan: jiwa yang mendorong pada kejahatan (QS 12:53), jiwa yang mencela (QS 75:2) , dan jiwa yang tenang (QS 89:27). Menurut aliran Samkhya dalam filsafat India, materi mempunyai 3 sifat ( triguna), yakni tamas, rajas, dan sattva (yang gelap, yang digerakkan, yang ada).

Salah satu tradisi paling menarik menyangkut 3 aspek kehidupan dikisahkan kembali oleh Rueckert dalam puitisasinya atas cerita al-Farabi, seorang filosof dan teoretisi musik Islam yang konon kabarnya pernah memainkan 3 lagu berbeda dengan kecapinya: dengan sebuah lagu yang dimainkannya, ia membuat pendengarnya tertawa; dengan lagu lain ia membuat pendengarnya menangis, dan dengan lagu lainnya lagi ia membuat pendengarnya tertidur.

Tritunggal mempunyai kedudukan penting dalam monoteisme Islam. Pengakuan keimanan Syi’ah—“Tidak ada Tuhan selain Allah; Muhammad adalah utusan Allah; ‘Ali adalah kekasih Allah”—menjadi inspirasi timbulnya banyak sekali pujian kepada tritunggal Allah-Muhammad-‘Ali dalam puisi dan seni dekorasi. Dalam beberapa kelompok Syi’ah ekstrem, bahkan Muhammad, ‘Ali, dan Salman dari Persia dipandang sebagai sebuah tritunggal. Dalam sekte Ahl-i Haqq, yang dominan di Kurdistan, 3 banyak digunakan dalam mitos-mitos kosmogonik. Dalam tradisi Sunni Islam, dua hal penting yang disebutkan dalam Alquran, yakni islam (berserah diri) dan iman (keimanan) ditambah dengan ihsan (berbuat baik); karenanya, agama ini mempunyai aspek tripartit. Hukum Islam juga mengenal tiga kategori: haram (dilarang), halal (diperbolehkan) , dan musyabbih (meragukan) . Kaum sufi, yang membagi jalan kehidupan menjadi syariah (hukum Allah), thariqah (jalan mistis), dan haqiqah (hakikat), dapat disejajarkan dengan orang-orang Kristen yang mengakui via purgativa, via contemplativa, dan via illuminativa. Kaum sufi juga mengakui bahwa yang mengingat Allah (dzakir) dan yang diingat (madzkur) berpadu dalam tindakan mengingat (dzikr), seperti pecinta dan kekasihnya bersatu dalam konsep cinta yang luas. Ucapan-ucapan kaum sufi biasanya dibagi menjadi 3 bagian, sebagaimana penganutnya secara tradisional dibagi menjadi 3 kelompok: awam, elite, dan elitenya elite, yang masing-masing memahami kebenaran secara berbeda-beda.

Dalam agama Buddha, klasifikasi mutiara-mutiara hikmah dan ajaran-ajarannya menjadi tiga mengilhami bentuk-bentuk seperti trikaya, atau “3 tubuh” Buddha, dan Tripitaka, atau “3 Keranjang” ajaran, serta 3 sumber keselamatan: Buddha, dharma (jalan kebenaran), dan samgha (komunitas). Tiga pandangan atau agama yang berbeda sering disebut sebagai sebuah tritunggal, yakni Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme di Cina; dan Kristen, Yahudi, dan Paganisme di Eropa Abad Pertengahan. Protestan, Katolik, dan Yahudi juga dikenal sebagai tritunggal yang tercermin dalam beragam lelucon modern tentang menteri Protestan, pendeta Katolik, dan rabbi Yahudi.

Dalam banyak tradisi, 3 diartikan “banyak”, yakni melampaui dualitas. Aristoteles menunjukkan bahwa 3 adalah angka pertama yang disebut “semua”. Angka ini bersifat kumulatif dan bermakna finalitas: apa yang dilakukan tiga orang menjadi suatu ketetapan hukum. Menurut Hartner, di Mesir kuno angka 3 pada titik tertentu, adalah batas-atas dari penghitungan nyata dan sekaligus sebuah ungkapan dari perkalian yang tidak jelas. Tanda orang Mesir untuk jamak adalah 3 goresan. Dari sudut pandang ini, 3 bisa bermakna superlatif, seperti dalam terfelix (tiga kali kebahagiaan) atau trismegistos (tiga kali kebahagiaan agung) dan pengulangan sebuah kata sebanyak tiga kali juga bermakna superlatif. Petir bercabang 3 dan halilintar 3 kali adalah sifat-sifat kebesaran dewa-dewa kuno. Sebagai angka kesempurnaan dan keutuhan, 3 pun mempunyai peran dalam ritus-ritus pengorbanan di Yunani dan Romawi kuno. Dalam kesempatan-kesempatan khusus, satu dewa disuguhi 3 binatang, seperti seekor babi, seekor domba dan seekor banteng, atau seekor babi, seekor rusa, dan seekor domba jantan. Ide yang sama juga terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama ketika Tuhan meminta Abraham (Ibrahim) untuk mempersembahkan tiga binatang, yakni seekor sapi, seekor kambing, dan seekor domba jantan, yang masing-masing berumur 3 tahun.

Secara lebih luas, angka 3 yang bersifat komprehensif ini bisa menjadi sebuah angka kelompok sederhana: Yunus berada di dalam perut ikan paus selama 3 hari, kegelapan yang menyelimuti Mesir berlangsung selama 3 hari, ada 3 orang laki-laki di neraka, dan Paulus merasakan akibat-akibat dari ekstase 3 hari setelah percakapannya. Demikian juga, kelompok-kelompok 3 yang ada dalam Injil dan sumber-sumber sastra, baik yang elitis maupun populer, menunjukkan angka-angka kelompok, bukannya angka-angka “mistis”, baik menyangkut 3 anak laki-laki dari Adam atau Nuh, 3 prajurit terbaik, 3 raksasa terkuat, atau 3 kekasih terbaik.

Dalam bukunya, Agnostos Theos, Eduard Norden secara tepat sekali menulis bahwa “kekuatan mistis angka 3 yang sakral telah berkembang menjadi bahasa yang dipakai untuk mengungkapkan pemikiran keagamaan”. Kita juga telah menyinggung beberapa contoh ucapan sufi dan tripartisi perkataan Yesus, khususnya dalam Injil Yohanes. Kebangkitan terjadi pada hari ketiga, dan murid-murid Kristus melihat kebangkitannya sebanyak tiga kali. Bukanlah kebetulan adanya 3 pesulap yang memuja seorang anak di Bethelhem, dan surat-surat St. Paulus dan Injil, kata Philipp, “berisikan banyak sekali tritunggal”.

Bangunan-bangunan keagamaan sering berjumlah 3, seperti sinagog Yahudi yang kemudian ditiru oleh arsitek-arsitek Kristen. Ruang tengah gereja yang panjang, dinding, dan tonjolan bangunan gereja diinterpretasikan sebagai misteri Trinitas. Altar juga sering didekorasi dengan sebuah triptych (semacam tiga daun pintu bergambar yang bisa dilipat), yang biasanya menggambarkan 3 babak kehidupan Yesus. Dalam dekorasi arsitektural, khususnya di katedral-katedral Gothic, sering digunakan triskelion. Ada sejumlah tritunggal kebaikan yang oleh para ahli tafsir Kristen Abad Pertengahan diinterpretasikan sebagai ekspresi dari peran sentral Trinitas. Bukankah Yesus sendiri menyebut tiga perannya sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan? Dan bukankah cara kita mengkonseptualisasi dan membentuk kalimat adalah bukti bahwa manusia adalah citra dari Trinitas—imago trinitatis—sebagaimana kata Adam Scot? Sebaliknya, bagaimana cara kita memilih subjek, objek, dan predikat, atau kata benda, kata sifat, dan kata kerja, atau kemarin, sekarang, dan esok untuk menyusun sebuah kalimat yang bisa dipahami? Albertus Magnus melihat 3 macam dan waktu peribadatan dan mendapati “bahwa angka 3 muncul dalam segala sesuatu dan berarti Trinitas dalam fenomena-fenomena alam”.

Tiga bentuk tindakan kita—pikiran, ucapan, dan karya—bersifat ambivalen: bentuk tindakan ini bisa mengarah pada hasil-hasil negatif maupun positif, kebaikan atau dosa. Oleh karena itu, jalan penebusan dosa juga terdiri dari penyesalan, pengakuan, dan pengampunan, serta pertobatan meliputi doa, puasa, dan derma. Tritunggal iman, harapan, dan kasih yang dikatakan oleh Paulus (1 Corintus 13) mewujud dalam kehidupan manusia, dan sebenarnya Louis Massignon percaya bahwa tritunggal inilah yang membedakan 3 agama monoteis besar: Islam (iman),Yahudi (harapan), dan Kristen (kasih).

Para ahli tafsir Abad Pertengahan membagi sejarah menjadi babak ante legem (sebelum adanya wahyu), yakni masa sebelum nabi-nabi; sub lege (ketika wahyu turun), yang digambarkan dengan periode nabi-nabi Israiliyyah; dan sub gratia (dibawah naungan rahmat), yakni masa para rasul. Di sini kita bisa melihat perkembangan sejak turunnya wahyu (Musa) sampai nabi-nabi (Ilyas) dan turunnya Kitab Injil. Yang mencolok adalah bahwa para pendiri 3 agama besar ini diuji dengan berpuasa 40 hari. Agaknya, spekulasi-spekulasi tentang tiga proses dalam sejarah akan berkembang dalam abad-abad selanjutnya. Joachim dari Fiore pada abad ke-13 mengungkapkan harapan bahwa—setelah kerajaan Tuhan Bapak dan Anak—akan berdirilah sebuah kerajaan Roh Kudus yang meliputi semuanya. Simbol 3 lebih kuat daripada kebenaran sejarah, karena simbol ini memenuhi harapan semua orang.

Irama tiga dalam proses-proses sejarah digarisbawahi oleh seorang filosof Islam, Ibn Khaldun, pada abad ke-14. Aspek lain dari 3 adalah fungsinya sebagai bentuk geometris pertama, yakni segitiga, yang ditutup dengan 3 titik dan dibentuk dari 3 garis. Luthi berkata, “Plato ingin membangun dunia dari segitiga-segitiga”. Segitiga atau delta sesungguhnya digunakan dalam gambar-gambar Zaman Batu primitif untuk menunjukan aspek feminin. Bangsa Maya juga menghubungkan 3 dengan perempuan, yang karakteristiknya berupa 3 batu perapian. Pythagoras menginterpretasikan segitiga sebagai “awal perkembangan” alam kosmis karena bentuk-bentuk geometris seperti persegi dan bintang 6 dapat dibentuk darinya. Fungsi penting ini membuat segitiga menjadi sebuah azimat, dan orang-orang suka menggunakan sejumlah kertas berbentuk segitiga untuk tujuan-tujuan tertentu. Kadang mereka menggambarkan mata Tuhan di tengahnya, kadang juga huruf-huruf Ibrani yod-he-waw di titik-titiknya. Dalam sebuah karya yang sangat lengkap tentang agama dan takhayul bangsa Jerman, Handwoerterbuch des deutschen Aberglaubens, disebutkan:

Selembar kertas berbentuk segitiga dengan tiga salib di 3 pojoknya dan seuntai doa di tengahnya akan membantu menyembuhkan encok; lembaran-lembaran kertas berbentuk segitiga di buaian melindungi dari sihir. Pada tahun 1511, Herzog Maximilian dari Bavaria melarang “doa-doa ditulis di atas kertas atau kulit yang berbentuk segitiga”. Di Mesir anak-anak dan kuda dilindungi dari mata setan dengan azimat segitiga. Di Eropa tengah penapis linen dulunya berbentuk segitiga untuk mempermudah pengadukan mentega, dan masyarakatnya pun menggunakan segitiga-segitiga magis. Apa yang disebut segitiga kehidupan, angka-angka segitiga, dan bahkan kue-kue segitiga juga mempunyai fungsi tertentu. Di gubug-gubug pesulap, semua alat dan sarananya berbentuk segitiga.

Segitiga ganda hermetisme, bintang enam, menandakan kombinasi antara mikrokosmos dan makrokosmos. Dalam mistisisme dan magi Kristen, segitiga dan angka 3 selalu mempunyai hubungan khusus dengan Trinitas. Tetapi 3 juga bisa menjadi sebuah angka jahat, karena berkali-kali setan berusaha untuk menyerupai Trinitas dan menampakkan diri dalam 3 bentuk yang mengerikan. Dalam bukunya Divine Comedy, Dante mengubah kisah ini secara amat cerdas dengan menjadikan neraka sebagai parodi dari sistem trinitarian. (Dan jangan lupa bahwa Peter tiga kali menolak untuk mengakui Tuhan). Dalam dongeng-dongeng rakyat, orang sering meninggal 3 hari setelah sebuah ruh atau setan menyentuhnya (keterlepasan dan kepemilikan hantu-hantu juga terjadi pada hari ketiga). Persimpangan 3 jalan (trivium) dianggap sebagai tempat yang berbahaya, dan tiang gantungan berdiri di atas tiga kaki.

Untuk membangkitkan kekuatan jahat, kadang-kadang dikorbankan 3 binatang berbulu atau berkulit hitam (sering seekor rusa, seekor kucing, dan seekor anjing). Di zaman Kristen, binatang-binatang jahat dicitrakan berkaki 3—berubahnya binatang-binatang yang disucikan dalam agama bangsa Jerman kuno menjadi bersifat jahat. Namun, kucing yang berbulu 3 warna dipandang sebagai kekuatan protektif. Odin yang menurut kepercayaan bangsa Jerman mengendarai seekor kuda berkaki 8, di zaman Kristen digambarkan berkaki 3, dan anjing, luak, dan rubah dalam rombongannya juga berkaki 3. Sang kuda mati—Danish—dan kuda-kuda tunggangan setan yang menakutkan pembawa wabah penyakit juga mempunyai 3 kaki, sebagaimana hantu yang membawa penyakit bagi binatang. Bahkan dewi kematian bangsa Jerman kuno—Hella—menunggangi seekor kuda berkaki 3, seperti diceritakan oleh sebuah legenda akhir Abad Pertengahan. Termasuk juga—menurut sumber-sumber Abad Pertengahan—Iblis bisa muncul dalam bentuk seekor kelinci berkaki 3. Dalam takhayul yang populer, bahkan burung bisa mempunyai 3 kaki, seperti burung hantu jahat yang disebut Habergeis dan sering dijumpai di Bavaria dan Tyrol. Seekor anjing berkaki 3 yang berputar-putar mengelilingi rumah menandakan datangnya malapetaka. Bahkan, ada orang-orang yang tidak mau duduk di kursi bertiga karena 3 orang bisa membangkitkan black magic. Makanya, Shakespeare menampilkan 3 tukang sihir dalam Macbeth, dan manteranya diawali dengan ucapan: “Kucing belang mengeong tiga kali”. Pertanyaan tukang-tukang sihir: “Kapan kita bertiga akan bertemu kembali?” adalah ungkapan kunci dalam balada Theodor Fontane yang terkenal, Die Brueck’ am Tay (Jembatan di Tay), dengan akibat yang sama-sama aneh: “Wann treffen wir drei wieder zusamm?”.

Pengulangan pembacaan mantera-mantera tertentu sebanyak tiga kali sangat penting artinya dalam ritus-ritus agama dan magis. Dalam sebuah mantera kuno pada Rgveda berbahasa India, musuh dikutuk “agar terkubur di bawah tiga bumi”, dan angka 3 dijumpai dalam banyak sekali kebaktian di India kuno. Pola yang sama dapat ditemukan pada zaman kuno, sebagaimana penyair Horace berkata-kata kepada dewa Hekate:

Engkau yang tinggal di dekat gunung-gunung di rimba raya

dan menghampiri perempuan-perempuan ketika mereka untuk ketiga kalinya

memintamu menyelamatkan diri mereka, wahai perawan, segala kuasa, tiga bentuk dalam satu!

Bahkan dalam Mirror of Princes yang ditulis di Turki Tengah pada Abad Pertengahan, Kutadgu bilid, vizier “Yang Mulia”, tiga kali menemui raja “Yang Sepenuhnya Terjaga”, dan raja ini dikelilingi oleh 3 penasihat. Tiga pukulan shofar dalam liturgi Yahudi dijelaskan oleh Cabala yang berarti bahwa surat pertama naik ke langit, surat kedua merobeknya, dan surat ketiga membelahnya. Dalam drama karya Goethe, Mephisto mengingatkan Faust, “Du musst es dreimal sagen”, (Faust harus memintanya masuk ke dalam ruangannya sebanyak 3 kali), tetapi permintaan ini tidak dipenuhi. Pemberkatan dan kutukan diucapkan 3 kali agar terkabul. Haine memberikan contoh tiga mantera kutukan yang bernilai sastra dan diulang-ulang dalam selembar kain yang dengan susah-payah dibuat oleh para penenun Silesian untuk bangsa Jerman:

0 Deutschland, wir weben dein Leichentuch,

Wir weben hinein den dreifachen Fluch,

Wir weben, wir weben, wir webwn.

(0 bangsa Jerman, kami sedang menenun kain untukmu,

Kami menyulamkan tiga kutukan,

Kami menenun dan kami menenun dan kami menenun.)

Sama halnya, pemberkatan yang berasal dari zaman dahulu kala, seperti Aaron, yang kini dipakai dalam kebaktian di gereja, sering berupa trio:

Tuhan memberkati dan menjagamu,

Tuhan menghadapkan wajah-Nya untuk menerangimu, dan menyapamu,

Tuhan menatapmu,

memberimu kedamaian.

Trishagion yang didengar oleh Isaiah ini—“Roh Kudus, Roh Kudus, Roh Kudus Tuhan manusia”—juga telah menjadi bagian dari liturgi Kristen, dan sebenarnya orang-orang Kristen membuat tanda salib 3 kali. Pemberkatan dan doa yang diulang tiga kali dalam peribadatan semacam ini juga dikenal luas dalam tradisi Hindu dan Islam. Pada akhir upacara keagamaan, orang-orang Hindu mengucapkan shanti shanti shanti (damai), T. S. Eliot mengutip kata-kata tersebut dalam karyanya, Four Quartets. Kaum Muslim bersumpah dengan berulang-ulang mengucapkan “Demi Allah!” yang mempunyai tiga ungkapan yang berbeda dalam Bahasa Arab—wallahi, billahi, tallahi—dan Alquran menuntunkan puasa 3 hari untuk bertobat (QS 3:92).

Cerita rakyat pada Abad Pertengahan pun menggunakan angka yang berdaya magis dengan berbagai cara, karena 3 merupakan unit terkecil untuk membuat sebuah kotak magis (dengan angka-angka 3 di setiap sisinya). Sebuah dokumen berbahasa Prancis tahun 1429 pertama kali mencatat adanya pemberkatan tiga bunga (biasanya mawar atau teratai) untuk menyumbat luka atau menangkap pencuri, dan pemberkatan tiga bunga ini juga dikenal di Jerman kurang lebih pada abad ke-16 dan setelahnya. Sebuah doa (“Es standen drei Rosen auf unseres Herren Gottes Grab. . .”) menyebutkan bahwa “Ada 3 mawar di atas makam Tuhan kami; mawar pertama menyejukkan, mawar kedua meredakan, dan mawar ketiga menyumbat darahmu”. Dalam sebuah tulisan dari abad ke-12 terdapat sebuah doa 3 orang bersaudara, yang biasanya menjadi bagian dari cerita yang dimulai dengan kalimat berbahasa Latin: “Tres boni fratres per unam viam ambulabant” (Tiga orang bersaudara yang rukun berjalan-jalan bersama di sebuah lorong). Tiga orang yang sedang berjalan-jalan bersama ini biasanya tidak disebutkan namanya, tetapi kadang-kadang mereka diduga sebagai 3 orang rasul, dan di masyarakat Bizantium mereka adalah 3 orang bersaudara yang oleh Ruh Kudus dianugerahi kemampuan untuk mengobati. Mereka menyembuhkan orang-orang sakit tanpa meminta upah dan sering mengumpulkan tanaman-tanaman obat di gunung Olives dan bahkan di gunung-gunung yang dulunya disucikan seperti Olympus.

Sebuah doa yang terkait dengan magi angka 3, Dreikoenigssegen, yang dianjurkan oleh Paus Yohanes XXII pada abad ke-13, sampai sekarang masih tetap dikumandangkan di Jerman dan tempat-tempat lain yang berbahasa Jerman. Di tempat-tempat yang sama kita masih bisa menjumpai huruf-huruf C + M + B, Caspar, Melchior, dan Balthasar, tertulis di atas pintu rumah dan kandang hewan. Huruf-huruf ini biasanya ditulis oleh kelompok-kelompok anak atau remaja pada 6 Januari Epifani. Para pengelana juga meminta perlindungan dari magi 3 dengan sebuah doa abad ke-15: “Caspar me ducat, Balthasar me regat, Melchior me salvet at vitam eternam me perducant” (Semoga Caspar membimbingku, semoga Balthasar menuntunku, semoga Melchior melindungiku, dan semoga mereka membimbingku menuju kehidupan abadi).

Ramalan-ramalan pun sering dilambari dengan peran angka 3. Ramalan di Arab pra-Islam menggunakan 3 anak panah. Selain itu, semua mantera pengobatan harus diulang 3 kali. Ketika seseorang telah diberi susuk—menurut sebuah ungkapan kuno berbahasa Jerman—ia harus melafalkan sebuah doa yang diawali dengan kata-kata berikut ini: “Drei falsche Zungen haben dich beschlossen …” (3 lidah kebohongan telah menipumu, 3 lidah kemuliaan telah menuntunmu). Dan ketika akan disidang di pengadilan, orang harus melindungi dirinya dengan mantera sebagai berikut: “Ich trete vor Richters Haus …” (Aku berangkat ke kantor pengadilan; 3 orang mati tampak dari pintunya: orang pertama tidak berlidah, orang kedua tidak mempunyai paru-paru, orag ketiga sakit, buta dan bisu).

Banyak tradisi di daerah-daerah pedalaman yang memakai pengulangan tiga kali: untuk membiasakan seekor binatang dengan rumahnya, binatang ini harus diputar mengelilingi sebuah kaki meja atau menghadapkannya ke cermin sebanyak 3 kali, dan menghitung uang pada 3 malam suci (malam Natal, malam tahun baru, dan malam Epifani) merupakan cara untuk memastikan agar tidak kekurangan uang sepanjang tahun. Di Turki, seorang tamu umumnya diminta menginap selama 3 hari, 3 minggu, atau 3 bulan; sementara itu, kabarnya ikan mati mulai berbau setelah hari ketiga. Soal-soal dan teka-teki dibacakan sebanyak 3 kali atau dalam bentuk tripartit. Bahkan ada sebuah permainan yang disebut “3 Soal di Balik Pintu”. Model teka-teki tripartit mungkin berasal dari teka-teki tentang sphinx: “Makhluk apa yang mula-mula berjalan dengan 4 kaki, kemudian 2 kaki, dan akhirnya 3 kaki?” (Jawabannya: manusia!). Tiga adalah sebuah bilangan penting dalam tradisi Mesir kuno. Misalnya, orang yang terdampar di pantai bisa hidup dengan jantungnya selama 3 hari dan dewa ular menanyainya sebanyak 3 kali.

Dongeng-dongeng sering mengisahkan 3 manusia, binatang, atau benda. Biasanya, anak ketiga dan termuda pada akhirnya menjadi anak yang beruntung. Dalam sebuah dongeng Jerman, seorang gadis meminta 3 binatang yang ada di rumah di mana ia dikurung: Scoen Huehnchen, schoen Hahnchen, and du schoene bunte Kuh…(Anak ayam yang jelita, ayam jantan kecil yang manis, dan sapi belang yang cantik—bagaimana pendapatmu tentang hewan-hewan ini?). Tempat-tempat dan pemberhentian-pemberhentian di jalan biasanya juga diulang sebanyak 3 kali dalam dongeng-dongeng, dan tokoh utamanya sering meminta 3 permintaan: lazimnya, permintaan ketiga dimaksudkan untuk menghapus dua permintaan pertamanya yang tidak dipikirkan secara masak-masak. Struktur cerita yang sama juga ditemukan dalam lelucon di mana tokoh ketiga mengecoh dua tokoh sebelumnya dengan kecerdasan atau kebodohannya.

Peristiwa-peristiwa berlangsung selama 3 hari 3 malam, atau lainnya selama 3 bulan atau 3 tahun. Kadang kala, tokoh utamanya ditawari 3 minuman—susu, air, dan anggur—dan diminta untuk memilih mana yang disukainya. Cerita yang terakhir ini juga ditemukan dalam kisah Islam populer tentang Isra Miraj Nabi Muhammad saw. Aksi segitiga antara tokoh utama, musuh, dan penolongnya yang terjadi dalam kehidupan nyata menjadi tema favorit dongeng-dongeng. Tiga tokoh juga biasa dijumpai dalam syair rakyat. Dalam lagu-lagu rakyat Jerman, misalnya, bisa ditemukan tamsil-tamsil tentang Trinitas yang berupa “Es bluehen drei Rosen” (3 mawar tumbuh dari satu cabang…), atau seorang gadis yang mengeluh karena tertimpa masalah pelik (3 teratai, 3 teratai aku tanam di atas kuburku…), atau seorang tentara yang melihat 3 burung gagak sebagai pertanda buruk: “Drueben am Wegesrand sitzen drei Raben” (Di tepi jalan aku lihat 3 burung gagak—akankah aku menjadi orang pertama yang dikubur?).

Di wilayah Anglo-Saxon terdapat lagu-lagu seperti “3 Orang Periang dari Wales” dengan pengulangannya, atau “Perlombaan”, yang bercerita tentang: Berlompatanlah Hawkyn, Menarilah Dawkyn, menteruplah Tomkyn. Dan puisi-puisi tak bermakna mempunyai rima tiga-tiga:

Tiga anak tikus dengan topi-topi hitam,

Tiga anak bebek dengan rumah-rumah jerami temaram,

Tiga anak anjing dengan ekor-ekor pendam,

Tiga anak kucing dengan selubung-selubung setengah

Keluar berjalan-jalan dengan dua anak babi gajah

Dengan terompi kain satin dan rambut palsu merah

Syair rakyat, lagu anak-anak, dan puisi yang bernilai sastra tinggi sering berisi kata-kata, frase-frase atau kadang-kadang sebuah kalimat yang diulang tiga kali. Mantera-mantera seperti hop hop hop atau hip hip hurrah atau kling klang kloria banyak ditemukan di mana-mana. Dalam puisi Turki, rima tiga (abab, cccb, ddbd, dan seterusnya) menciptakan pola mnemonik, sedangkan pengulangan kata nyata-nyata menunjukkan penekanan makna, seperti dalam sajak anak-anak Jerman “Ein Schneider fing ‘ne Maus”:

Penjahit menangkap tikus, Penjahit menangkap tikus,

Penjahit menangkap tikus, Penjahit menangkap te-ti-tikus

Ketika anak-anak Amerika berkata-kata dengan irama hitungan: Tiga anak kucing kehilangan sarung tangannya. Ketika anak-anak Prancis dibesarkan dengan syair-syair semacam ini: Quand trois poules vont au champ (Tatkala tiga ayam betina pergi ke ladang) dan anak-anak Jerman dengan: Drei Gans’ im Haberstroh (Tiga angsa di jerami gandum). Angka 3 ini menjadi sangat terbiasa bagi mereka: dalam kehidupan mereka terkemudian ketika mencucurkan “darah, keringat, dan air mata”, atau menikmati “anggur, wanita, dan lagu”, anak laki-laki tetap disebut Dreikaesehoch dalam bahasa Jerman (3 keju tebal) atau tumbuh menjadi seorang yang gemuk, “laki-laki 3 botol”. Terakhir, 3 genggam abu dimasukkan ke dalam peti mati.

Menninger menunjukkan bahwa ide-ide tradisional yang berkenaan dengan angka 3 juga ditemukan dalam ungkapan dan istilah teknik. Drillich (kain kasur) adalah kain mentah yang ditenun dengan tiga helai benang. Dari kata kuno trivium (persimpangan), juga 3 pelajaran pemula yang terdiri dari tata bahasa, dialektika, dan retorika, muncullah kata trivial (sepele). (Quad-rivium berisikan sains-sains tingkat lanjut: aritmatika, geometri, astronomi, dam musik.) Bukan hanya kata travail dalam bahasa Prancis (kerja) tetapi juga travel dalam bahasa Inggris (perjalanan) berasal dari nama sebuah alat kuno untuk melakukan penyiksaan, tripalium—yang mengekspresikan sejumlah perasaan manusia.

Akan tetapi, marilah kita buat kesimpulan yang lebih menyenangkan. Dreimaederlhaus, operet tentang masa-masa muda Schubert dengan tiga gadis, mengantarkan kita pada peran angka 3 dalam musik. Di sini kita mendapati bukan hanya trio yang harmonis, namun juga bentuk tripartit sonata dan simfoni yang ideal, trio senar, dan tiga bagian tarian atau musik (minuet). Dalam musik India, ada yang namanya tintal, sebuah irama yang didasarkan pada sistem tiga (meskipun orang-orang yang tidak ahli sulit untuk mengetahuinya). Irama tiga yang paling menyenangkan adalah waltz yang telah menjadi ekspresi ideal tarian kegembiraan dan makanya sangat bertentangan dengan irama mars empat turun-ke-bumi.

ANGKA SEMPURNA DUNIA MAKHLUK (6)

“Enam dipandang sempurna

bukan karena Tuhan menciptakan dunia selama 6 hari,

tetapi Tuhan menyempurnakan dunia selama 6 hari,

karena 6 adalah angka sempurna”.

(Hrabanus dan Maurus)

Dalam sistem-sistem kuno dan Neoplatonik, 6 adalah angka paling sempurna karena merupakan penjumlahan dan hasil perkalian dari bagian-bagiannya. Angka 6 adalah hasil penjumlahan dari 1 + 2 + 3 atau hasil perkalian dari 1 x 2 x 3. Selain itu, 6 merupakan hasil perkalian dari angka-angka maskulin pertama (2) dan feminin pertama (3). Dari sudut pandang psikologi, 6 merepresentasikan kombinasi antara analisis dan sintesis dalam bentuknya yang paling sederhana: 2 x 3. Angka 6 merangkum semua bentuk geometris (titik, garis, dan segitiga), dan karena kubus tersusun dari 6 persegi, maka 6 merupakan bentuk ideal bagi konstruksi tertutup apa pun.

Para ahli tafsir Injil merasa senang setelah menemukan sifat-sifat matematis ini, karena mereka tahu bahwa Tuhan menyempurnakan proses penciptaannya dalam waktu 6 hari. Bagi Philo dan para penerusnya, hal ini sama sekali tidak mengherankan. Agustinus mempunyai pendapat serupa dan bahkan berhasil membagi 6 hari tersebut menjadi 3 bagian: pada hari pertama Tuhan menciptakan cahaya, pada hari kedua dan ketiga Tuhan menciptakan langit dan bumi, fabrica mundi dan pada 3 hari terakhir Tuhan menciptakan makhluk-makhluk individu, sejak dari ikan sampai manusia laki-laki dan perempuan. Akibat terpesona oleh makna angka 6, sebagian ahli tafsir melangkah sangat jauh untuk menelaah pembuka Kitab Kejadian berbahasa Ibrani, b’reshit (“pada mulanya”), secara berbeda guna memahami frase bara shith, “Dia menciptakan Enam”.

Doktrin penciptaan selama 6 hari menggiring manusia untuk mengatur 6 hari kerja selama satu minggu dan 1 hari libur. Logikanya, kita juga bekerja selama 6 tahun yang kemudian diikuti dengan 1 tahun bersuka-ria: pada tahun ketujuh tanah tidak ditanami, “tahun Sabath bagi tanah” sehingga orang-orang miskin dapat memakan apa yang tumbuh di ladang-ladang tanpa perlu menaburi benih sebelumnya. Fakta bahwa seraphim (sembilan malaikat tertinggi) dalam pandangan Yesaya mempunyai 6 sayap menunjuk pada kesempurnaannya. Tradisi Kristen bukan hanya mengakui kesempurnaan angka 6, tetapi juga mengaitkannya dengan penyaliban Yesus, yang terjadi pada hari keenam dalam minggu tersebut dan selesai pada jam keenam hari itu. Jam keenam ini (sexta) kemudian diserap oleh bahasa Italia menjadi siesta, “istirahat di sore hari”. Dalam Matius (25:34-36), 6 dianggap sebagai simbol vita activa, “nyawa dari karya-karya unggulan”. Sementara itu, dalam Kitab Perjanjian Lama, 6 dianggap sebagai persiapan libur atau perampungan, yang akan berlangsung pada hari atau tahun ketujuh. Maka, sebagaimana Injil sebutkan, 6 malaikat meniup terompet selama Pengadilan Hari Akhir berlangsung, dan malaikat ketujuh mulai meniup terompetnya ketika Misteri Suci telah tuntas.

Angka 6 juga menempati kedudukan tinggi dalam Zoroastrianisme, yang mengaitkan 6 masa penciptaan dengan 6 malaikat tertinggi, Amesha Spentas. Lagi-lagi, 6 makhluk spiritual ini dilengkapi dengan Ahura Mazda, dewa kebaikan yang merupakan makhluk spiritual tertinggi ketujuh dan meliputi segala sesuatu. Dan karena 6 masa penciptaan, maka Zoroastrianisme mempunyai 6 hari besar. Keterkaitan antara 6 dengan penciptaan pun dikenal dalam tradisi Islam, tetapi sering dinisbatkan pada aspek negatif. Para mistikus dan penyair menganggap dunia ini sebagai sangkar kubus di mana mereka terpenjara dan berusaha melepaskan diri dari panca-indera dan empat unsur alam, tetapi sia-sia. Sementara itu, Para penyair Persia menyebut keadaan semacam ini sebagai shashdara, “pintu 6”, yakni keputus-asaan seorang penjudi ketika bermain triktrak.

Penghargaan yang lebih positif atas angka 6—yang lagi-lagi berkaitan dengan dunia penciptaan—bisa dilihat dalam tradisi Hermetik. Di sini heksagram—yang merupakan kombinasi dari 2 segitiga, satu menghadap ke atas dan satunya ke bawah—menggambarkan makrokosmos. Dalam tradisi India kuno, misalnya, bentuk ini mengekspresikan paduan segitiga kreatif Wisnu dengan segitiga destruktif Siwa, dan melambangkan penciptaan dan penghancuran dunia materi. Segitiga yang menghadap ke atas dijadikan simbol aspek-aspek kehidupan yang positif dan baik, sedangkan segitiga yang menghadap ke bawah merupakan simbol materi, kejahatan, dan kehancuran. Heksagram dapat diinterpretasikan sebagai polaritas antara ruh dan materi, Tuhan dan kekacauan, transenden dan imanen, yang lagi-lagi menggambarkan dunia makhluk dan aspek kehidupan yang maskulin (ke atas) dan feminin (ke bawah).

Tidak jelas seberapa jauh heksagram ini dikenal dan dipergunakan di zaman kuno. Yang jelas, heksagram muncul di Timur Dekat, tetapi asosiasi “bintang Daud” dengan agama Yahudi pertama-tama terjadi pada abad ke-17. Dalam mistisisme Kristen, heksagon menyimbolkan polaritas, tetapi setengahnya juga menggambarkan zodiak. Di pintu katedral di Freiburg, Jerman, kita mendapati dua baris nama malaikat yang masing-masing berisi 6. Ini diinterpretasikan sebagai wujud alegoris dari 6 kebajikan Kristus. Kebajikan-kebajikan ini, bila diteladani oleh manusia, membentuk tameng iman heksagonal. Peran heksagon dalam membangun dunia, sebagaimana yang dipahami secara simbolis dalam tradisi-tradisi kuno, menjadi jauh lebih jelas setelah dilakukan penelitian ilmiah. Sebenarnya, heksagon merupakan prinsip pembangun ideal, laiknya sarang lebah dan butir salju, yang bentuknya mengundang pesona para peneliti sejak dahulu kala.

ANGKA KEBERUNTUNGAN (8)

Octonarius primus in numeris cubicis est,

aeternae beatitudinis in anima et corpore stabilitatem simul at solidetatem designans

(Delapan sebagai hasil dari pangkat tiga pertama [23],

tertanam di dalam tubuh dan jiwa kita yang dikuatkan dengan kebahagiaan abadi).

—Gernot von Rechersberg

Pada zaman klasik, angka 8 dipandang menarik karena alasan-alasan matematis semata. Para matematikawanYunani kuno menemukan bahwa setiap angka ganjil di atas 1, bila dikuadratkan, akan menghasilkan perkalian 8 ditambah 1. Misalnya, 52 = 25 = (3 x 8) + 1, yang dituangkan dalam rumus u2 = (n x 8) + 1. Mereka juga menemukan bahwa semua kuadrat angka ganjil di atas 1 saling berbeda, dengan selisih perkalian 8. Misalnya, 92-72 = 81-49 = 32, atau 4 x 8. Dalam desain arsitektur, oktagon (segidelapan) adalah bentuk transisi pertama dari persegi menjadi lingkaran, yang amat penting untuk membangun kubah.

Sebenarnya, angka 8 lebih menarik dari sekadar sebagai sebuah entitas matematis. Pada zaman dahulu, 8 dianggap sebagai angka keberuntungan yang menonjol. Diperkirakan langit kedelapan, sebagai tempat bintang-bintang yang berkedudukan tetap, terletak di luar 7 langit. Sebagai “angka para dewa,” 8 sudah ditemukan di Babilonia kuno. Di kuil-kuil Babilonia, dewa tinggal di dalam sebuah ruang gelap pada gedung kedelapan, dan mungkin pengasosiasian angka 8 dengan surga dilatari oleh anggapan semacam itu. Dalam misteri-misteri Mithraik, juga dijumpai adanya pintu gerbang kedelapan yang misterius selain 7 pintu utama. Dengan melewati “gunung transubstantiasi” ini, seorang ahli, setelah meninggal, dapat kembali ke tempat asal spiritualnya yang berkilauan cahaya.

Hubungan 8 dengan surga masih terus terpelihara selama berabad-abad. Kaum Muslim mempercayai adanya 7 neraka dan 8 surga, yang menunjukkan bahwa rahmat-Nya lebih besar daripada murka-Nya. Kepercayaan ini dikuatkan dengan beberapa karya sastra Persia yang berjudul Hasht Bihisht (Delapan Surga) dan terefleksikan dalam pembagian taman-taman di Iran dan India menjadi 4 dan 8. Hubungan ini tampak khusus ketika taman-taman itu mengelilingi sebuah makam besar, sebagaimana dijanjikan Alquran, “taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai” dan taman dengan 8 bagiannya itu menggambarkan kebahagiaan surga. Kebiasaan membagi taman-taman menjadi 8 bagian tertuang dalam salah satu karya sastra Persia paling terkenal pada Abad Pertengahan, Gulistan (Taman Mawar), gubahan Sa‘di, yang dibagi menjadi 8 bab. Susunan buku ini mengikuti pembagian taman-taman itu. Sejalan dengan 8 surga, mitologi Islam juga mengenal 8 malaikat penyangga singgasana Tuhan.

Di wilayah Timur Dekat, angka 8 juga mempunyai kedudukan penting dan dipandang sebagai angka keberuntungan. Orang-orang Elamite mengenal satu tahun Venus yang terdiri dari 8 bulan, yang diekspresikan secara simbolik dengan sebuah bintang bertitik 8. Seperti pentagram, bintang ini merupakan simbol Ishtar, dewi cinta dan kesuburan. Simbol ini merasuk ke dalam agama Kristen awal sebagaimana yang terdapat di dalam makam-makam St. Priscilla di Roma disertai dengan gambar Perawan Maria. Secara lebih umum, bintang bertitik 8 dan oktagon diambil oleh orang-orang Yahudi dan kemudian orang-orang Kristen sebagai tanda keberuntungan.

Delapan adalah permulaan kedua pada tingkat tinggi, yakni meneruskan apa yang telah dipersiapkan dan dituntaskan oleh tujuh. Oleh karena itu, delapan menjadi hari purifikasi dalam tradisiYahudi. Yang lebih penting lagi, hari purifikasi ini adalah hari kedelapan saat berlangsungnya khitanan, “Dan pada hari kedelapan daging kulupnya harus dikhitan” (Lev. 12:3). Kiranya amatlah tepat bagi para ahli tafsir Kristen untuk mengambil ide regenerasi, bahwa kebangkitan Kristus terjadi pada hari suci kedelapan, yang menjanjikan kemenangan akhirat dan kehidupan abadi bagi orang-orang yang mengimaninya. Selain itu, namaYesus dalam huruf Yunani, IHESOYS, mempunyai nilai numerik 888, hasil perkalian dan penguatan dari angka 8 yang sakral.

Bagi para pendeta, khitan, pembaptisan, dan kebangkitan saling terkait secara misterius yang menunjukkan pintu masuk ke dalam keselamatan hidup. Perribaptisan, kata Agustinus, adalah khitan hati, dan pada hari pembaptisan, kata Cyril dari Alexandria, “Kita diserupakan dengan Kristus yang telah bangkit laiknya ruh kita telah mati karena pembaptisan, dan kita menjadi saling berteman dalam kebangkitan itu”. Hubungannya dengan hari kedelapan ini, yakni hari khitanan dan kebangkitan, adalah salah satu alasan mengapa tempat-tempat pembaptisan Abad Pertengahan berbentuk oktagobal. Baptis menjanjikan keanggunan suci Kristen dan kebahagiaan hidup abadi. Bahkan, Dante secara tepat telah menempatkan kejayaan gereja di surga kedelapan dalam karyanya Divine Comedy.

Dalam Khotbah di Atas Bukit, Kristus menyebut 8 kebahagiaan, tetapi sesungguhnya 8 jalan kebahagiaan menuju kebahagiaan abadi ini adalah konsep yang universal. Jika Buddha mengajarkan delapan jalan kemuliaan menuju keseimbangan kosmis, tuntunan-tuntunan dasar bagi kaum sufi dalam Islam juga diekspresikan dalam 8 kalimat yang disebut Jalan Junaid. Ide 8 sebagai angka keberuntungan, yang terefleksikan dalam ajaran Buddha dan beragam penggunaan angka 8 dan kelipatannya dalam Buddhisme, berasal dari tradisi India. Dalam tradisi India, bunga teratai bermahkota 8 menggambarkan keberuntungan dan kebahagiaan. Di Cina angka 8 juga sangat dihargai, bukan hanya dengan 8 simbol Buddhisme tetapi juga 8 ajaran mulia Konfusianisme. Jika membagi dengan angka 4 (angka dunia makhluk yang sangat tertata)—perkalian angka-angka genap dengan 2 sering dipakai untuk mempertahankan kekuatan yang lebih besar—kita mendapati 8 angin, 8 kaki langit, dan 8 pintu gerbang bagi awan-awan hujan. Sebagai sebuah angka genap, 8 dalam kebanyakan tradisi dihubungkan dengan jenis kelamin perempuan. Namun, di Cina, angka ini menentukan kehidupan manusia: manusia tumbuh gigi susu pada usia 8 bulan, gigi susu ini tanggal pada usia 8 tahun, masa puber datang pada usia 2 x 8 dan manusia kehilangan daya seksualnya pada usia 64 tahun (8 x 8). Selain itu, seorang intelektual dibedakan dengan 8 simbol. Dan ciri 8 sebagai bilangan keberuntungan dan kesempurnaan mungkin mendasari 8 x 8 = 64 konfigurasi I Ching.

Dalam banyak kasus, seperti telah disinggung sebelumnya, 8 tampak mengekspresikan 4 yang telah diberdayakan, dan 8 kaki kuda dewa Odin di Jerman menunjukkan kecepatannya. Tetapi 8 kaki ini bisa juga merefleksikan konsep pembagian cakrawala nordik kuno (menggandakan titik-titik kardinal) dan konsep tahun. Dalam tradisi Jerman kuno, roda berjeruji 8 sering dipakai untuk simbol tahun. Delapan adalah angka kelompok, seperti dalam ungkapan Jerman acht Tage (8 hari) , yang sebenarnya berarti satu minggu dengan 7 harinya. Di Prancis 8 juga dianggap sebagai angka kelompok, seperti dalam ungkapan huitjours (8 hari) . Sama halnya dalam tradisi Jepang, 8 meliputi “angka-angka infinitif” dan pada zaman kuno, Jepang yang terdiri dari banyak sekali pulau disebut “8 pulau besar”. Namun, anehnya, meski mempunyai ciri-ciri keberuntungan, 8 jarang menduduki peran penting dalam agama-agama besar dan sihir. Meski demikian, di Jerman terdapat banyak sekali pasangan yang ingin melangsungkan pernikahannya pada 8.8.88, sebuah hari keberuntungan.

3 KUADRAT SUCI (9)

Tiga kali milikmu, dan tiga kali milikku,

Dan tiga kali lagi, menjadi sembilan.

Salam damai! Pesonanya telah pudar.

—Shakespeare

Angka 9 dapat diinterpretasikan secara bermacam-macam. Pada suatu ketika aspek negatifnyalah yang ditekankan, misalnya oleh Petrus Bungus yang menyamakan 9 dengan sakit dan kesedihan dan mengatakan bahwa mazmur kesembilan berisi ramalan tentang Antikristus. Angka 9 lagi-lagi dikaitkan dengan penderitaan karena fakta yang menunjukkan bahwa Kristus meninggal pada jam sembilan (dihitung sejak matahari terbit pada jam 3 sore). Maka, jam sembilan ini dianggap sebagai “ketiadaan” (none), yang kemudian ditandai dengan kebaktian monastik tertentu, sementara kata none itu sendiri telah berubah menjadi noon (tengah hari).

Interpretasi lain yang telah dikenal sejak zaman kuno menekankan watak angka 9 yang nyaris sempurna. Troy dikepung selama 9 tahun, dan Odysseus menempuh perjalanan dalam rentang waktu yang sama. Interpretasi khas Kristen Abad Pertengahan ini dilatari oleh perumpamaan sepotong perak yang hilang (Lukas 15:8-10). Sembilan malaikat dalam interpretasi itu (dan dalam Dante) adalah refleksi dari kesempurnaan angka 3, yang kemudian dilengkapi dengan Tuhan Esa yang meliputi segala sesuatu sehingga membentuk keutuhan 10. Interpretasi “surgawi” lain atas angka 9 bisa ditelisik dari perannya sebagai hasil 8+1, keindahan yang agung dan tinggi.

Namun demikian, dalam kenyataannya, angka 9 tidak mendapat tempat yang sangat mencolok di dunia Semitik, termasuk Judeo-Kristen. Makna pentingnya berkaitan dengan tradisi-tradisi Indo-Jerman dan Asia Tengah (Turco-Mongolia) yang tampaknya khas bagi peradaban-peradaban di dunia belahan utara. Bahkan, ada spekulasi yang menyebutkan bahwa makna penting itu merupakan hasil dari pengalaman 3 bulan di musim dingin beku yang berkebalikan dengan bulan-bulan musim panas yang menyengat. Akan tetapi, spekulasi ini agak sulit dipertahankan. Dalam banyak tradisi di peradaban-peradaban utara itu, 9 dihubungkan dengan langit, dan langit kesembilan sebagai yang tertinggi berada di luar 7 langit berplanet dan kolong langit atas yang di sana bercokol bintang-bintang dengan kedudukan tetap. Tradisi Persia dan Turki, dan judul-judul buku, sering menyebut nuh sipihr (sembilan langit). Mircea Eliade mengatakan bahwa sembilan langit ini adalah tiga kali daerah-daerah kosmis kuno, yang juga mempunyai pohon kosmis bercabang 9. Keterangan ini bisa menjelaskan mengapa pagoda 9 bangunan populer di Cina.

Kedudukan 9 yang serupa bisa dijumpai di dalam filsafat Ikhwan ash-Shafa dengan 9 tingkat eksistensinya: satu Pencipta, 2 jenis intelek, 3 jiwa, 4 jenis materi, 5 jenis alam, alam badaniah yang ditentukan dengan 6 arah, 7 langit berplanet, 2 x 4 unsur, dan terakhir 3 x 3 tingkat kerajaan binatang, tumbuhan dan mineral. Di beberapa peradaban, 9 dikaitkan dengan fase-fase bulan. Di Meksiko kuno, bulan purnama didahului dengan bulan sepenggalah, bulan sabit, bulan seperempat pertama, dan oktan ketiga. Setelah purnama, bulan kembali turun setinggi sepenggalah. Berdasarkan gerakan-gerakan periodik ini, seluruh kosmos kemudian dibagi menjadi bermacam-macam lapisan: 9 lapisan dunia rendah dan 13 lapisan langit, dengan bumi sebagai semacam zona perantaranya. Dua puluh tiga lapisan ini, bila ditambah angka 5 yang sakral dan dikaitkan dengan zaman-zaman yang tergelar di dunia ini, menjadi 28, yakni angka bulan. Makanya, di Meksiko 9 adalah simbol dunia rendah, bumi, dan—berkebalikan dengan tradisi-tradisi di Eropa dan Asia—perempuan.

Sembilan sungai yang mengalir di lapisan terbawah di dunia rendah, menurut mitologi Meksiko kuno, juga ditemukan di Cina kuno, tetapi di sini 9 menjadi angka laki-laki yang khas, yaitu 3 kuadrat suci. Sembilan sungai di dunia rendah Cina memanifestasikan diri menjadi seekor naga berkepala 9. Naga ini dibunuh oleh pahlawan mitis, Yu, yang untuknya seekor kura-kura membawakan kotak magis pertama yang tergambar di punggungnya. Kotak magis ini, dibagi menjadi 9 kotak kecil yang mengitari angka sentral 5. Seluruh dunia ini dianggap berisi kelompok-kelompok 9: langit mempunyai 9 lapis; bumi terdiri dari 9 negara; setiap negara mempunyai 9 barisan pegunungan; setiap pegunungan memiliki 9 jalan setapak; dan lautan memiliki 9 pulau. Kota Beijing yang dibangun ribuan tahun silam dengan bantuan para astrolog terdiri dari sebuah pusat dan 8 jalan menuju pusat kota itu; kota ini mencitrakan 9 struktur.

Pembagian daerah-daerah menjadi 9 bagian yang mengitari pusatnya sebagai titik kesembilan juga dikenal dalam peradaban-peradaban lainnya. Meskipun dalam tradisi Cina terutama dikaitkan dengan surga dan ihwal kosmologis, 9 juga diidentifikasi sebagai 9 lubang tubuh manusia dan 9 jenis harmoni. Bahkan rubah-bulan mitis dianggap mempunyai 9 ekor. Dan untuk menekankan nilai penting Lao-tze sebagai seorang guru yang arif, dituturkan bahwa ia lahir setelah janin dirinya di dalam kandungan ibunya berumur 9 x 9 tahun.

Sebagaimana bangsa Cina, orang-orang Mongol dan Turki sangat menyukai angka 9. Salah satu suku terkenal di Turki dinamakan Tokuz Oguz, 9 Oghuz. Khan Agung dari Mongol, yang dihadapannya orang-orang menyiksa diri 9 kali, memakai 9 panji atau, dalam kasus Jenghis Khan, 9 ekor yak. Seorang penyair Turki abad ke-11 dari Asia Tengah, Yusuf Khass Hajib, yang menulis epos Kutadgu bilig (Ilmu tentang Cara Meraih Kebahagiaan), membandingkan matahari terbit dengan datangnya penguasa yang di depannya diiringi 9 panji berwarna emas (kuning adalah warna kebanggaan bangsa Turki) . Orang-orang Turki mengenal 9 langit “karena tidak ada apa pun di luar 9”. Sebenarnya, angka ini mempunyai kedudukan yang lebih penting. Menurut sumber-sumber berbahasa Arab Abad Pertengahan, misalnya saja, hadiah-hadiah biasanya disusun dalam kelompok-kelompok 9, dan tokuz (9) berarti “sebuah hadiah” karena hadiah-hadiah—bahkan di Moghul India—lazimnya berisi 9 bagian. Para penguasa Tatar khanate di Crimea menerima 9×9=81 buah hadiah! Di Moghul India, di mana banyak adat-istiadat Turki masih terpelihara, seorang penulis sejarah, Abu’l Fazl, mencatat bahwa seorang pejabat tingkat tarkhan tidak dapat dikenakan hukuman sejauh ia tidak melakukan tindak kejahatan lebih dari 9 kali. Sementara itu, dukun-dukun di Siberia dulu meminta 9 bocah laki-laki dan 9 bocah perempuan lugu untuk mendampinginya sebelum memulai ritus-ritus magisnya.

Dengan berbagai asosiasi tersebut, bisa dipahami bila 9 kemudian berkembang menjadi sebuah angka kelompok dalam tradisi Turki. “Jika hari-hari Rabu dalam 9 bulan berpadu menjadi satu”, misalnya, maka ini berarti bahwa pekerjaan seseorang sudah sedemikian sempurna sehingga hampir-hampir tidak bisa dilengkapi lagi. Sesuatu yang berada “di bawah 9 simpul” akan terjaga dengan aman. Orang yang terusir dari 9 desa adalah orang yang sangat malang dan tercampakkan di mana-nana. Anak atau binatang, yang disebut dokuz babali (dengan 9 ayah) adalah anak haram. Namun, bila seseorang disebut “1 rod untuk 9 laki-laki buta”, pastilah ia merupakan satu-satunya penolong semasa kesusahan dan penderitaan.

Angka 9 mendapat penghargaan serupa di dunia Jerman Anglo-Saxon. Orang-orang Celt Cymria, penduduk Wales pertama, memakai 9 dalam kehidupan praktis dan persoalan-persoalan hukum. Sembilan langkah digunakan untuk mengukur jarak: karena itu, api harus dijauhkan 9 langkah dari rumah, dan seekor anjing yang telah menggigit seseorang boleh dibunuh di tempat yang berjarak 9 langkah dari rumah pemiliknya. Akan dianggap sebagai penyerangan yang sebenarnya atas seseorang bila dilakukan oleh 9 orang secara bersama-sama. Demikian juga dalam hukum Jerman, 9 tindakan dipandang sebagai sebuah takaran hukum, dan upeti berisikan 9 benda (misalnya telur). Sembilan hari sering dianggap sebagai satu periode hukum: dalam kasus perceraian, istri harus meninggalkan rumah mantan suaminya setelah 9 hari, demikian juga bila suaminya meninggal. Kepemilikan barang tidak bergerak juga berakhir pada generasi kesembilan. Namun, tidak jelas apakah kebiasaan untuk menyewa barang tidak bergerak atau makam selama 99 atau 999 tahun merupakan bagian dari aspek hukum kuno angka 9, atau kebiasaan itu dilakukan untuk menghindari angka kelompok sempurna 100 dan 1000.

Pentingnya angka 9 terpelihara dalam sejumlah perkataan bahasa Inggris dan lebih banyak lagi dalam bahasa Jerman. Dibutuhkan 9 penjahit untuk membuat pakaian seorang laki-laki; 99 burung kecil sering muncul dalam dongeng-dongeng Jerman, dan ketika seseorang mengumandangkan ancaman, “Neun wie Bich fress’ ich zum Fruehstueck!” (Aku bisa menelan 9 orang sepertimu untuk sarapan), kita bisa dengan mudah membayangkan wajah ketakutan orang yang diancamnya. A stitch in time saves 9 (Mencegah lebih baik daripada mengobati ) dan ketika seseorang berdandan sangat dekoratif dan lengkap, dia dikatakan “mengenakan 9 pakaian”.

Kebahagiaan seutuhnya diibaratkan berada di awan 9, bukan, sebagaimana di Jerman modern, di langit ketujuh; ini kasus yang khas Jerman di mana angka 9 kuno diganti dengan 7. Angka 9 sering muncul dalam dongeng-dongeng dan mitos-mitos Masyarakat Celt dan Jerman. Raja Arthur mempunyai bagian kesembilan dari kekuatan ayahnya; ada 9 raja yang menghormatinya; ia memiliki 9 pelayan; dan ia juga pernah dipenjara selama 3 x 3 hari. Ada sebuah cerita tentang seorang pahlawan Jerman yang bisa menahan nafas di dalam air selama 9 hari 9 malam dan bisa terjaga tanpa tidur dalam rentang waktu yang sama. Tombaknya sama kuat dengan 9 tombak orang lain. Dongeng-dongeng menceritakan terbentuknya kesembilanan-kesembilanan, dan 9 anak yang dibanggakan oleh seorang ayah merupakan pertanda kekuatannya. Pied Piper dari Hamelin memesona anak-anak, konon, dengan nada kesembilan lewat permainan serulingnya. Setiap orang tahu bahwa seekor kucing mempunyai 9 nyawa, tetapi ungkapan “kucing berekor 9” dipakai dalam pengertian negatif sebagai momok untuk menakut-nakuti. Kucing-kucing juga dikatakan bisa mengubah dirinya menjadi tukang-tukang sihir ketika telah berusia 9 tahun dan selama Walpurgisnacht (malam 1 Mei), konon tukang-tukang sihir itu pergi ke sebuah tempat pertemuan mereka di Blocksberg (di pegunungan Harz di Jerman) dengan kereta-kereta yang ditarik oleh 99 kucing (yang kebanyakan berbulu hitam). Pemburu perempuan dalam epos Norze, Voeluspa, mendendangkan lagu berikut ini: “Sembilan dunia kutahu, Sembilan batang kayu kutahu, dari pohon terkuat di dalam debu bumi”.

Dalam mitologi Jerman, Odin menggantung di pohon selama 9 hari 9 malam dan selama itu ia belajar 9 lagu. Fenriswalf yang galak diikat dengan 3 rantai dan 6 tali lain, dan Heimdallr, dewa paling bijaksana, mempunyai 9 ibu. Entitas-entitas suci yang lebih rendah sering muncul secara bersembilan atau kelipatannya, sehingga di Jerman dikenal adanya Valkyries, 9 macam peri, dan di Yunani kuno 9 ruh. Sembilan juga dianggap penting oleh orang-orang Jerman dalam ritus-ritus pengorbanan. Sembilan hal dikorbankan atau—sebagaimana di Denmark kuno—sebuah pesta pengorbanan agung digelar dengan hidangan 9 kepala binatang dari setiap spesies. Peran kuno 9 sebagai sebuah angka religius penting menyebabkannya hadir dalam semua jenis tindakan magis.

Di Thuringia gadis-gadis akan mengumpulkan sisa-sisa dari 9 jenis makanan dan kemudian duduk mengelilingi sebuah meja pada tengah malam untuk berdoa agar ruh orang-orang yang mereka cintai menampakkan diri. Di Jerman tersebar luas adanya kepercayaan bahwa seorang bayi yang baru lahir memerlukan waktu 9 hari untuk terus hidup atau mati. Jika manusia harus mengubah diri menjadi binatang, atau sebaliknya, peristiwa ini biasanya terjadi pada hari kesembilan; anak-anak angsa dan Valkyries diperkirakan mengubah identitasnya setelah berusia 9 tahun. Hubungan angka 9 dengan hantu dan ruh juga tampak ketika orang yang melihat hantu tidak akan menceritakan pengalamannya ini selama 9 hari, dan bila seseorang kebetulan melihat hantu, ia tidak akan melihatnya lagi selama 9 hari.

Angka 9 yang berdaya magis juga memainkan peran dalam menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu. Dalam proses penyembuhan ini, sebuah tindakan ritual sering diulang sebanyak 9 kali. Orang yang dipasangi susuk harus menghitung mundur dari 9 sampai 1, dan 9 simpul pada seutas pita dianggap bisa membantu menyembuhkan kaki atau tangan yang terkilir (kebiasaan ini dulu dipraktikkan di Skotlandia dan Jerman). Sembilan macam penyakit dapat disembuhkan dengan campuran 9 ramuan khusus, dan di daerah Goettingen Jerman, di zaman dahulu pada hari Kamis Maundy orang menyiapkan sup yang disebut Negenstaerke, “sembilan kekuatan”, dari 9 sayuran hijau yang berbeda. Neukraeutersegen, doa yang diucapkan di atas 9 ramuan yang berlainan, dianggap bisa membantu menangkal 9 setan dan 9 jenis racun; kekuatannya semakin bertambah bila ramuan-ramuan ini disatukan dan diaduk dalam sebuah buket pada 24 Juni, yakni Hari St. Yohanes. Di sejumlah daerah di Jerman terdapat kepercayaan bahwa pencuri bisa ditangkap dengan meletakkan sebuah bangku yang terbuat dari 9 jenis kayu yang berbeda di sebuah gereja. Di Jerman dahulu orang membuat apa yang disebut Notfeuer ketika terancam bahaya. Untuk membuat api semacam ini, 99 orang harus membawa kandil, dan semua makhluk yang terancam bahaya di daerah tersebut, baik manusia maupun binatang, harus berlari 3 x 3 kali melintasi api tersebut. Yang lebih menarik lagi adalah adanya takhayul bahwa harapan seseorang pasti akan terkabul bila ia menghitung 9 bintang yang sama selama 9 malam yang cerah secara berturut-turut.

Dalam banyak dongeng kuno, sang pahlawan mempunyai sembilan kekuatan atau harus menuntaskan 9 tugas pokok. Yang menggelikan dalam hubungan ini adalah adanya sebuah kepercayaan yang berasal dari daerah Uri di Swiss tengah. Orang harus memberi makan seekor lembu jantan muda selama 9 tahun: pada tahun pertama dengan susu seekor sapi, pada tahun kedua dengan susu dua ekor sapi, dan seterusnya sampai lembu tersebut bisa meminum susu dari 9 sapi. Kemudian lembu ini harus ditarik oleh seorang perawan melintasi pegunungan dan dilepas agar hidup bebas. Ritual ini akan menolak semua setan dan hantu di pegunungan itu.

Sembilan juga dipakai sebagai angka kesempurnaan, atau batas terakhir. Hal ini tampak nyata dalam kata-kata berbahasa Jerman seperti Neunmaennerwerk, “karya 9 orang”, yang dipakai untuk menunjuk sesuatu yang sangat besar dan mengesankan, atau neunhaendig, “bertangan 9”, untuk menggambarkan seseorang yang sangat terampil. Demikian pula, neunaeugig, “bermata 9” berarti sangat cerdas dan terampil, dan orang yang sangat cerdas disebut neunmalklug, “cerdas Sembilan” (sekalipun kata terakhir ini bernada celaan).

Raksasa dan pahlawan dalam tradisi Indo-Jerman di Yunani, Iran dan India berupa 9 bengkokan panjang. Rupa ini disebut naugaza dalam bahasa Persia dan dalam Alkitab dikatakan sebagai tokoh Raja Og dari Basan. Sembilan juga menggambarkan sebuah angka keagungan dan kesempurnaan dalam istilah India naulakha, “sesuatu yang berharga 900.000”, sebuah kata yang dipakai dalam dongeng-dongeng dan kisah-kisah untuk menyebut kalung yang sangat mahal atau perhiasan yang sangat mengundang rasa iri.

Sisi gelap angka 9 tampak dalam beberapa mitos Nordik, khususnya Finnish. Penyakit-penyakit, sebagai contoh, bisa berupa 9 saudara laki-laki atau perempuan. Mengingat ide semacam ini banyak ditemukan di wilayah-wilayah utara, kemungkinan ruh-ruh jahat itu adalah personifikasi dari sembilan bulan yang panjang selama musim dingin di daerah kutub. Ada sebuah cerita Finnish yang mengisahkan bahwa Gunung Kippumaki mempunyai 9 gua, yang masing-masingnya mempunyai 9 lekukan yang dalam, dimana para tukang sihir menyimpan penyakit dan penderitaan manusia, sementara di puncak gunung itu Fury Hilta dan teman-teman jahatnya memasak wabah-wabah penyakit yang harus ditanggulangi oleh manusia. Menurut kebudayaan Finnish, penyakit, penderitaan, dan binatang-binatang buas lahir dari seorang perempuan tua setelah mengandung selama 30 musim panas dan 30 musim dingin. Ia melahirkan 9 anak laki-laki di atas sebuah batu di dalam air. Kisah ini mungkin sama dengan sembilan anak jahat dari seorang Ratu Utara yang diceritakan dalam dongeng-dongeng Estonia. Namun, sebagaimana perasaan suka bisa diobati dengan perasaan suka juga, orang pun dapat “menyihir” dewa bangsa Finnish, Tontu, dengan mengelilingi dapur sebanyak 9 kali dan dewa Tontu akan mengatasi semua pengaruh negatif dari 3 bulan gelap di musim dingin pada keluarga itu.

Warisan Indo-Jerman yang memperlakukan angka 9 secara khusus bisa dilihat di Yunani kuno. Sungai Stynx di dunia rendah mempunyai 9 aliran, dan pesta-pesta diselenggarakan untuk menghormati Apollo di Delphi setiap tahun kesembilan. Periode ini kemudian diperpendek menjadi 5 tahunan. Pada zaman kuno sebuah pesta untuk menghormati Zeus dirayakan di gunung Lycean setiap tahun kesembilan. Konon bahkan di sana dilangsungkan pengorbanan manusia, namun orang yang melakukan pembunuhan ritual, katanya, dibuang dari tempat itu selama 9 tahun. Selama pesta Dionysus di Patra, 9 laki-laki dan 9 perempuan merayakan ritual ini. Apollo, ditemani dengan 9 Ruh, membawa lyre dengan 9—atau seperti kita lihat sebelumnya, 7— senar. Menurut sebuah versi mitos, pembantu ibunya, Leto, hidup selama 9 hari 9 malam dan Eileithya, yang membantu ibu miskin tersebut, menerima sebuah kalung yang mempunyai 9 bagian dari ibu yang ditolongnya itu. Orang bertanya-tanya apakah “kalung” ini memiliki hubungan dengan tali pusar, yang mengalirkan darah dan makanan ke janin selama 9 bulan kehamilan.

Sembilan ruh sumber inspirasi (muse) telah mengilhami banyak pemikir dan penulis. Inilah alasan mengapa Herodotus membagi karyanya menjadi 9 bagian untuk menghormati ruh itu, dan dalam hubungan ini, tidaklah terlalu berlebihan untuk mengkaji Enneads, “9 Buku” Plotinus, yang filsafat Neoplatoniknya menjadi komponen penting dalam perkembangan pemikiran mistis Yahudi, Kristen, dan Islam. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan bila diketahui bahwa Plato, menurut legenda, meninggal pada usia 9 x 9 = 81 tahun.

Di lingkungan Kristen, angka 9 pada umumnya dihubungkan dengan konsep Trinitas. Divine Comedy karya Dante merupakan contoh terbaik tentang penggunaan simbolisme trinitarian ini. Dimulai dengan puisi terzine, stanza 3 baris yang mengisi karya Dante, segala sesuatu mengacu pada Trinitas yang pada gilirannya dikebiri secara kejam dalam Inferno. Karena 3 lebih komprehensif daripada 1, maka 3 x 3 = 9 dapat mengekspresikan dan merealisasikan hubungan manusia dengan Tuhan secara lebih baik. Jumlah malaikat adalah 9, dan bagi Dante, 9 ini lagi-lagi diwujudkan dalam seorang tokohnya—Beatrice—yang disebutnya dalam Vita nuova: “Angka ini adalah dirinya yang sebenarnya”, yakni bayangan dari dunia malaikat.

Menurut Roger Bacon, rumah pestaka (horoscope) kesembilan merujuk pada pengembaraan dan perjalanan, pada agama, iman, dan ketuhanan. Inilah rumah untuk memuja Tuhan, rumah kearifan, buku-buku, dan kitab-kitab suci, dan dikuasai oleh Yupiter, yang pada umumnya dikenal sebagai “keberuntungan besar”. Makanya, 9 bisa dianggap, di lingkungan-lingkungan tertentu, sebagai angka keberuntungan. Di provinsi Aargau, Swiss, misalnya, masyarakatnya percaya bahwa 9 bulir jagung terakhir yang dipetik dari ladang pada akhir panen akan membawa keberuntungan bagi orang yang mendapatkannya; bulir-bulir ini disebut Glueckskorn, “biji keberuntungan”.

Peran kuno angka 9 sebagai ukuran waktu digambarkan dalam sebuah lagu Jipsi yang dikutip dari Luettich dalam telaahnya yang mendalam tentang bilangan-bilangan yang bermakna:

Hier im Wald am gruenen Hage

steh ich Armer schon neun Tage,

will mein Liebchen einmal sehen:

Hier muss es voruebergehen.

Haett’ es Kiisse mir versprochen,

Staende gern ich hier neun Wochen,

Wuerden jemals wir ein Paar,

Staende ich hier auch neun Jahr!

(Di hutan nan hijau aku hidup menyendiri,

malang nasibku, sembilan hari, hari demi hari,

lihatlah cinta suciku kasih-

Kukira ia akan lewat jalan ini!

Bila ia berjanji memberiku kecupan,

Sembilan minggu aku kan tetap menantinya;

Bila ia rela menikah denganku,

Sembilan tahun tidaklah lama bagiku!)

Dan dengan nada yang sama e. e cummings menulis:

untuk setiap mil kaki melangkah

hatiku berdetak sembilan…

KELENGKAPAN DAN KESEMPURNAAN (10)

Sudah sejak lama angka ini sangat dihargai

karena merupakan jumlah jemari tangan yang dengannya kita berhitung.

Demikian kata penyair Romawi, Ovid, dan agaknya dalam tradisi kita, 10 jari telah menjadi dasar bagi sistem desimal lazimnya. Sebenarnya, sebagaimana kata W. Hartner, sebagian besar sistem berhitung di zaman kuno didasarkan pada angka 10. Misalnya, di Mesir kuno, tanda yang berbentuk bunga teratai berarti 1000 dan yang berbentuk perahu berarti 10.000. Bagi kaum Pythagorean, pentingnya 10 tidak disangsikan lagi, karena angka ini dianggap sebagai “ibu” yang merangkul dan membatasi segala sesuatu. Sebagai jumlah empat angka pertama (1 + 2 + 3 + 4), 10 diasosiasikan dengan eksistensi tunggal primordial, polaritas perwujudannya, tiga aktivitas ruh, dan empat eksistensi materi seperti terlihat dalam 4 unsur alam. Karenanya, 10 mengandung segala sesuatu, dan dalam geometri angka ini digambarkan dengan sebuah segitiga sama sisi.

Perkalian dengan 10 kembali lagi, pada tingkat tinggi, menjadi satu kesatuan (unity) karena 10 merupakan tangga pertama menuju perkalian baru yang beranjak ke tangga lainnya yang dimulai dengan 100, dan seterusnya. Dari kaca mata mistik, 1 dan 10 adalah sama, seperti juga 100 dan 1000. Karena 10 menggambarkan satu-kesatuan sebagai hasil perkaliannya, kemudian Aristoteles mengemukakan 10 kategori, dan perasaan yang sama atas bilangan ini terefleksikan dalam banyak tradisi yang mengelompokkan buku-buku atau kata-kata bijak dalam jumlah 10. Misalnya, Rgveda di India terdiri dari 10 buku, dan Nabi Musa mendapat 10 Perintah. Buddhisme juga mempunyai 10 perintah, 5 untuk para rahib dan 5 untuk orang awam. Ajaran tertua bagi kaum sufi dalam sejarah mistisisme Islam, yang dikembangkan oleh Abu Said Abu al-Khair pada awal abad ke-11, berisikan 10 bagian.

TradisiYahudi selalu mengakui peran sentral angka 10. Bukan hanya 10 Perintah yang diberikan kepada bangsa Israel, tetapi juga, menurut Zohar, dunia ini diciptakan dalam 10 kata, sebagaimana Kitab Kejadian 1 menyebutnya tidak kurang dari 10 kali: “Dan Tuhan bersabda”. Ada 10 generasi di antara Adam dan Nuh. Orang pun jarang sekali menemukan sifat negatif angka 10, misalnya 10 wabah penyakit di Mesir. Pada 10 Tishri, Hari Penebusan Dosa dalam agama Yahudi, pengakuan dosa diulang 10 kali dan pada Rosh Hashanah, Tahun Baru Yahudi, 10 ayat Alkitab dibaca oleh kelompok-kelompok 10. Gershom Scholem mengatakan bahwa pentingnya 10 tampak lebih nyata dalam spekulasi-spekulasi masyarakat Cabalis, yang mengembangkan konsep-konsep 10 sefirot, yakni 10 manifestasi arketipal sebagai dasar dari semua eksistensi, sebuah dunia entitas suci dan esensial yang berarak tanpa jeda dan tanpa permulaan baru menuju dunia makhluk yang tidak kasat mata dan juga kasat mata. Bentuk 10 sefirot kadang-kadang dijelaskan sebagai macroposopia, bentuk kosmis dari Adam primordial, adam qadmon. Tidak diragukan lagi bahwa berbagai kecenderungan Pythagorean mempengaruhi sistem yang telah dielaborasi secara sangat menarik itu. Ide yang melatari sistem kabalistik adalah keesaan yang tidak terlukiskan dan berkembang menjadi Trinitas. Trinitas ini berupa 3 sefirot atas: keter (warna putih), hokhmah (warna abu-abu), dan binah (warna hitam). Sefirah keempat, hesed atau gedullah, terkait dengan biru; sefirah kelima, gevurah, dengan merah; dan kombinasinya tampak dalam sefirah kesembilan yesod, dalam warna lembayung. sefirah keenam, tiferet (kuning) terkait dengan sefirah ketujuh, netsah (hijau) dan kedelapan, hod (oranye). Sefirot ini pada gilirannya terkait dengan sefirot keempat dan kelima dan titik terakhirnya adalah sefirah kesepuluh, malkhut atau Shekhinah. Kita bisa memperluas keseluruhan struktur kosmis dan aktivitas suci batiniah berdasarkan hubungan-hubungan di antara 10 sefirot itu. Orang-orang Cabalis Abad Pertengahan telah melakukannya melalui pemakaian manipulasi-manipulasi cara penafsiran (gematrik) dengan huruf-huruf dan nilai numeriknya secara cerdas. Akan tetapi, tidak adil kiranya kita hanya membicarakan sifat-sifat mistis angka 10 sambil melupakan sifatnya yang sangat praktis, yakni derma sepersepuluh kepada gereja

Dalam selebaran yang dicetak oleh Abraham Bach dari Augsburg tertulis sepuluh tahap kehidupan manusia dalam sebuah sajak berbahasa Jerman: 10 tahun, seorang anak; 20 tahun, pemuda; 30 tahun, orang dewasa; 40 tahun, kematangan; 50 tahun, perhentian; 60 tahun, mulai uzur; 70 tahun, uzur; 80 tahun, tidak mengetahui apa pun; 90 tahun, menjadi bahan tertawaan anak-anak; 100 tahun, semoga Tuhan mengasihanimu.

Para ahli tafsir Kristen biasa memakai angka 10. Mereka bertanya: bukankah angka X Romawi (10) adalah sebuah kiasan atas salib Kristus, atas huruf pertama dalam namanya yang dengan huruf-huruf Yunani ditulis Xristos? Selain itu, huruf iota sebagai awal nama Yesus mempunyai nilai numerik 10. Dalam penafsiran-penafsiran Injil secara alegoris, 10 dapat dianggap menunjuk pada 3 sosok dalam Trinitas dan 7 unsur kehidupan (jantung, jiwa, dan pikiran ditambah 4 unsur alam). Kita juga bisa menjelaskannya sebagai jumlah dari 9, yakni banyaknya malaikat, dan 1, manusia, atau dianggap sebagai kiasan untuk 10 anak Job yang merupakan personifikasi dari 7 hadiah Roh Kudus (anak-anak laki-laki) dan tritunggal iman, harapan, dan derma (anak-anak perempuan). Di dalam 10 Perintah, ahli-ahli tafsir lainnya menemukan 3 perintah kesalihan pada Tuhan dan 7 perintah yang berkenaan dengan hubungan sesama manusia.

Angka 10 mempunyai peran tersendiri dalam tradisi Islam. Panca indera batiniah bertalian dengan panca indera lahiriah, dan Muhammad menyebut “10 orang yang dijanjikan masuk surga” di antara generasi Muslim awal. Nama-nama mereka sering ditulis di azimat-azimat dalam bentuk segidelapan (konotasi bentuk surga yang khas). Untuk meneladani Nabi Muhammad, kaum sufi terkemuka mengambil 10 murid yang sangat taat di sekelilingnya, legenda pun mengisahkan demikian. Para sarjana Turki merasa senang setelah mengetahui bahwa Sultan Saleyman Agung, kaisar Ottoman kesepuluh, lahir pada pergantian abad ke-10 hegira dan mempunyai 10 anak. Rakyatnya memandangnya sebagai seorang penguasa besar dengan 10 kebajikan. Kota-kota dan desa-desa yang ditundukkannya berjumlah 10. Bahkan jumlah penyair dan hakim di kerajaannya adalah 10 atau kelipatan 10 sehingga angka kesempurnaan dan ideal ini terpenuhi.

Yang lebih menarik, dan penting secara spiritual, daripada permainan-permainan yang dibuat secara apik itu adalah peran 10 dalam tulisan-tulisan gnostik Isma’ili. Ikhwan ash-Shafa berpandangan bahwa 10 mempunyai sebuah nilai penting yang khusus sebagai angka pertama dengan 2 digit (sejak mereka menggunakan angka-angka Arab bukan—seperti orang-orang Eropa waktu itu—angka-angka Romawi yang kaku). Filsafat Ismaili klasik mendalilkan 10 hudud tinggi, yang bisa digambarkan sebagai kecerdasan-kecerdasan atau semacam malaikat-malaikat terpenting. Sepuluh ini terdiri dari 3: Kecerdasan primordial, pasangan pertama, dan intelek ketiga, ditambah 7 kerubi. Dari tingkat pertama, yakni rasul, “pembawa berita” sebagai juru bicara yang harus menyebarkan syariat Tuhan dan dihubungkan dengan langit terjauh di atas langit-langit yang kita kenal, garis menurun ini melewati zaishi, “pengemban wasiat” (bertanggung jawab atas penafsiran esoteris) dan imam (dihubungkan dengan langit Saturnus) dan terus turun sampai dunia kita ini sebagai tingkat kesepuluh dan terendah dalam ajaran spiritual. Setelah Nabi Muhammad dan wa shi, yang secara historis tidak lain adalah ‘Ali ibn Abi Thalib, disusul dengan 7 imam sampai Muhammad ibn Ismail. Ia diikuti oleh qa ‘im az-zaman sebagai imam kesepuluh dalam garis ini, dan ia adalah orang yang nanti akan muncul kembali. Tradisi-tradisi gnostik Iran mungkin masih tetap bertahan hidup dalam bentuk-bentuk lokal yang telah mengalami Islamisasi dan juga dalam tradisi Ismaili.

Bagi orang-orang Syi’ah lainnya, 10 mempunyai makna yang berbeda. Cucu Nabi Muhammad, Husain ibn ‘Ali, dibunuh oleh pasukan pemerintah di Karbala, Irak pada 10 Muharram 61 H (bertepatan dengan 10 Oktober 680). Setelah dirayakan dengan puasa ‘Asyura pada zaman Nabi, bagi berjuta-juta kaum Syi’ah hari terbunuhnya Husain ini menjadi momentum penderitaan agung, yang sebanding dengan Hari Jumat Agung bagi orang Kristen. Selama bulan Muharram, deh majlis, “10 pertemuan” sering dilakukan untuk mengenang kematian para martir di Karbala, dan banyak risalah kesalihan tentang penderitaan para imam disusun dalam 10 bab atau bagian.

Sepuluh juga dikenal—bahkan mungkin dengan nilai penting yang lebih besar—untuk sistem desimal, khususnya dalam kaitannya dengan militer. On bashi (dalam bahasa Turki), “pemimpin 10”, disusul dengan yuebashi, “pemimpin 100” yang sesungguhnya berkaitan dengan centurio (bahasa Romawi). Di Roma kuno, decan mengomandoi 10 tentara. Kata decimate mengingatkan akan kebiasaan untuk mengeksekusi setiap tentara kesepuluh, ketika ada satu laskar tentara Romawi yang membangkang. Denarios dan dinar mengacu pada hitungan uang desimal. Namun, ketika seorang penyair Persia menyebut sebuah bunga teratai dengan 10 mahkota, ia hendak mengatakan secara metaforis bahwa bunga ini mempunyai banyak mahkota, yang mengekspresikan pujian diam kepada Tuhan. Tetapi 10—seperti banyak sekali angka yang lebih besar—sering dianggap sebagai angka kelompok. Terakhir, secara acak bisa dikatakan bahwa para psikolog telah menginterpretasikan 10 sebagai 2 x 5, yakni simbol pernikahan, karena 2 mengubah eros—5—menjadi sebuah sikap yang lebih bijaksana.

ANGKA BISU (11)

Elf ist die Suende.

Elfe ueberschreiten die zehn Gebote.

(Sebelas adalah dosa.

Sebelas melanggar 10 Perintah.)

Kala menulis kata-kata yang diucapkan seorang astrolog bijak dalam karyanya, The Piccolomini, Schiller menyuarakan sebuah pandangan tradisional, karena angka 11 biasanya dihubungkan dengan sesuatu yang negatif. Lebih besar daripada 10 dan lebih kecil daripada 12, angka ini berada diantara dua angka kelompok yang sangat penting dan karenanya—ketika setiap angka lain setidaknya mempunyai satu sifat positif—11selalu diinterpretasikan sepenuhnya negatif dalam penafsiran ad malam partem Abad Pertengahan. Numerolog abad ke-16, Petrus Bungus, melangkah sangat jauh dengan mengatakan bahwa 11 “tidak memiliki kaitan apa pun dengan hal-hal yang suci, tidak mempunyai tangga yang bisa menjangkau di atas hal-hal suci itu dan tidak memberikan keuntungan apa pun”. Ia memandangnya sebagai angka para pendosa dan penebusan dosa. Karya-karya teologi Abad Pertengahan sering menyebut “11 bungkul kesalahan”. Ikhwan ash-Shafa juga memberikan konotasi negatif pada angka 11 sebagai angka “bisu” pertama dalam rantai angka “bisu” pokok di atas 10.

Semula, 11 tampaknya dihubungkan dengan zodiak, karena 1 dari 12 simbol zodiak selalu berada di belakang matahari sehingga tidak terlihat. Hal ini disebutkan dalam Paskah Haggadah dan dalam mimpi Yusuf (Kejadian 37:9) di mana matahari, bulan, dan 11 bintang bersujud kepadanya. “Bintang-bintang” bisa ditafsirkan sebagai “tanda-simbol zodiak”. Dasar dari interpretasi ini berasal dari mitos penciptaan di Babilonia kuno seperti yang dikisahkan dalam Enuma elish, yang mendeskripsikan perlawanan Tiamat (sang kekacauan) melawan dewa-dewa piñata. Perlawanan Tiamat ini didukung oleh 11 raksasa. Dua belas musuh ini dikalahkan oleh Marduk, dewa cahaya. Ia tidak membunuh, melainkan menempatkan mereka di cakrawala, dan karena menjadi dewa matahari, ia selalu berada di depan salah satu dari 11 raksasa dan Tiamat.

Selain asosiasi-asosiasi mitologis itu, kelompok-kelompok 11 orang juga ditemukan dalam sejarah, tetapi tidak diketahui alasan kemunculan mereka. Di tengah-tengah 11 orang ini terdapat orang-orang Dionysiad, yakni 11 perempuan di Sparta kuno yang berusaha membubarkan pesta pora pemujaan Dionysian yang masih terjadi. Di Roma kuno, sebuah konsorsium yang terdiri dari 11 orang bertugas mengawasi para penjahat dan mendeteksi kalau-kalau ada tindak kejahatan. Dengan kata lain, mereka menjalankan fungsi keamanan.

Di pihak lain, meski terlambat, Rene Guenon berusaha menekankan nilai-nilai positif 11 dengan memandangnya sebagai “angka agung hieros gamos”, perkawinan sakral antara makrokosmos dan mikrokosmos. Menurut interpretasi yang baru ini, 11 berisikan gabungan antara 5 (2 + 3) dan 6 (2 x 3). Fakta yang menunjukkan bahwa di Rhineland Jerman musim karnaval dimulai pada tanggal 11.11 jam 11:11 harus dikaitkan dengan keunikan tanggal itu, bukannya dengan misteri yang tersembunyi di balik 11. Dan ketika, menurut legenda, St. Ursula pergi ke Cologne dengan iringan armada 11 kapal, yang masing-masingnya membawa 1000 perawan, angka ini mungkin dimaksudkan sebagai sebuah angka kelompok khusus, yang berarti “lebih dari 10” karena 11 dapat dipakai untuk “menutup” angka 10 yang mendahuluinya.

LINGKARAN TERTUTUP (12)

5 dan 7, angka-angka sakral,

Keduanya bersemayam di dalam 12.

Kata-kata itu lagi-lagi berasal dari Schiller dalam The Piccolomini sebagai juru bicara kearifan kuno, karena 12 mempunyai sebuah lingkaran makna dan aktivitas yang sangat besar. Pertama-tama, 12 bisa dipandang sebagai hasil dari 3 x 4, yang mengandung muatan spiritual dan material. Dua belas juga adalah jumlah dari dua angka penting 5 + 7. Perhatian pada 12 mungkin bermula dari pengamatan atas zodiak. Sebagaimana telah dikenal luas di Babilonia kuno, bulan beredar melalui 12 titik, demikian juga matahari. Ada juga 12 bintang utara dan 12 bintang selatan yang dikenal di zaman kuno, dan bintang-bintang ini mungkin telah mengilhami timbulnya ide 12 hakim kehidupan dan kematian, 12 pintu surga, dan 12 pintu lain menuju dunia rendah (di mana dewa matahari Mesir—Re—menghabiskan malam). Banyak peradaban kuno, khususnya di Timur Dekat, yang berusia dua dekade (12), dan peradaban-peradaban ini membagi tahun menjadi 12 bulan. Perkecualian terpentingnya—kata Willi Hartner secara jelas—adalah kebudayaan-kebudayaan tinggi Amerika Latin.

Dua belas simbol zodiak, yang juga muncul dalam kebudayaan Etruscan, barangkali telah mempengaruhi beraneka mitos, legenda, dan dongeng yang sering mengisahkan 12 dewa, pahlawan, atau tokoh penting lain, dan juga rentang waktu 12 jam, hari, atau tahun. Orang mencoba untuk menyamakan tugas-tugas Heracles dengan lintasan matahari melewati zodiak, sebagaimana orang mencoba untuk menghubungkan mitos Argonaut dengan zodiak. Meski demikian, kita harus sangat berhati-hati dalam membaca penyamaan-penyamaan astrologis dalam mitos dan legenda.

Angka 12 menjadi sebuah angka kelompok penting di Timur Dekat kuno dan dunia Mediterranean. Dari kaca mata sejarah, 12 suku Israel tidak pernah benar-benar berjumlah 12, namun mereka merupakan satu kesatuan. Kitab Perjanjian Lama mempunyai angka-angka 12 yang bermakna positif, misalnya 12 sumber air di Elim (Bilangan 33:9), 12 mutiara pada jubah kependetaan Aaron (Keluaran 28:9-12), dan 12 batu yang Yosua ambil dari Yordania dan ia letakkan di Tabernacle (Yosua 4:5). Fakta bahwa Kristus memilih 12 utusan dihubungkan—oleh  para ahli tafsir seperti Tertullian—dengan kelompok-kelompok 12 dalam Kitab Perjanjian Lama. Selain itu, dalam KitabYohanes,Yerusalem yang disucikan mempunyai 12 pintu gerbang dan 12×12 orang terpilih turut serta dalam Pemujaan Domba.

Sebuah peran penting dimainkan oleh angka 12 dalam kiasan-kiasan agama Kristen. Jika orang menganggap Kristus sebagai hari, maka 12 jam dihubungkan dengan 12 utusan, yang digambarkan dengan 12 suku Israel, 12 kepala keluarga, dan 12 nabi lokal dan bahkan dengan 12 roti persembahan (shewbread) dalam Tabernacle. Menurut Agustinus, karena 12 adalah hasil dari 3×4, tugas para utusanlah untuk menyebarkan iman Trinitas ke 4 penjuru dunia. Sama halnya, sebuah puisi Inggris kuno menggambarkan burung Phoenix—sebagai simbol Kristus—terbang bersama matahari, mandi 12 kali, minum air dari sumbernya 12 kali, dan mengepakkan sayapnya pada permulaan setiap jam. Sekali waktu, Albrecht Durer pernah membuat peta dunia dengan dua belas angin mengombang-ambingkan bumi.

Di pelbagai kebudayaan kuno, angka 12 menjadi dasar bagi angka-angka yang sangat besar dalam mitologi-mitologi kebudayaan itu. Angka terpenting dalam kronologi Columbian adalah baktun, yang berisikan 144.000 hari, dan di Babilonia pada zaman dahulu 12×12 tahun muncul bersama dengan 432.000 tahun. Seperti banyak angka besar lainnya, angka-angka itu bisa diperoleh dari angka 60, yang sangat penting dalam sistem-sistem angka Timur Dekat kuno.

Contoh yang menarik dari 12 sebagai sebuah satuan berhitung dipaparkan oleh Herodotus, yang berteori bahwa orang-orang Yunani menemukan 12 kota di Asia dan menolak untuk menambahnya, karena 12 kota itu harus dibagi menjadi 12 bangsa yang hidup di Peloponnesus. Makanya, 12 merupakan jumlah normatif negara dan kota.

Di Cina kuno, bukan hanya 12 simbol zodiak dan satu tahun sama dengan 12 bulan yang banyak dikenal, tetapi juga sebuah siklus desimal yang dikombinasikan dengan siklus duodesimal—tepat seperti di Babilonia untuk menciptakan sebuah sistem seksagesimal. Satu hari sama dengan 12 jam, dan satu gerak revolusi Yupiter membutuhkan waktu 12 tahun. Ada juga kepercayaan bahwa manusia mempunyai 12 isi perut (dan sesungguhnya memiliki 12 tulang rusuk). Dewa agung kuno di Cina, yang singgasananya terletak di kutub selestial, menurut mitos, mempunyai 3 anak laki-laki, 4 istri, dan 12 pembantu, dan di sini hubungannya dengan mitologi bintang tampak jelas.

Dalam tradisi Jerman, hubungan antara 12 dan zodiak tidak begitu penting. Di sisi lain, 12 hari atau malam dalam kalender Jerman yang ditambahkan untuk membentuk tahun bulan dan matahari secara bersama-sama terus hidup dalam kepercayaan dan takhayul masyarakat. Dua belas hari atau malam ini sering dianggap berbahaya, atau setidaknya agak misterius. Setiap orang mengetahui adat-istiadat yang berkenaan dengan 12 malam di antara Hari Natal dan Epifani 6 Januari: mimpi-mimpi pada setiap malamnya mengisyaratkan sesuatu yang akan terjadi pada bulan yang berkaitan dengan malam tersebut. Orang menghindar untuk mencuci pakaian agar Wodan dan gerombolan jahatnya tidak merebutnya atau agar ruh-ruh terkutuk yang bertebaran di kegelapan malam itu tidak mengganggu keluarganya. Demikian juga, waktu tengah malam mempunyai sebuah ciri khas sebagai waktu ketika binatang dan ruh dapat bercakap-cakap, dan pemburu kekayaan (seperti digambarkan dalam puisi Goethe, Der Schatzsucher) mencari cahaya penunjuk jalan ketika jam berdentang 12 kali. Akan tetapi, ketika jam 12 malam yang aneh ini berlalu, segala sesuatu kembali ke bentuk normalnya dan semua bentuk yang indah menjadi semacam labu. Contoh yang tepat tentang pentingnya 12 dalam karya sastra adalah Faerie Queene karya Edmund Spencer, dimana kebajikan-kebajikan dan ksatria-ksatrianya muncul dalam kelompok-kelompok 12, seperti juga sifat-sifat jahat dalam kehidupan, dan segala sesuatu dihubungkan dengan 12 dongeng. Lagu rakyat berikut ini berbicara tentang tarian yang mengitari sebuah tiang yang dihias dengan bunga (maypole):

Sebagian orang bermain-main di jalan

dan mengikat dirinya dengan dua belas ciuman

untuk menyongsong liburan mendatang.

Tradisi Islam kurang begitu menghargai pentingnya 12 dibandingkan dengan tradisi Judeo-Kristen. Lagi-lagi, Ikhwan ash-Shafa mengikuti para astronom dan astrolog Babilonia dan Yunani untuk secara aktif mempelajari 12 simbol zodiak. Mereka menemukan bahwa 12 tanda itu dapat dibagi menjadi 3 kelompok: tidak hanya ada 3 tanda, masing-masing untuk musim semi, panas, dan dingin, tetapi juga 3 tanda api (Aries, Leo, Sagitarius), 3 tanda air (Cancer, Scorpio, Pisces), 3 tanda udara (Libra, Gemini, Aquarius), dan 3 tanda tanah (Taurus, Virgo, Capricorn).

Yang lebih menarik ketimbang pembagian-pembagian faktual semacam ini adalah perkembangan yang dipelopori oleh komunitas Syi’ah. Mayoritas kaum Syi’ah secara berurutan mengikuti para Imam, pemimpin umat yang sebenarnya, dari keturunan Nabi Muhammad sampai Imam kedua belas dan, karenanya, dinamakan Syi’ah Dua Belas (kelompok yang telah berkuasa di Iran sejak 1501). Sulit untuk mengetahui sejauh mana garis ini bertalian dengan realitas sejarah, karena Imam kedua belas (yang keberadaannya diragukan oleh sebagian sejarahwan kritis) hilang secara misterius ketika masih kanak-kanak pada tahun 874 M. Namun demikian, bagi orang-orang yang mempercayai dua belas Imam, ia masih hidup dalam persembunyian untuk mengurusi persoalan-persoalan dunia melalui wakil-wakilnya sampai suatu saat ia muncul kembali untuk mengisi dunia ini dengan keadilan karena sekarang ini dunia diliputi dengan ketidak-adilan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila para ulama dan penyair Syi’ah memberikan tempat khusus kepada angka 12. Sejarahwan dan menteri Persia, Rasyiduddin, misalnya, yang dieksekusi pada tahun 1317, menulis risalahnya tentang kebajikan-kebajikan agung dari angka 12 ketika pendukungnya, yakni penguasa Mongol, Oeljaeitue, telah berpindah aliran menjadi pengikut Syi’ah Dua Belas.

Membagi buku-buku ilmiah atau sastra menjadi 12 bagian atau bab tidak jarang dilakukan oleh para penulis Muslim. Kegemaran pada angka 12 serupa mendorong para darwis Bektasyi—salah satu tarekat sufi terpenting di Turki yang sangat berkecenderungan pada Syi’ah—untuk memakai penutup kepala dengan 12 baji dan mengenakan sebuah mata segiduapuluh, batu Hajji Bektash, di ikat pinggangnya.

Dalam tradisi India dan Indo-Muslim terdapat satu jenis puisi khas yang dinamakan barahmasa, “12 bulan”, yang tidak berkaitan dengan spekulasi-spekulasi keagamaan, sangat jauh dari Syi’ah, tetapi mengekspresikan perasaan dan kerinduan seorang gadis atau ibu muda yang jauh dari kekasih atau suaminya selama 12 bulan. Pemanfaatannya untuk tujuan-tujuan keagamaan—kerinduan jiwa pada Tuhan terkasih selama satu tahun—merupakan perkembangan kedua. Sistem duodesimal sudah sangat mempengaruhi kebudayaan manusia, terutama dalam kaitannya dengan sistem seksagesimal: kita masih menggunakan takaran lusin, dan kita menata (setidaknya di Eropa) anggur atau minuman mineral dalam kelompok-kelompok 12.

UNTUNG ATAU SIAL (13)

Penyakit Triskaidekaphobia (ketakutan pada angka 13) telah ada sejak lama. Selama berabad-abad, sebenarnya semakin lama angka 13 semakin dianggap bersifat negatif dalam kepercayaan masyarakat. Tradisi Kristen memandang ketakutan pada angka 13 ini sebagai sebuah kenangan akan Jamuan Terakhir. Waktu itu, salah seorang murid—ketiga belas—mengkhianati Yesus. Namun, munculnya peran negatif angka 13 dalam peradaban-peradaban Timur Dekat dan budaya-budaya yang berasal darinya jauh lebih awal. Seperti 11, 13 adalah angka yang melampaui sebuah sistem utuh yang dilambangkan dengan 12, angka zodiak.

Matahari tidak pernah muncul bersama-sama dengan seluruh 12 tanda sehingga semuanya berjumlah 13, tetapi matahari berada di depan salah satunya. Konsep ini tercermin dalam dongeng dan mitos yang mengisahkan ketidakmampuan sang pahlawan untuk membuka pintu ketiga belas, yang akan menghancurkan 12 lingkaran sempurna. Di Babilonia, angka 13 mempunyai sifat negatif karena perannya dalam astronomi; demikian pula di Cina, 13 dihubungkan dengan pembagian tahun. Jika memakai satu tahun bulan yang terdiri dari 354 hari, maka kita harus menambahkan bulan ketiga belas setelah sekian tahun agar sesuai kembali dengan tahun matahari; bulan ketiga belas ini disebut “Raja Kesulitan” atau “Raja Penindasan”.

Dalam tradisi Kristen, dengan berpatokan pada 12 + 1 pada Jamuan Terakhir, 13 sering disebut sebagai angka hierarki-hierarki infernal. Sama halnya, tukang-tukang sihir sering tampil dalam kelompok-kelompok 13. Angka ini, bisa diduga, secara lebih umum dikaitkan dengan sihir dan black magic, dan di sini kotak magis yang bertalian dengan Mars memainkan peran penting, karena angka sentralnya adalah 13, dan jumlahnya selalu sama dengan 5 x 13. Dan ketika seorang Jerman berkata, “Jetzt schaegt’s Dreizehn” (Kini waktu menunjukkan angka 13), ia hendak mengatakan bahwa lingkaran utuh 12 jam telah lewat dan “terlewat adalah terlewat!”.

Ernst Boeklen—seorang sarjana Jerman—telah mengeksplorasi apa yang disebut angka 13 sebagai pembawa sial dan makna mistisnya dalam sebuah kajian yang mendalam. Ia menunjukkan adanya kelompok-kelompok 13 di zaman kuno dan Abad Pertengahan yang terutama dibentuk dengan pola 12 + 1. (Demikian juga, teologi gnostik membicarakan aeon (ribuan tahun) ketiga belas yang dianggap melengkapi 12 ribu tahun sebelumnya). Sebagaimana telah disinggung sebelumnya berkenaan dengan angka 11, kita bisa “menebak” sebuah angka dengan menambahkan angka 1. Metode ini secara jelas terlihat dalam kasus dewa-dewa Etruscan: 6 pasang dewa diubah menjadi satu unit dengan menambahkan dewa ketiga belas. Pada umumnya, dewa yang melampaui 12 dewa lain adalah pemimpin atau, sebaliknya, dewa palsu yang harus dihukum mati. Makanya, Philip dari Macedonia, yang menyejajarkan patungnya sendiri dengan 12 dewa, kemudian dihukum mati, sementara Odysseus lolos dari kematian di tangan Cyclops tetapi 12 kawannya diganyang.

Kelompok-kelompok 12+1 sering ditemukan dalam dongeng-dongeng Eropa, misalnya, 1 anak perempuan dan 12 kakak laki-lakinya (yang kerap disihir menjadi binatang sehingga ia harus menyelamatkan mereka). Dalam cerita-cerita tradisional Yunani, Kapten 13 dibuang ke dalam jurang yang sangat dalam sebagai awak terakhir, meski demikian, ia tetap selamat. Di Prancis, konon setan meminta korban setiap orang ketiga belas yang melewati sebuah jembatan tertentu sebelum akhirnya diselamatkan oleh anggota ketiga belas dari sekelompok orang lain.

Pola 12+1 juga sering muncul sebagai seorang orangtua dengan 12 anak, mulai dari kisah Alkitab tentang Ya’qub dan 12 anaknya sampai cerita-cerita yang mengisahkan seekor ayam yang sangat baik dengan 12 anaknya atau induk babi berambut emas dengan 12 anaknya. Bahkan, pengadilan Jerman mempertahankan sistem pengelompokan 13 ala kuno dalam bentuk seorang hakim dan 12 hakim pembantu.

Kita tidak bisa memungkiri adanya ambiguitas antara 12 dan 13, dan dalam peran angka 13 umumnya, dalam cerita-cerita tradisional dan juga dalam banyak kasus, 13 mempunyai sifat yang aneh. Kematian adalah god-father (wali) dari anak ketiga belas, dan sebuah buku yang pernah tenar karya seorang penulis Jerman, Friedrich Wilhelm Weber, yang membahas sebuah tempat yang disebut Dreizehnlinden (“13 pohon linden”), adalah sebuah cerita yang sangat tragis dan penuh dengan peristiwa mengerikan dan misterius.

Agaknya pola 12+1 berasal dari ide-ide perbintangan Babilonia dan angka ini mengandung pengertian positif lagi-lagi dalam kaitannya dengan fase-fase bulan. Di Meksiko kuno, bulan-bulan qamariah (berdasarkan hitungan bulan) dibagi menjadi 13 hari pada bulan gelap, 13 hari pada bulan purnama, dan 13 hari pada bulan baru. Dengan kata lain, 2 periode perekahan dan penyusutan masing-masing dihitung 13 hari panjangnya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kita mengenal 13 langit (di atas 9 dunia rendah dan bumi) dan—sebagai akibat dari ide itu—13 dewa. Dengan demikian, 13 sebagai angka langit melambangkan kehidupan, matahari, dan kekuatan maskulin; dan angka ini memiliki sifat yang sangat positif dan menguntungkan.

Menurut kalender Maya, tzolkin atau “jumlah hari-hari” terdiri dari 260 hari. Jumlah ini dihitung dengan 20 hieroglif yang bernomor 1-13. Tiga belas menandai sebuah titik balik dan simbolnya adalah kupu-kupu. Tangga tertinggi (ketiga belas) adalah tempat duduk pasangan suci menurut kosmologi Aztec; tempat duduk mereka juga menandai sebuah titik balik

Masih ada sifat-sifat angka 13 lainnya dalam agama Maya kuno. Dalam salah satu varian dari 19 angka ditambah nol yang disebut varian “berkepala”, 13 angka dibedakan dengan tanda kepala dewa yang berlainan. Selain itu, 20 tanda untuk hari-hari selama satu bulan dikombinasikan dengan angka-angka dari 1-13, dan penyusunan sebuah kalender dilakukan dengan ramalan (prognostication). Waktu dibagi menjadi periode-periode 52 ( 4 x 13) tahun matahari yang masing-masing berisikan 365 hari. Pada gilirannya, periode ini ditambah sehingga jumlahnya menjadi 72 tahun suci yang masing-masing berisikan 52 minggu yang masing-masing mempunyai 5 hari (260 = 20 x 13).

Sebagaimana dalam kebudayaan Maya kuno, 13 juga dianggap sebagai angka sakral dan menguntungkan dalam tradisi Ibrani. Cabala memandangnya sebagai angka keberuntungan karena nilai numeriknya dalam bahasa Ibrani (seperti dalam bahasa Arab) membentuk kata Ahad “Esa”, sifat terpenting Tuhan. Dalam Kitab Keluaran 34:6, satu menurunkan 13 sifat suci, dan Paskah Haggadah secara jelas menekankan nilai penting angka ini. Seorang peramal di kerajaan Talmud mengatakan bahwa “pada suatu hari nanti tanah Israel akan terbagi menjadi 13 bagian, dan bagian ketiga belas akan jatuh ke tangan raja Isa”. Cabala mengenal 13 sumber surgawi, 13 pintu berkah, dan 13 sungai minyak balsem yang kelak akan dijumpai orang-orang salih di surga.

Zohar mengelaborasi nilai penting 13 ketika mendeskripsikan Dewa Hari-hari Kuno sakral berkepala tiga, “Ia bisa ditemukan di 13 jalan cinta, karena kearifan yang tersembunyi di dalam dirinya membaginya sebanyak 3 kali ke 4 penjuru, dan Dia, Dewa Kuno, mempunyai 13 jalan cinta”. Di sini lagi-lagi dijumpai prinsip yang melingkungi dunia makhluk (digambarkan dengan 12 simbol zodiak). Orang bahkan beranjak lebih jauh untuk merenungkan 13 ketundukan pada Jenggot Suci Tuhan, tetapi peristiwa yang lebih praktis dan kurang esoterik berkenaan dengan angka 13 adalah perayaan Bar Mitzvah oleh anak-anakYahudi ketika mereka menginjak usia 13 tahun sebagai tanda bahwa sejak saat itu mereka berkewajiban untuk menaati hukum.

Kita akan sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa teologi Kristen menyebut sifat-sifat negatif angka 13 di luar konteks 12 utusan dan “transgresi” angka sakral ini. Angka ini lebih sering diinterpretasikan sebagai jumlah dari 10 (Perintah) dan 3 (Trinitas) atau—dengan logika yang berbeda—sebagai jumlah Pentateukh (5) dan Kebangkitan Kristus (8). Interpretasi ini diperkirakan menunjuk pada hubungan antara Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru, yang terjalin karena paduan antara kerja dan iman.

Ketika Eropa semakin membenci angka 13 setelah Abad Pertengahan, Raja Louis XIII di Prancis mengambil sikap yang cukup janggal dengan menyatakan 13 sebagai angka kegemarannya. Ia menikahi Anna dari Austria ketika calon istrinya ini baru berusia 13 tahun!. Sampai di sini, 13 menawarkan banyak kemungkinan bagi para peneliti, dan barangkali sifat-sifat positif kunonya bisa sedikit menangkal penyakit triskaidekaphobia!

SIMBOL KEUTUHAN (16)

Enam belas adalah angka pengukuran dan keutuhan yang sempurna. Dalam sistem Romawi, 1 kaki, pes, sama dengan 4 telapak tangan, dan satu telapak atau lebar tangan terdiri dari 4 jari. Maka, satu kaki sama dengan 16 jari. BangsaYunani kuno juga mengenal sistem yang serupa. Dalam banyak bahasa terdapat perubahan nama angka yang mencolok setelah 16 dan setelah 4. Enam belas adalah angka kegemaran di India sejak zaman dahulu kala. Tampaknya angka ini dipakai sejak awal peradaban Indus milenium ke-3 dan 4 S.M.

Veda menyebut 16 mantera. Orang India suka membuat soma, minuman suci yang memabukkan, dan Chandogya Upanishad mengatakan bahwa seorang manusia yang lengkap mempunyai 16 bagian. Dalam estetika India klasik juga dikenal adanya 16 tanda keindahan, dan perempuan rupawan dirias dengan 16 perhiasan yang berbeda. Kuplet-kuplet dalam puisi dibagi menjadi 16 matra, suku kata, dan irama yang paling sering dipakai dalam musik India adalah tintal, lagi-lagi dengan 16 unit. Agaknya kesusastraan Arab klasik memungut angka 16 sebagai tanda kesempurnaan dari metrik (ilmu tentang irama lagu) India, karena sebagian dari 16 mantra Arab klasik hanya dimaksudkan untuk memenuhi suatu skema 16 yang sempurna.

Dalam Geheime Figuren der Rosenkreuzer, seluruh alam semesta ini—dikatakan—berisikan 16 unsur. Untuk itu terkadang semua orang yang menggemari penjumlahan dan perkalian 4 unsur alam dan angka 4 pada umumnya—sebagai angka keteraturan waktu dan ruang—pasti pernah memakai angka 16 sebagai 4 kuadrat untuk mengekspresikan kesempurnaan, misalnya 4×4 unsur filsafat dalam masyarakat Rosicrucian.

%d blogger menyukai ini: