2020,  Work

David Beheading Goliath after Marcantonio Raimondi

“10.000 hours rule: Setiap kesuksesan diawali dengan berlatih dan praktek minimal selama 10.000 jam” (Malcom Gladwell in his bestseller Outliers: The Story of Success)

Kisah ini terjadi pada sekitar 3.000 tahun yang lalu di wilayah Palestina Kuno ketika Kerajaan Israel baru saja berdiri. Pada saat itu terjadi pertempuran antara seorang gembala dengan seorang raksasa, yang akhirnya menjadi sebuah metafora akan sebuah kemenangan yang mustahil dari seseorang atau sesuatu yang lemah atas seseorang atau sesuatu yang lebih kuat. Pertempuran antara David vs Goliath. Metafora ini tertanam begitu kuat dalam memori kita khususnya, ketika sebuah entitas kecil menantang sebuah entitas lainnya yang jauh lebih besar dan kuat darinya.

Detail Artwork

Wilayah Palestina Kuno pada tiga millennium lalu bisa digambarkan sebagai berikut. Di sisi timur Palestina Kuno terdapat pegunungan, yang masih ada hingga sekarang di Israel. Di pegunungan tersebut terdapat kota-kota kuno yaitu Betlehem, Yerusalem, dan Hebron. Disisi barat terdapat wilayah pantai memanjang di sisi Laut Mediterania. Lalu daerah yang menghubungkan antara daerah pantai dan pegunungan adalah sebuah rangkaian lembah dan gunung yang membentang dari timur ke barat yang bernama Shephelah. Saat ini Shephelah adalah suatu daerah yang sangat indah di Israel, penuh hutan dan perkebunan, namun pada saat itu Shephelah adalah suatu daerah yang mempunyai sebuah peran strategis yang sangat penting, yaitu sebagai jalur utama untuk pasukan dari daerah pantai menyerang musuh mereka di pegunungan. Dan pada 3.000 tahun yang lalu, itulah yang terjadi.

Detai Artwork

Bangsa Philistine, musuh besar dari Kerajaan Israel, hidup di dataran pantai. Mereka adalah bangsa pedagang dan pelaut. Asal mereka adalah dari Kreta, pulau terbesar di Yunani, dan merupakan tempat kelahiran kebudayaan Minoa yaitu salah satu kebudayaan tertua di Eropa. Pulau Kreta sendiri merupakan pulau yang penuh kisah mitologi, terutama berkaitan dengan dewa-dewa Yunani. Menurut mitologi Yunani, gua Psychro di Gunung Dikti, Kreta, adalah tempat kelahiran Zeus. Pulau-pulau Paximadia di sebelah selatan pantai Kreta adalah tempat kelahiran dewi Artemis dan dewa Apollo. Ibu mereka, dewi Leto, dipuja di Istana Phaistos yang terletak di Kreta bagian selatan. Danau Voulismeni merupakan tempat pemandian dewi Athena. Pada suatu cerita, dewa Yunani kuno Zeus meluncurkan petir pada kadal raksasa yang mengancam Kreta. Kadal tersebut kemudian berubah menjadi batu dan menjadi pulau Dia. Pulau ini memiliki bentuk kadal raksasa dan dapat dilihat dari Knossos, situs arckeologi di Kreta dan merupakan kota tertua di Eropa.

Normal Artwork

Bangsa Philistine, bangsa pelaut yang hidup di dataran pantai tersebut, bermaksud untuk menyerang Kerajaan Israel. Mereka membawa pasukan menuju Shephelah untuk kemudian naik ke pegunungan menuju ke Betlehem dengan maksud memecah Kerajaan Israel menjadi dua bagian. Raja Kerajaan Israel, Raja Saul, ketika mendengar berita ini kemudian membawa pasukannya menuruni pegunungan untuk menghadang tentara Philistine di Lembah Elah. Pasukan Israel kemudian bertahan di pegunungan bagian utara dan pasukan Philistine bertahan di pegunungan bagian selatan. Kedua pasukan tersebut kemudian bertahan disana selama berminggu-minggu karena mereka menemukan jalan buntu. Untuk menyerang, maka salah satu pasukan harus menuruni Lembah Elah lalu menyerang pasukan lainnya di pegunungan. Dan jika hal itu terjadi maka pasukan tersebut akan terekspos dan mudah untuk dihancurkan.

Akhirnya untuk memecahkan kebuntuan pasukan Philistine mengirimkan prajurit mereka yang terkuat untuk menuruni lembah lalu menantang pasukan Israel untuk mengirimkan juga prajuritnya dan melakukan duel satu lawan satu. Ini adalah tradisi dalam peperangan kuno yang bernama Single Combat. Yaitu cara menyelesaikan perselisihan tanpa harus menumpahkan darah pada pertempuran besar.

UV Artwork

Bangsa Philistine mengirimkan prajurit mereka yaitu raksasa dengan tinggi lebih dari 2 meter. Ia mengenakan baju zirah perunggu yang mengkilat dari kepala hingga kaki. Ia bersenjatakan pedang, lembing, dan tombak. Penampilannya benar-benar mengerikan sehingga tidak ada seorangpun dari tentara Israel yang berani melawannya. Mereka berpikir mustahil untuk bisa mengalahkannya. Akhirnya seseorang yang bersedia maju adalah seorang penggembala muda, yang menghadap Raja Saul dan mengatakan bahwa dia akan maju untuk menghadapi raksasa tersebut. Raja Saul meragukan penggembala tersebut karena yang akan dihadapi adalah seorang prajurit tangguh dengan kekuatan raksasa. Penggembala tersebut menyakinkan Raja Saul dan mengatakan bahwa dia sering mempertahankan ternaknya dari serangan singa dan serigala selama bertahun-tahun sehingga dia percaya diri mampu menghadapinya. Raja Saul tidak punya pilihan. Tidak ada orang lain yang mengajukan diri. Maka Raja Saul menyetujuinya dan menyerahkan baju zirah untuk dipakai oleh si penggembala. Penggembala tersebut menolak dan mengatakan bahwa dia tidak biasa memakai baju zirah. Dia lalu mengambil lima buah batu, dimasukkannya batu tersebut kedalam kantong, lalu berjalan menuruni pegunungan tanpa mengenakan baju zirah menuju ke prajurit raksasa yang sudah menunggunya.

Sang raksasa yang sudah menunggu di lembah, ketika melihat si penggembala menuruni pegunungan, dia berteriak agar si penggembala mendekat sehingga ia bisa merobek-robek dagingnya dan memberikannya kepada hewan-hewan di padang. Dia mencemooh si penggembala yang datang untuk menantangnya. Si penggembala kemudian semakin dekat dengan sang raksasa. Sang raksasa melihat si penggembala tidak membawa baju zirah dan persenjataan lengkap, hanya membawa tongkat dan umban (sejenis ketapel yang cara penggunaannya dengan cara memutar atau mengayun). Dia merasa terhina. Si penggembala kemudian mengambil batu dari kantongnya, memasukkannya kedalam umban, memutarnya kemudian melontarkan batu tersebut tepat mengenai tengah-tengah dahi sang raksasa. Sang raksasa jatuh tak sadarkan diri. Si penggembala kemudian lari kearah sang raksasa, mengambil pedangnya, lalu menebas kepala sang raksasa hingga tewas. Demi melihat hal ini, bangsa Philistine kemudian berbalik dan melarikan diri dari medan pertempuran. Nama sang raksasa adalah Goliath, dan nama si penggembala adalah David.

David dalam kisah tersebut adalah seorang underdog. Seorang anak bawang. Ungkapan David vs Goliath bahkan masuk ke dalam bahasa kita sebagai kemenangan yang mustahil oleh pihak yang lemah terhadap pihak yang lebih kuat. Kita menganggap David sebagai underdog karena dia hanya seorang bocah penggembala, sementara Goliath adalah seorang prajurit berpengalaman dengan tubuh raksasa. Kita juga menganggap David sebagai underdog karena Goliath bersenjatakan lengkap seperti pedang, tombak, dan lembing serta baju zirah yang kuat, sementara yang David punya hanya sebuah umban. Apakah benar dengan hanya bersenjatakan umban David menjadi seorang underdog?

Dalam strategi peperangan kuno terdapat tiga jenis prajurit. Yang pertama adalah kavaleri, pasukan berkuda dan berkereta. Yang kedua adalah infanteri, yaitu serdadu pejalan kaki bersenjatakan pedang dan tameng serta baju zirah yang kuat. Yang ketiga adalah artileri. Artileri adalah pemanah dan juga pengumban. Pengumban adalah seseorang yang mempunyai kantung kulit yang dipasang dua tali panjang, dan mereka menaruh proyektil dalam bentuk batu atau bola besi ke dalam kantung tersebut, lalu memutarnya dan melepaskan salah satu talinya, akibatnya proyektil akan terlempar kedepan menuju sasaran.

Umban berbeda dengan ketapel biasa. Umban sendiri dalam peperangan kuno merupakan sebuah senjata yang ampuh. Ketika David memutar umbannya untuk menyerang Goliath, dia memutarnya dengan rotasi 6-7 putaran/detik. Itu berarti ketika batu tersebut dilepaskan, batu tersebut akan terlempar dengan cepat hingga mencapai sekitar 35 meter/detik. Kecepatan tersebut setara dengan 126 km/jam.

Selain itu, batu yang terdapat di Lembah Elah berbeda dengan batuan lainnya. Batu tersebut merupakan Barium Sulfat yaitu jenis mineral yang mempunyai kepadatan dua kali dari batu biasa. Jika dilakukan uji balistik pada daya penetrasi batu yang terlempar dari umban David, maka daya tersebut kurang lebih sama dengan daya penetrasi dari pistol kaliber 45 mm. Jadi umban yang dibawa oleh David sebenarnya adalah senjata yang sangat mematikan.

Para pengumban ini juga mempunyai keakuratan menembak yang luar biasa. Dalam penelitian sejarah, mereka mampu menembak dengan akurat dalam jarak sekitar 180 meter. Bahkan dalam cerita yang terdapat pada permadani-permadani kuno, mereka bisa menembak burung yang sedang terbang. Ketika David bertarung dengan Goliath, dia berada cukup dekat dengan Goliath. Ketika David melempar batu tersebut dengan umbannya, dia memang mengincar dahi Goliath untuk menjatuhkannya.

Jika David adalah artileri, lalu siapakah Goliath? Goliath adalah pasukan infanteri. Ketika dia menantang Bangsa Israel untuk single combat, ekspektasinya adalah untuk bertarung prajurit infanteri lainnya dengan jarak dekat, menggunakan pedang, tombak, dan baju zirah. Begitu juga dengan Raja Saul, dia mengira single combat akan dilakukan dengan jarak dekat sehingga dia sempat menawarkan baju zirahnya kepada David. Namun David berpikiran lain, dia tidak mempunyai ekpektasi untuk bertarung jarak dekat. Dia tidak punya kekuatan untuk bertarung jarak dekat. Sepanjang hidupnya dia lebih berpengalaman dalam menggunakan umbannya untuk mempertahankan ternaknya dari serangan singa dan serigala. Disitulah kekuatannya.

Jadi inilah David seorang penggembala yang mempunyai pengalaman seumur hidup menggunakan senjata jarak jauh yang mematikan, menantang Goliath seorang raksasa lamban yang terbebani dengan baju zirah seberat puluhan kilogram dan senjata yang sangat berat yang hanya berguna untuk pertempuran jarak dekat. Goliath adalah sebuah mangsa empuk bagi David. Dia tidak punya kesempatan.

Goliath adalah seorang raksasa. Namun pada beberapa literatur tidak menggambarkan Goliath seperti prajurit yang tangguh. Dia harus dituntun oleh seorang pemuda untuk menuruni bukit menuju Lembah Elah. Goliath juga bergerak sangat lamban, bahkan reaksinya cukup lamban untuk mengetahui bahwa David tidak berniat untuk bertempur dalam jarak dekat.

Ternyata ada banyak spekulasi dalam dunia medis selama bertahun-tahun tentang apakah ada sesuatu yang salah dengan Goliath. Artikel Indiana Medical Journal tahun 1960 mengawali spekulasi mengenai hal tersebut, dimulai dengan tinggi Goliath. Goliath mempunyai tinggi kurang lebih tiga kali lebih tinggi daripada rekan-rekannya pada jaman tersebut. Dan biasanya jika seseorang mempunyai sesuatu yang tidak lazim, maka ada penjelasan untuk hal tersebut. Goliath, diduga mempunyai gejala gigantisme.

Bentuk paling umum dari gigantisme adalah sebuah kondisi yang bernama acromegaly. Acromegaly disebabkan oleh tumor jinak yang terdapat pada kelenjar dibawah otak yaitu kelenjar pituitari yang berakibat pada kelebihan hormon pertumbuhan. Sepanjang sejarah, para raksasa yang terkenal menderita acromegaly. Robert Wadlow adalah orang tertinggi sepanjang masa di dunia dengan tinggi 2,72 meter. Pada umur 8 tahun tingginya sudah melebihi tinggi ayahnya. Dan ketika meninggal di usia 24, tubuhnya masih bertambah tinggi. Robert Wadlow diketahui menderita acromegaly. Lalu ada pegulat Andre “The Giant” Rousimoff, saat usia 9 tahun tingginya sudah mencapai 190 cm. Dia juga menderita acromegaly.

Acromegaly mempunyai efek samping yang khas utamanya terkait dengan penglihatan. Tumor pituitari ketika tumbuh dalam otak, kerap menekan syaraf visual dalam otak. Akibatnya penderita acromegaly mempunyai penglihatan ganda atau rabun jauh yang sangat parah. Inilah yang diduga diderita oleh Goliath. Dan hal ini menjelaskan perilakunya yang aneh pada saat itu. Mengapa ia bergerak sangat lamban dan harus dituntun untuk menuruni lembah? Mengapa ia tidak sadar bahwa David tidak akan bertarung dalam jarak dekat sampai saat terakhir? Karena Goliath menderita acromegaly sehingga tidak bisa berjalan sendiri dan tidak bisa melihat jarak jauh. Sehingga ketika Bangsa Israel melihat bahwa dia adalah seorang prajurit raksasa dengan kekuatan yang menakutkan, mereka tidak mengira bahwa sumber kekuatannya adalah merupakan sumber kelemahannya yang terbesar.

David memilih senjata umban yang merupakan kekuatan utamanya. Pilihan senjata yang tepat, yaitu senjata yang dikuasai dan kuat didalamnya. Fokus pada kekuatan diri, bukan pada kekuatan lawan. Ketika semua orang berpikir untuk bertarung jarak dekat dengan Goliath, David berpikir out of the box. Dia melawan Goliath dengan pertarungan jarak jauh. Menjadi seorang yang kreatif dalam berkompetisi untuk memenangkan persaingan.

Ingat 10.000 hours rule. David sudah berlatih menggunakan umban ketika dia menggembalakan ternaknya untuk melawan singa dan serigala sebelum dia bertarung melawan Goliath. David tidak pernah tahu kapan dia bertemu dengan Goliath. Dia tetap berlatih menggunakan umban, ketika kesempatan tersebut datang dia sudah siap. David vs Goliath mengajarkan kita banyak hal, tentang percaya diri, keyakinan, fokus terhadap kekuatan diri sendiri, serta terus berlatih sehingga ketika kesempatan emas datang, kita sudah siap.

Seperti kisah David dan Goliath, tradisi Jawa juga mengenal kisah heroic tersebut dalam cerita pewayangan pertarungan antara Buto Cakil dan Arjuna (satria Bambangan) dalam kisah Perang Kembang.

Perang Kembang dalam pewayangan merupakan simbol pergulatan dan perjuangan manusia dalam melawan nafsu jahat dalam diri manusia. Perang kembang yang terpapar dalam tradisi pewayangan Yogyakarta menggambarkan perselisihan yang berlangsung dalam ruang-ruang yang tertata (pathet nem). Proses seseorang menghadapi krisis dalam berelasi dengan orang lain telah digambarkan dan dinyatakan sejak dini dalam tradisi ini sehingga harus direspon dengan cepat. Dengan demikian saat seseoarang memasuki pola relasi yang bersifat multikultural dan multi etnis, diharapkan mampu merespon dengan cepat dan cerdas.

Sementara dalam perang kembang tradisi Surakarta menghadirkan gambaran perselisihan, pertengkaran, dan perkelahian antara seorang satria yang telah menguasai beberapa skil dan ilmu pemgetahuan dengan tokoh buto (raksasa). Perang kembang Surakarta secara tegas menyatakan terjadinya arena laga seseoran yang sedang berkembang perkembangan fisik dan ilmu pengetahuan dengan beberapa buto dari dunia liar yang memiliki tradisi budaya yang sama sekali berbeda dengan satria. Dalam perjumpaan dua tradisi dapat dicermati adanya perbedaan bahasa yang menghambat komunikasi dan interaksi positif antar individu

Jawa mengenal empat macam nafsu yaitu Aluamah, Supiyah, Amarah, dan Mutmainah kemudian digambarkan identik dengan tanah, api, angin, dan air sebagai pelengkap kehidupan.  Tanpa empat unsur itu, kehidupan seperti tidak dapat berjalan, namun pada kondisi tertentu yang tak terkendali, salah satu dari empat tadi mungkin juga menjadi perusak dahsyat kehidupan itu sendiri, pun nafsu-nafsu.

Aluamah mewakili rasa memberontak, melawan, keberanian, menentang segala penghalang. Supiyah adalah trah manusia pada pemujaan, kemewahan, kesempurnaan, kemapanan. Amarah menggambarkan nafsu berpolitik, kecenderungan pada keunggulan, ego, dan olah pikir. Mutmainah dilambangkan air menjelaskan sisi manusia yang dilengkapi keinginan menghamba, taat, baik, dan patuh.

Perang Kembang selalu dimenangkan oleh kesatria setelah pertarungan dahsyat, memuat harapan bahwa di tiap pertarungan melawan hawa nafsu, manusia harus bisa memenangkannya. Mungkin tepatnya manusia harus mampu mengendalikan keempat nafsu yang dikodratkan Tuhan melengkapi kehidupan demi mencapai keutamaan.

Karya ini mencoba mengkorelasi dua kisah dari masa dan asal yang berbeda namun memiliki kesamaan hikmah dalam mengolah raga dan rasa sebagai kodrat manusia dengan hidup dan kehidupannya, dari paradigma Eropa dan Jawa.

%d blogger menyukai ini: