Eddytorial,  Write

Kosmologi Adam Hawa

Kosmologi agama (kosmologi mitologi) adalah sebuah cara untuk menjelaskan asal mula, sejarah dan evolusi kosmos atau alam semesta yang berdasarkan pada mitologi agama dari sebuah tradisi spesifik. Kosmologi agama biasanya meliputi sebuah tindakan atau proses dari penciptaan yang dilakukan oleh deitas penciptan atau panteon besar.

Setiap kebudayaan dan bangsa mempunyai mitos penciptaan masing-masing. Mitos-mitos ini berkembang sebagai upaya setiap bangsa untuk menjawab pertanyaan mengenai asal usul manusia dan tempat tinggalnya, atau penyebab makhluk hidup berada di muka bumi.

Suku Minahasa mempunyai cerita tentang Toar dan Lumimuut yang digambarkan sebagai nenek moyang mereka. Orang Batak percaya bahwa mereka adalah keturunan satu leluhur yang bernama Si Raja Batak.

Suku Lakota di Amerika percaya bahwa sebelum bumi diciptakan, dewa-dewa tinggal di surga sementara manusia hidup di dunia bawah yang tidak mempunyai budaya.

Bangsa Mande di Mali selatan percaya bahwa pada mulanya hanya ada Mangala. Mangala adalah makhluk tunggal yang kuat dan dahsyat. Di dalam Mangala terdapat empat bagian, yang antara lain melambangkan empat hari dalam satu minggu, empat unsur alam, dan empat arah (ruang). Mangala juga mengandung dua pasang kembar yang berjenis kelamin ganda. Mangala bosan menyimpan semua unsur ini di dalam dirinya, karena itu dewa mengeluarkannya dan membentuknya menjadi sebuah benih. Benih inilah yang menjadi penciptaan dunia ini.

Agama Yahudi, Kristen, dan Islam sama-sama memiliki mitos penciptaan yang dimulai dari Adam dan Hawa.

Dalam Yudaisme atau agama Yahudi dan Kristen diakui penciptaan sebagaimana yang dicatat dalam Kitab Kejadian terutama pasal 1 dan pasal 2. Kepercayaan Kristen memegang pengakuan yang sama karena umat Kristen mengakui Alkitab Ibrani sebagai bagian Alkitab mereka. Penciptaan oleh Allah terjadi selama 6 hari dan kemudian Allah berhenti pada hari ketujuh, yang disebut hari Sabat (=hari Sabtu).

Umat Islam meyakini bahwa Nabi Adam diciptakan oleh Allah dengan kedua belah tanganNya, kemudian ada penjelasan pula dari salah seorang sahabat Abdullah bin Umar mengatakan bahwa yang diciptakan oleh Allah dengan kedua belah tanganNya adalah Al-‘Arsy, Adn, Adam dan Al-Qalam. Kemudian makhluk lain diciptakan oleh Allah dengan berfirman “kun” (jadilah), maka jadilah ia.

Agama Islam meyakini akan kisah Nabi Adam dan Hawa yang disebutkan pada Al Baqarah ayat 30-39. Sebagai terjemahan yang digunakan adalah Tafsir Al Misbah yang ditulis oleh Quraish Shihab.

Kemudian manusia pertama ini dan pasangannya diizinkan oleh Allah untuk tinggal di surga. Di dalam surga, Allah memberi karunia yang banyak, salah satunya berupa makanan yang banyak dan baik yang boleh dimakan oleh Adam dan pasangannya. Mereka boleh menikmati yang mana saja, kapan saja mereka suka. Tapi Allah melarang Adam dan pasangannya untuk mendekati sebuah pohon. Dari sekian banyak makanan dan pepohonan di surga, Allah hanya melarang satu pohon untuk tidak boleh didekati.

Ketika ada larangan tersebut, manusia melanggarnya. Manusia melakukannya dengan tidak sengaja. Semua dikarenakan lemahnya manusia terhadap godaan setan. Allah tidak membiarkan Adam dalam kesengsaraan akibat perbuatannya. Allah mengajarinya beberapa kalimat yang sering dipahami sebagai bentuk penyesalan. Allah tahu bahwa bersamaan dengan potensi pengetahuan yang telah diberikan-Nya, tersembunyi kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh setan untuk menjerumuskan manusia. Karenanya Allah memberi sebuah fasilitas bagi manusia yang terjerumus untuk kembali kepada-Nya. Ia berjanji bahwa bila manusia mau mengakui kelemahannya dan menerima petunjuk dari Allah, maka Allah akan mengizinkan manusia itu mencapai keberhasilan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi dan pada akhirnya kembali kepada Allah di surga untuk selama-lamanya.

Ada beragam kisah penciptaan alam semesta yang dituturkan secara mitologis dan berbeda-beda dalam kitab-kitab Purana. Menurut kitab Weda, unsur dasar alam semesta ini adalah aditi yang berarti ketiadaan atau kehampaan. Segala sesuatu yang ada merupakan diti yang artinya terikat. Sebelum adanya alam semesta, yang ada hanyalah Brahman, sesuatu yang sulit dilukiskan. Brahman berada di luar kehidupan dan kematian, tak terikat oleh waktu, abadi, tak bergerak, ada dimana-mana, memenuhi segala sesuatu.

Menurut kepercayaan Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu, Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman menyatu ke dalam ciptaannya. Menurut kitab Purana, pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmanda. Pada awal proses penciptaan juga terbentuk Purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta. Tahap ini terjadi berangsur-angsur, tidak sekaligus. Mula-mula yang muncul adalah Citta (alam pikiran), yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, munculah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria).

Setelah timbulnya Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, maka sepuluh indra tersebut berevolusi menjadi Pancatanmatra, yaitu lima benih unsur alam semesta yang sangat halus, tidak berukuran. Pancatanmatra merupakan benih saja. Pancatanmatra berevolusi menjadi unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur tersebut dinamai Pancamahabhuta, atau Lima Unsur Zat Alam. Kelima unsur tersebut yaitu: Akasa (ether); Bayu (zat gas, udara); Teja (plasma, api, kalor); Apah (zat cair); Pertiwi (zat padat, tanah, logam).

Pancamahabhuta berbentuk Paramānu, atau benih yang lebih halus daripada atom. Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan. Setiap planet dan benda langit tersusun dari kelima unsur tersebut, namun kadangkala ada salah satu unsur yang mendominasi. Sari-sari Pancamahabhuta menjadi Sadrasa, yaitu enam macam rasa. Unsur-unsur tersebut dicampur dengan Citta, Buddhi, Ahamkara, Dasendria, Pancatanmatra dan Pancamahabhuta. Dari pencampuran tersebut, timbulah benih makhluk hidup, yaitu Swanita dan Sukla. Pertemuan kedua benih tersebut menyebabkan terjadinya makhluk hidup.

Kehidupan dimulai dari yang paling halus sampai yang paling kasar. Sebelum manusia diciptakan, terlabih dahulu Brahman dalam wujud sebagai Brahma, menciptakan para gandharwa, pisaca, makhluk gaib, dan sebagainya. Setelah itu terciptalah tumbuhan dan binatang. Manusia tercipta sesudah munculnya tumbuhan dan binatang di muka bumi. Karena memiliki unsur-unsur yang menyusun alam semesta, maka manusia disebut Bhuwana Alit, sedangkan jagat raya disebut Bhuwana Agung.

Menurut kepercayaan Hindu, manusia pertama adalah Swayambu Manu. Nama ini bukan nama seseorang, melainkan nama spesies. Swayambu Manu secara harfiah berarti “makhluk berpikir yang menjadikan dirinya sendiri”.

Teori Darwin adalah salah satu teori yang sangat terkenal dalam kehidupan manusia. Darwin berpendapat bahwa nenek moyang manusia adalah evolusi tentang manusia purba yang secara bertahap mengalami ‘perbaikan biologis’ selama jutaan tahun sehingga menjadi manusia modern.

Meskipun teori Darwin ini masih ada kecacatan yaitu masih ada missing link yang masih belum dapat ditemukan penyambungnya dari proses evolusi tersebut, sehingga tidak semua orang bisa menerima teori ini.

Sebagian besar penganut agama samawi, mempunyai teori “sudden creation” yaitu manusia diciptakan langsung oleh Tuhan dan tidak melalui proses evolusi sedangkan pendukung teori Darwin menolak itu.

Pada akhirnya keberadaan eksistensi teori Darwin saat ini terbantahkan dengan teori yang salah satunya dikemukakan oleh A.J. Kelson yang menyatakan bahwa Meganthropus dan Phitecantropus ternyata hidup di belahan bumi yang berbeda namun pada waktu yang sama. Hal ini kembali memunculkan kesimpulan bahwa Adam tetap manusia pertama sebagai nenek moyang manusia purba dan manusia yang ada sekarang.

Lalu, apakah pada kenyataannya manusia tidak pernah berevolusi? Manusia purba sudah ada sejak 1-2 juta tahun yang lalu, begitu pun dengan kehidupan para dinausourus (masa Jurasic). Sementara, Nabi Adam ditiupkan ruhnya sebelum 8000 tahun yang lalu. Dengan kata lain, secara eksplisit menunjukkan bahwa Nabi Adam dan Manusia Purba lebih dulu tercipta manusia purba.

Dari sisi sejarah primeval pada bab-bab pembuka Taurat , lima buku yang menyusun sejarah asal-usul Israel  pada abad ke-5 SM, tetapi Kitab Kejadian 1-11 menunjukkan sangat sedikit hubungan dengan bagian Alkitab lainnya: nama-nama karakter dan geografinya – Adam (manusia) dan Hawa (kehidupan), the Land of Nod, dan sebagainya – bersifat simbolis daripada nyata, dan hampir tidak ada orang, tempat, dan kisah yang disebutkan di dalamnya yang pernah bertemu di tempat lain. Hal ini membuat para peneliti beranggapan bahwa sejarah membentuk komposisi akhir yang melekat pada kisah Kejadian dan Pentateukh/Taurat yang berfungsi sebagai pengantar. Betapa terlambatnya subjek untuk diperdebatkan: secara pemikiran mereka yang melihatnya sebagai produk dari periode Helenistik, dalam hal ini tidak dapat lebih awal dari dekade pertama abad ke-4 SM; di sisi lain sumber Yahwist telah diberi tanggal oleh beberapa sarjana, terutama John Van Seters, hingga periode pra-Persia (abad ke-6 SM) tepatnya karena sejarah purba mengandung begitu banyak pengaruh Babylonia dalam bentuk mitos. Sejarah purba mengacu pada dua “sumber” yang berbeda, sumber Pendeta dan apa yang kadang-kadang disebut sumber Yahwist dan kadang-kadang hanya “non-Priestly”; untuk tujuan mendiskusikan Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian, istilah “non-Priestly” dan “Yahwist” dapat dianggap dapat dipertukarkan.

Konsep-konsep tertentu, seperti ular yang diidentifikasi sebagai Setan , Hawa menjadi godaan seksual, atau istri pertama Adam adalah Lilith , berasal dari karya-karya sastra yang ditemukan dalam berbagai apokrifa Yahudi, tetapi mereka tidak ditemukan di mana pun dalam Kitab Kejadian atau Taurat itu sendiri .Tulisan-tulisan yang berhubungan dengan subjek-subjek ini adalah literatur yang masih ada dalam bahasa Yunani, Latin, Slavonic, Suryani, Armenia, dan Arab, yang diperluas kembali ke pemikiran Yahudi kuno. Konsep-konsep itu bukan bagian dari Yudaisme Rabinis, tetapi mereka memang memengaruhi teologi Kristen, dan ini menandai perpecahan radikal antara kedua agama. Beberapa bagian apokrifa Yahudi tertua disebut Primary Adam Literature di mana beberapa karya menjadi Kristen. Contoh karya yang dikristenkan adalah Life of Adam and Eve, Conflict of Adam and Eve with Satan dan karya asli Syria berjudul Cave of Treasures yang memiliki kedekatan dekat dengan Konflik sebagaimana dicatat oleh August Dillmann .

Beberapa cendekiawan modern, seperti James Barr , Moshe Greenberg , dan Michael Fishbane , melihat kisah Adam dan Hawa sebagai representasi dari peningkatan agensi moral. Carol Meyers dan Bruce Naidoff memandang kisah itu sebagai penjelasan tentang kondisi pertanian di dataran tinggi Canaan.

Sementara pandangan tradisional adalah bahwa Kitab Kejadian ditulis oleh Musa dan telah dianggap historis dan metaforis, para sarjana modern menganggap narasi penciptaan Kejadian sebagai salah satu dari berbagai mitos kuno.

Analisis seperti hipotesis dokumenter juga menunjukkan bahwa teks adalah hasil kompilasi dari beberapa tradisi sebelumnya, menjelaskan kontradiksi yang tampak.  Kisah-kisah lain dari buku kanonik yang sama, seperti narasi kisah banjir besar, juga dipahami telah dipengaruhi oleh literatur yang lebih tua, dengan paralelnya dalam Epic of Gilgames yang lebih tua.

Dengan perkembangan ilmiah dalam paleontologi, geologi, biologi, dan disiplin ilmu lainnya, ditemukan bahwa manusia, dan semua makhluk hidup lainnya, memiliki nenek moyang yang sama yang berevolusi melalui proses alami, selama miliaran tahun untuk membentuk kehidupan yang kita lihat sekarang.

Dalam biologi nenek moyang yang paling umum, ketika ditelusuri kembali menggunakan kromosom Y untuk garis keturunan laki-laki dan DNA mitokondria untuk garis keturunan perempuan, masing-masing umumnya disebut Y-kromosom Adam dan Mitokondria Hawa. Ini tidak bercabang dari pasangan tunggal pada zaman yang sama bahkan jika nama-nama itu dipinjam dari Tanakh (Alkitab Ibrani).

Agama dan Politik

Dalam hubungannya dengan ide besar tentang awal mula kehidupan manusia di bumi secara tekstual dan visual, juga menyikapi tentang konsepsi politik  dan hubungannya dengan agama.

Konsepsinya adalah ada tiga kemungkinan skenario politik keagamaan.: Pertama, agama dan negara terpisah satu sama lain. Doktrin agama hanya menjadi pedoman hidup manusia sebatas dalam keluarga dan masyarakat yang berwadahkan keorganisasian dalam masjid, gereja, kuil, dan lain-lain. Segala sesuatu yang berurusan dengan agama diselesaikan dalam institusi kegamaan tersebut. Prinsip utamanya adalah “Agama adalah Agama”. Dalam kenyataan, sukar menemukan pada abad global ini suatu institusi agama yang tidak tercemar sama sekali dengan pergumulan duniawi di luar dari agama. Kedua, Agama dan Negara terikat satu sama lain (Integralistik) dalam pengertian agama memberi corak dominan atas negara. Dalam konteks ini agama bermain penuh sebagai instrumen, yakni aktualisasi agama di dalam sebagian besar institusi negara seperti institusi politik, ekonomi, hukum dan lainnya. Ketiga, Agama ditempatkan dalam suatu sistem negara yang mengutamakan harmoni dan keseimbangan. Agama direduksi menjadi salah satu unsure saja dari sistem yang dipandang saling tergantung dengan unsur-unsur lain. Kebijakan kebijakan yang merupakan konkretisasi pendekatan sistemik ini jelas sekali menekankan kontrol yang tegas terhadap unsur-unsurnya, termasuk unsur agama agar selalu terwujud keteraturan yang harmonis tanpa guncangan. Setiap kali ada gejolak sekecil apapun, langsung diredam oleh negara (pemerintah) sehingga keseimbangan tercapai kembali.

Hubungan politik dengan agama tidak dapat dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa politik berbuah dari hasil pemikiran agama agar tercipta kehidupan yang harmonis dan tenteram dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini disebabkan, pertama, oleh sikap dan keyakinan bahwa seluruh aktifitas manusia, tidak terkecuali politik, harus dijiwai oleh ajaran-ajaran agama; kedua, disebabkan oleh fakta bahwa kegiatan manusia yang paling banyak membutuhkan legitimasi adalah bidang politik, dan hanya agamalah yang dipercayai mampu memberikan legitimasi yang paling meyakinkan karena sifat dan sumbernya yang transcendent.

%d blogger menyukai ini: