Eddytorial,  Write

Seni Rupa Kontemporer?

Asmudjo J. Irianto & Axel Ridzky

Pengertian seni rupa kontemporer adalah seni rupa masa kini. Pengertian tersebut tentu perlu penjelasan lebih lanjut. Di Barat keberadaan seni rupa kontemporer tidak bisa dilepaskan oleh seni rupa modern yang mendahuluinya. Seni rupa modern lahir dari gejolak sosial-politikkebudayaan di Eropa pada penutupan abad 19. Secara sederhana seni rupa modern adalah upaya seniman untuk mencari esensi seni rupa, dalam hal ini seni lukis. Para seniman modern mengakhiri seni mimetik yang naratif, dan sibuk mengolah bentuk (form). Karena itu kecenderungan modern (modernisme) kerap disebut sebagai formalisme. Para pengusungnya, mengklaim seni rupa modern bersifat universal dan menjadi kanon seni. Para seniman modern terus menerus berupaya menemukan kebaruan dalam pencarian esensi seni lukis, dan menghasilkan serangkai gaya seni lukis yang disebut sebagai narasi besar seni rupa modern.

Seni rupa modern melahirkan otonomi seni, yaitu seni yang tidak terikat pada guna praktis, disebut “seni untuk seni” (art for art’s sake). Untuk dapat beroperasi otonomi seni membutuhkan kelembagaan, baik perangkat lunak (filsuf,sejarawan, pemikir seni, kritikus seni dan kurator yang menghasilkan filsafat, sejarah, teori dan wacana seni rupa) dan perangkat keras (akademi, museum, galeri, dan pasar seni). Aspek produksi, konsumsi dan valuasi seni terjadi dalam lembaga-lembaga seni rupa tersebut, yang disebut sebagai art world (medan seni).

Seni rupa kontemporer bisa dikatakan bermula pada tahun 60-an di Barat, setelah menyurutnya seni rupa modern. Berbeda dengan seni rupa modern, seni rupa kontemporer kembali bersentuhan dengan beragam isu persoalan manusia dan dunia. Seni rupa kontemporer baru menjadi fenomena global pada tahun 90-an, dan ini juga tidak lepas dari situasi sosial-politik global. Bangkitnya kesadaran multikultur, politik identitas dan lingkugan memberikan jalan bagi praktik seni rupa di luar Barat diakui keberadaannya dan menjadi bagian dari seni rupa kontemporer global. Jika seni rupa kontemporer dipandang sebagai wilayah representasi dan praktek pemaknaan, maka karya-karya seni rupa kontemporer di luar Barat dipandang memiliki perbedaan konten representasi, karena perbedaan budaya dan situasi sosial-politik yang melatarinya. Itu sebabnya sejak tahun 90-an para seniman kontemporer Indonesia mulai diundang dan hadir dalam kegiatan-kegiatan pameran seni rupa kontemporer Internasional.

Seni rupa kontemporer bersifat plural, dengan baragam metode seni dan konten representasi. Pluralitas dan tak ada batasan persoalan yang dapat direprsentasikan menjadikan praktik seni rupa kontemporer sangat ekstensif, apapun dapat menjadi seni. Begitupun, sebagian besar distribusi karya-karya seni rupa kontemporer tetap melalui saluran institusi yang diwariskan seni rupa modern, seperti museum, bienal/trienal dan galeri seni. Praktik seni rupa kontemporer dalam medan seni rupa yang institusional tersebut dapat kita sebut sebagai arus utama.

Salah satu fenomena penting yang menyertai praktik seni rupa kontemporer adalah komodifikasi seni rupa yang sangat masif berupa pasar seni rupa kontemporer global. Pesatnya pertumbuhan galeri dan art-fair Internasional di kota-kota besar dunia menunjukkan hal itu. Demikian pula rumah-rumah lelang seni yang penting seperti Christie’s, Sotheby’s, Phillips memiliki perwakilan di penjuru dunia, belum lagi tumbuhnya rumah-rumah lelang lokal. Hal tersebut menumbuhkan sikap kekariran (careerism) para seniman kontemporer juga tumbuhnya para kolektor baru yang juga cenderung menempatkan karya seni sebagai komoditas yang memiliki nilai investasi.

Sampai saat ini infrastruktur dan praktik seni rupa kontemporer terus berkembang di negara-negara yang kesadaran budayanya tinggi. Seni rupa kontemporer dipercaya dapat memberikan kontribusi “pengetahuan” dan “kritik” melalui metode dan cara yang berbeda dengan ilmu pengetahuan. Seniman sebagai subyek “mandiri” dengan intuisi, imajinasi, kreativitas dan sikap kritis melalui karya-karyanya, dipandang dapat memberikan cara pandang alternatif pada segala persoalan dunia. Yang menarik, kendati karya-karya seni rupa kontemporer dikooptasi kapital dan dijadikan komoditas, hal tersebut tidak menghilangkan potensi lain yang terikat padanya, seperti refleksi kritik, kualitas estetik, wacana dan terobosan metoda visual.

Karya-karya seni rupa kontemporer menyediakan dirinya sebagai tantangan bagi audiensnya untuk melihat secara berbeda berbagai persoalan dunia hari ini. Sebagai konstruks visual yang simbolik, mengamati dan membaca karya seni rupa adalah upaya mencari pandangan mendalam (insight) yang memberikan kepuasan estetik, batin (spiritual) dan rangsangan intelektual. Memang untuk memahami karya-karya seni rupa kontemporer membutuhkan modal pengetahuan (kognisi), namun di situlah tantangannya.

%d blogger menyukai ini: