Eddytorial,  Write

VISUAL OF JAVA: Albrecht Durer and the Sacred Script, Texts and Numbers

See inlay for details:

Javanese Bible of Durer Series (2013)

Dalam catatan Mankind and Mother Earth Toynbee, seluruh Itali bukanlah satu-satunya loka tumbuhnya budaya modern karena wilayah Flanders muncul dan menjadi magnet kedua dari bersinarnya kebudayaan barat (Eropa). Salah satunya, di antara laut Adriatik dan laut Utara, Nuremberg menjadi pusat budaya. Di sanalah, Albrecht Durer berkarya sejaman dengan Michelangelo dan Raphael. Ia memang menjadi seniman besar yang menjadi tandingan seniman-seniman Itali[1]. Durer menjadi seniman Renaisans Utara yang (juga) memberikan nuansa religius serta misterius dalam karya-karyanya layaknya Leonardo da Vinci. Karya-karya (Durer) ini diangkat kembali lalu ditafsirkan dalam sakralitas aksara, naskah (babad tanah Jawi) dan pemahaman akan angka dalam lokalitas Jawa sehingga tampilan sakralitas Durer secara visual bermakna juga membuka pemahamaan makna sakralitas dalam kultur Jawa.

Pameran bertajuk Visual of Java: Albercht Durer and the Sacred Script, Texts and Numbers ini mengkorelasikan karya-karya Albrecht Durer dengan aksara bahasa Jawa yang dipertemukan dalam titik sacred script, texts and numbers. Aksara jawa carakan memiliki sakralitas karena aksara ini diejawantahkan dan diingat dalam kultur jawa sebagai sebuah hukum kodrat “sangkan paraning dumadi”, sebuah ungkapan transedental tentang asal muasal. Carakan menjadi sebuah episteme saat digubah dalam sebuah seloka yang indah;

hananing cipta rasa karsa(Ha-na-ca-ra-ka)

            datan salah wahyuning lampah(Da-ta-sa-wa-la) 

            padhang jagade yen nyumurupana(Pa-dha-ja-ya-nya)

            marang gambaring bathara ngaton(Ma-ga-ba-tha-nga) [2]

Bagi orang Jawa, carakan dari ha sampai nga (berikut pasangan dan sandhangannya), selain disebut sebagai aksara juga disebut sastra dan sastra ini mengungkapkan isi kandungan batin manusia mulai dari yang sederhana hingga kawruh pangawikan kajaten (filsafat) yang lahir dari pikiran, perasaan dan kemauan yang melahirkan perbuatan—hananing cipta rasa karsa—manusia, tidak menyalahi laku kehidupan karena semua telah ditakdirkan—datan salah wahyuning lampah. Lampah berarti lampahing agesang yang bermakna  sebuah perjalanan hidup. Meskipun demikian, manusia akan selamat manakala mampu melihat atau menyadari—padhang jagade yen nyumurupana—alam kehidupan semesta milik Tuhan—gambaring bathara ngaton. Alam semesta menjadi yang paling akhir dan paling puncak. Semesta ini menjadi makrokosmos, sebuah manifestasi kehadiran atau pengejawantahan sang pencipta alam.

Dua seloka  terakhir dalam carakan itu “padhang jagade yen nyumurupana marang gambaring bathara ngaton” bermakna mengakui  kemahakuasaan sang pencipta dan menjadi sumber segala penerangan atas kehidupan[3]. Carakan telah menjadi untain aksara yang adiluhung, jika dirangkaikan dalam wujud teks, maka teks itu juga menjadi adiluhung, menjadi teks yang suci (sacred text). Para pujangga keraton di Jawa menuliskan serat dan babad dalam aksara-bahasa Jawa. Karya-karya tekstual itu menjadi karya adiluhung, menjadi sakral karena ditulis dalam aksara (dan bahasa) yang suci.

Lalu mengapa carakan menjadi suci? Aksara carakan bermula dari transformasi tata aksara arkais yang—dalam   catatan de Casparis—tumbuh sejak sebelum masa 700 Masehi bernama Pallawa[4]. Pallawa merupakan aksara abudiga yang berpangkal dalam rumpun aksara Brahmin milik kaum Brahmana yang sakral dan suci. Karakter Brahmin selatan—dalam aksara Pallawa—kemudian telah melahirkan aksara Kawi  (Jawa Kuno) yang mewujud sejak abad 8 Masehi hingga abad 13 Masehi , lalu berubah menuju aksara Jawa Tengahan di masa negeri Wilwatikta hingga paruh pertama abad 15 Masehi. Selepas itu Casparis menyebutnya sebagai masa cul de sac, dimana transformasi aksara yang berkelanjutan “berhenti” atau aksara yang berkembang hanya sekedar  penyederhanan dari aksara Majapahitan[5]. Tetapi van der Molen menyebutnya sebagai masa perkembangan menuju arah aksara baru[6], menuju aksara carakan paling awal.

Transformasi aksara ini tetap meletakkan nilai-nilai sakralitas aksara itu sendiri. Itulah mengapa aksara-aksara itu berikut makna tekstual yang ingin disampaikan dalam prasasti yang terpahat di batu dan logam hingga ditorehkan pada lontar dan kertas, dimulai dengan doa-doa yang sakral, baik oleh kaum poruhita hingga kaum pujangga keraton. Mereka berharap teks yang termaktub menjadi sakral dan aksara yang dituliskan disucikan.

Dalam konteks sacred script and text inilah, 22 karya dari genesis of Durer hingga Malachi of Durer mencoba menautkan makna sakralitas karya-karya engraving dan woodcut Albrecht Durer dengan kitab Perjanjian Lama. Tetapi sakralitas Perjanjian Lama—yang berkaitan erat dengan 22 aksara Ibrani karena aksara bahasa Ibrani memang menjadi aksara penyampai kitab Perjanjian Lama—disampaikan dalam aksara-bahasa Jawa baru, Hanacaraka. Catatan arkais 39 kitab itu ditulis kembali dalam aksara-bahasa Hanacaraka secara utuh—menjadi sebuah kodeks Perjanjian Lama—disematkan dalam 22 karya religius Durer. 22 Karya Durer diambil dan dipilih dari tahun 1497 hingga 1523. Rentan waktu selepas Durer kembali ke Nuremberg dari perjalanannya ke Italia  pertama kali hingga masa kembali ke Nuremberg untuk yang kedua kali dan selamanya selepas melakukan perjalanan ke Belanda. Karya-karya gravir dan cukilan kayu Durer secara visual menggambarkan nafas kristianitas yang suci, seperti umumnya karya-karya seniman renaisans. Meski Renaisans mengubah pemikiran manusia Eropa dimana  manusia berada di pusat alam yang bebas menentukan takdirnya sendiri, citra manusia layaknya dalam Hamlet Shakespeare, “betapa manusia adalah sepotong karya! Betapa agung dalam penalaran!…di dalam tindakan betapa ia laksana seorang malaikat!…betapa ia seperti seorang dewa!”. Tetapi  sekalipun  ide kebebasan menyeruak kuat, dalam budaya renaisans, kristianitas tetap fundamental bagi kehidupan orang karena—seperti catatan Alison Brown—“tradisi religius telah mendarah daging, meresap ke dalam tulang-tulang pria dan wanita…sejak dari buaian hingga kuburan”[7].

Secara historis, 22 karya ini  juga ingin memperlihatkan korelasi temporal yang menarik. Kemunculan karya-karya religius Durer di akhir abad 15 hingga awal abad 16 Masehi sejalan dengan kemunculan awal aksara Hanacaraka yang mulai selepas paruh kedua abad 15 Masehi, selepas apa yang disebut de Casparis sebagai masa cul de sac. Bahwa aksara Hanacaraka berkembang pesat di abad 17 memang tak bisa dibantah, tetapi permulaannya tak bisa dilepaskan dari masa abad 15 dan 16 Masehi. Aksara Hanacaraka telah baku, langgeng dan tidak lagi mengalami transformasi. Aksara ini tidak pernah kehilangan nilai adiluhungnya, hingga di Jawa, alkitab diterjemahkan dalam aksara-bahasa Jawa baru. Selepas 24 tahun perang Jawa, atas ketekunannya, Johann Friedrich Carl Gericke selesai menuliskan Perjanjian Lama dalam aksara bahasa Jawa krama (halus). Seperti catatan Kilgour, “(kala itu) Bahasa Jawa dipakai oleh kurang lebih dua per tiga penduduk Jawa. Bahasa jawa ini memiliki hurufnya sendiri…(maka) kebanyakan Kitab Suci dipublikasikan dalam bentuk huruf ini…”[8].

Sekali lagi, karya Genesis of Durer hingga Malachi of Durer mencoba menampilkan secara visual tentang nilai adiluhung (suci) dari aksara bahasa Hanacaraka yang mulai muncul dititik awal abad 15 Masehi di Jawa coba yang dimaknai sama dengan sakralitas karya-karya Durer, dimasa yang sama, yang terjadi Eropa.

Durer—dalam perkembangan Renaisans—memang tidak sekedar menampilkan sakralitas kristianitas tetapi juga memunculkan misteri angka dalam satu karyanya yang terkenal Melencolia I. Sakralitas angka memang mengundang kekaguman banyak orang. Dalam sebuah ilustrasi Amsal 11:21, yang termaktub dalam Alkitab berbahasa Perancis abad 13 Masehi, Sang Pencipta mengukur dunia menurut besar, jumlah dan beratnya dalam angka. Santo Agustinus—dalam buku kedua De Libero Arbitrio—juga mewartakan pelajaran bahwa “Semua makhluk mempunyai bentuk karena mereka memiliki angka. Jika engkau mengambil angka-angka ini dari mereka, maka mereka tak ada artinya. Angkalah yang menjadi inti dari makhluk. Angka-angka merupakan esensi yang bisa diukur.”[9]

Melencolia I penuh simbol rahasia. Wajah-wajah saturnine (sedih) dalam karya ini mencerminkan sebuah titik balik dalam kehidupan Durer. Durer juga membuat kotak terkenal dalam karya ini, sebuah magic square yang disebut dengan kotak Yupiter. Sebuah kotak berisikan 16 kotak kecil. Angka sentral dikolom terbawah berjumlah 1514, menunjukkan tahun pembuatan etsa itu.  Inilah kotak Yupiter sesungguhnya karena memiliki angka Yupiter, 34 di seluruh baris horizontal, vertikal dan diagonal. Angka 34 juga menjadi jumlah angka dipojok-pojoknya dan jumlah angka dari angka-angka di kota tengahnya.

            Maka tepat kiranya karya Java of Durer#2 menjadi penanda perayaan 500 tahun Melencolia I. Java of Durer#2 mencoba menarik korelasi antara Renaisans Eropa, terutama terkait dengan simbol-simbol enigmatis Durer (Durer code) dalam Melencolia I, dengan kultur Jawa. Dalam Melencolia I terdapat dua kategori simbol yang penting: simbol angka dalam magic square dan bentuk-bentuk benda ikonik (termasuk cupid, malaikat hingga tulisan Melencolia I). Kedua bentuk simbol itu diabadikan dalam sebuah karya instalasi kubus rubik. Setiap sisi Rubik ini memuat 64 kotak kecil yang berisikan angka-angka dalam magic square dan juga bentuk-bentuk benda ikonik dalam Melencolia I secara acak. Mulai angka 1 hingga 16 serta 31 ikon (lonceng, tangga, kelelawar, Anjing, palu, jangka/kompas, timbangan, jam pasir, mahkota bunga, roda, benda geometric, catut/tang, bola/globe, paku, pisau gergaji, pasah,malaikat, cupid, komet, tas, kunci, pelangi, dupa, rumah, buku, papan kayu, kota, lampu, alat serutan, wadah tempa baja besi/cor, tulisan caelo limine[10]). Setiap angka dan ikon memiliki makna. Dalam kultur Jawa, angka terkadang disembunyikan dalam dua model sengkalan (kronogram). Pertama, tulisan-tulisan dalam serat dan babad selalu menyertakan sengkalan kalimat atau yang disebut dengan sengkalan lamba. Babad tanah Jawi juga memuat sengkalan lamba ini untuk menyatakan angka-angka. Kedua, terkadang angka-angka mewujud dalam sengkalan memet, sebuah sengkalan dalam bentuk benda-benda ikonik yang juga berfungsi untuk mengartikulasikan angka-angka[11].

Dalam tradisi sengkalan memet, benda-benda ikonik dalam karya instalasi rubik ini ditafsirkan memuat angka-angka dalam kotak Yupiter Durer. Ikon-ikon bentuk-bentuk tunggal dan bulat bermakna angka 1, bentuk-bentuk benda yang berjumlah dua seperti mata, tangan, sayap, telinga, atau kaki bermakna angka 2, sementara sebagian dari ikon-ikon lain seperti yang mengandung api dan perempuan melambangkan angka 3, air melambangkan angka 4, roda bermakna angka 5, kayu untuk makna angka 6, bintang komet untuk makna angka 8, ikon benda berlubang untuk angka 9, dan kelelawar yang terbang tinggi bermakna angka 10.

Sementara teks Babad tanah Jawi dalam aksara bahasa Jawa yang membentuk lukisan Melencolia I dalam kanvas mencoba memaknai korelasi kondisi                                                                                                                                                                                                                                  kultural Renaisans di awal abad 16 Masehi dengan apa yang terjadi Jawa di abad yang sama. Dalam The mistery of Numbers, Annemarie Schimmel menyebutkan bahwa Melencolia I sesungguhnya ingin menunjukkan nuansa Eropa dibawah kuasa Maximilian I. Schimmel menyebutkan Melencolia I merupakan refleksi akan sosok Maximilian sebagai “Saturnus yang menakutkan”[12].  Secara lebih luas, penyebutan ini tentu saja berhubungan kuasa Maximilian I atas negeri Romawi Suci yang berpusat di Eropa Tengah dengan negeri-negeri lain di sekelilingnya. Eropa telah terpecah-pecah dalam fragmentasi politik, terkadang mengarah pada despotisme di beberapa wilayah. Tetapi secara kultural—terutama budaya Renaisans—mereka terpolarisasi dalam dua kutub yang terkadang dikotomis: Utara-Selatan, meski terkadang samar. Dalam titik ini, paling tidak Babad Tanah Jawi mengabarkan hal yang serupa. Jawa di abad 16 Masehi telah terfragmentasi dalam beberapa kuasa yang menunjukkan polarisasi antara pesisiran dan pedalaman yang dikotomis, yang juga merujuk pada arah yang sama: Utara-Selatan.

Kuasa Maximilian di masa Durer adalah masa Dipati Unus dan Trenggono di pesisir utara Jawa serta—dalam catatan Tome Pires—Pate Udara di pedalaman Jawa (Daha/Majapahit). Babad Tanah Jawi mengabarkan sosok Unus (pangeran Sabrang Ler) dan Trenggono sebagai dua penguasa Demak Bintoro yang mencoba melebarkan kekuasaannya seperti halnya Maximilian I melalui perang dan pernikahan. Munculnya relasi kerjasama (pernikahan eksogami) dan persaingan (perang) dalam pandangan struktural W.H. Rassers telah menunjukkan konsep hubungan dua phratriePhratrie atau moiety merupakan paroh masyarakat yang terbagi dalam dua kelompok besar yang mempunyai hubungan pertukaran, yang mengintegrasikannya dalam satu masyarakat atau komunitas[13]. Teks Babad Tanah Jawi telah menunjukkan struktur masyarakat seperti ini dimana hubungan dua paroh masyarakat (negeri-negeri) begitu fluktuatif, menjadi lentur atau berubah kaku. Mereka terkadang saling bekerjasama tetapi juga bisa saling bersaing. Pandangan tentang dua phratrie ini tepat untuk meneropong—seperti halnya keyakinan Rassers—tidak hanya untuk Jawa tetapi juga Eropa di masa Durer, di abad 16 Masehi.

Perang hingga pernikahan politik memang menjadi alat legitimasi yang dilakukan oleh Maximilian I serta para penguasa pesisiran-pedalaman Jawa. Tentu saja tindakan-tindakan itu mampu—dalam kondisi yang paling negatif—merubah Eropa dan Jawa dalam apa yang digambarkan Durer dalam Melencolia I sebagai wajah saturnine, wajah kesedihan dan kemurungan.

[Tim Padepokan Naga Air]


Senarai Pustaka

Arnold Toynbee, Mankind and Mother Earth A Narrative History of the World, New York and London: Oxford University Press, 1976

Alison Brown, The Renaisance (alih bahasa Saut Pasaribu, Sejarah Renaisans Eropa, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009

Annemarie Schimmel, The mistery of Numbers (terj Agung Prihantoro, The mistery of Numbers: Misteri Angka-angka dalam Berbagai Peradaban Kuno dan Tradisi Agama Islam, Yahudi dan Kristen, Bandung: Pustaka Hidayah, 2006)

Denis Lombard, Le Carrefour Javanais Essai d’histoire globale III. L’heritage des royaumes concentriques (terj Winarsih Partaningrat Arifin dkk, Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu bagian III: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Jakarta: Gramedia, 2000)

Heddy Shri Ahimsa Putra, Strukturalisme Levi Strauss Mitos dan Karya Sastra, Yogyakarta: Kepel Press, 2013

J.G.de Casparis, Indonesian Palaeography: a History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C AD 1500, Leiden: EJ Brill, 1975

Rev. R. Kilgour,D.D, Alkitab di Tanah Hindia Belanda: Sejarah penerjemahan Alkitab di Tanah Hindia Belanda,

Soenarto Timoer, Mengkaji Makna Ha-Na-Ca-Ra-Ka Menguak Hakikat Sangkan Paraning Dumadi, Yogyakarta: Lembaga Javanologi dan Yayasan Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, 1994

W. van der Molen, “sejarah dan Perkembangan Aksara Jawa” dalam Soedarsono dkk (peny), Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Proyek penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985


[1] Arnold Toynbee, Mankind and Mother Earth A Narrative History of the World, New York and London: Oxford University Press, 1976, p.646.

[2] Soenarto Timoer, Mengkaji Makna Ha-Na-Ca-Ra-Ka Menguak Hakikat Sangkan Paraning Dumadi, Yogyakarta: Lembaga Javanologi dan Yayasan Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, 1994, hlm.2

[3] Ibid., hlm.2-4

[4] J.G.de Casparis, Indonesian Palaeography: a History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C AD 1500, Leiden: EJ Brill, 1975, pp.12-27

[5] Ibid., hlm.65

[6] W. van der Molen, “sejarah dan Perkembangan Aksara Jawa” dalam Soedarsono dkk (peny), Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Proyek penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985, hlm.12

[7] Alison Brown, The Renaisance (alih bahasa Saut Pasaribu, Sejarah Renaisans Eropa, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009, hlm.138

[8] Rev. R. Kilgour,D.D, Alkitab di Tanah Hindia Belanda: Sejarah penerjemahan Alkitab di Tanah Hindia Belanda, hlm. 171-176

[9] Annemarie Schimmel, The mistery of Numbers (terj Agung Prihantoro, The mistery of Numbers: Misteri Angka-angka dalam Berbagai Peradaban Kuno dan Tradisi Agama Islam, Yahudi dan Kristen, Bandung: Pustaka Hidayah, 2006, hlm.189)

[10] Kata ini menjadi sebuah anagram dari kata Melencolia I. Kata ini bisa bermakna  “I engrave at the wall “, atau “I engrave at the edge”, atau “at the gateway to Heaven”.

[11] Denis Lombard, Le Carrefour Javanais Essai d’histoire globale III. L’heritage des royaumes concentriques (terj Winarsih Partaningrat Arifin dkk, Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu bagian III: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Jakarta: Gramedia, 2000, hlm.101)

[12] Annemarie Schimmel, op.cit., hlm.190

[13] Heddy Shri Ahimsa Putra, Strukturalisme Levi Strauss Mitos dan Karya Sastra, Yogyakarta: Kepel Press, 2013, hlm.143

%d blogger menyukai ini: