2019,  Work

Oxidentalism: Asian influences on Western

Kita sering berpikir tentang negara-negara Eropa, Asia, dan Afrika sebagai kelompok yang saling eksklusif. Namun, sejarah telah menunjukkan bahwa tidak satupun dari budaya sebuah negara lahir tanpa pengaruh dari budaya negara lain. Ada kota-kota di Asia yang sebagian besar penduduknya berasal dari Eropa, Roma menjadi pusat budaya, agama dan etnis dunia juga berbagai kota di Eropa yang memiliki hampir seluruh populasi ras kulit gelap. Meskipun keragaman budaya dan integrasi telah berubah pada tingkat global, bukan berarti hanya terjadi dalam abad terakhir ini. Kita dapat melihatnya secara historis percampuran Timur dan Barat, bagaimana hal itu mengubah dunia saat itu, dan terus berubah hingga sekarang.

Peradaban Barat modern, selama ini adalah fenomena yang relatif baru yang muncul melalui perpaduan ide-ide Romawi dan Kristen di Eropa selama Era Abad Pertengahan. Peradaban lain didahului, dipengaruhi, dan hidup berdampingan dengan Barat.

Pada saat yang sama penting untuk memperjelas bahwa perspektif yang berlawanan pada peradaban Barat – bahwa ia tidak memberi kontribusi apa pun yang berharga bagi dunia kecuali imperialisme dan eksploitasi, dan merupakan mekanisme untuk memastikan hak istimewa kepada ras kulit putih – dianut oleh kaum garis keras dan progresif adalah sebuah kekeliruan.

Akan sangat menyesatkan bagi siapapun untuk tidak bangga dengan pencapaian peradabannya sendiri karena akan berpikir bahwa peradaban lain tidak berkontribusi pada peradabannya. Tentu saja, untuk sebagian besar dari setengah milenium terakhir, Barat telah menjadi sangat dominan, dalam apa yang disebut sebagai ” Divergensi Besar .”

Tetapi kita seharusnya tidak menyangkal pencapaian dari peradaban lain, baik karena kebaikan mereka sendiri, atau karena kontribusi yang memungkinkan peradaban global modern itu terwujud. Misalnya saja, di bidang seni, tidak mungkin untuk menyatakan bahwa peradaban non-Barat adalah sesuatu yang lain selain yang setara dengan Barat, karena bukankah keindahan ada di mata yang melihatnya?

Dalam sejarahnya, peradaban paling tua diawali dari Timur Tengah. Bioma gurun dari daerah itu memaksa suku-suku bermigrasi dan menemukan sistem irigasi yang diperlukan untuk menghasilkan makanan demi kelangsungan hidup. Hal ini menyebabkan peningkatan kompleksitas sistem sosial dan politik untuk mendorong saling bekerja sama.

Jadi, di samping domestikasi pertanian dan peternakan, lahirlah sistem birokrasi, pemerintahan yang terorganisir dan agama, tulisan, dan transportasi semuanya muncul di Timur Tengah kuno. Di kemudian hari, wilayah itu, yang menjadi bagian dari peradaban Islam, memberikan aljabar dunia, distilasi, dan astronomi serta navigasi lanjutan, yang digunakan orang Eropa untuk berlayar ke seluruh dunia.

India memberi dunia sistem numeriknya, termasuk angka nol, operasi plastik, produksi baja, dan perencanaan kota dengan sistem pembuangan limbah. Dan di antara banyak kontribusi Cina adalah kertas, percetakan, mesiu, kompas, dan jam. Ini belum lagi berbagai hasil panen lainnya yang dikembangkan, teknik produksi, dan prestasi teknis berbagai bangsa non-Barat lainnya.

Bagi pendukung Barat mereka memiliki kesamaan fakta bahwa sulit bagi mereka untuk menyebutkan pengaruh kuat mereka dengan filosofi Asia, karena berisiko kehilangan reputasi secara akademik, yang memperjelas bagaimana sistem akademik Barat dan pendukungnya dalam hubungan dengan pola pikir sangat yakin akan supremasi cara berpikir Barat dalam menguasai dunia, karena dunia akademis Barat hanya mengacu pada tradisi dan fondasi pemikiran Barat mereka sendiri, yang bertahan setidaknya sampai akhir abad ke-20.

Bagi para filsuf pendekatan ilmiah yang kuat dari dunia Barat lebih jelas, dimulai dengan Renaisans di mana keberadaan individu semakin menjadi objek yang menarik, melalui penelitian ilmiah yang berevolusi dan fokus keagamaan yang memudar, ketika pada saat yang sama di Asia hingga abad ke-20 tidak biasa menempatkan individu sebagai pusat perhatian.

Akibat dari proses individualisasi ini adalah: semakin intens praktek individualitas daripada kolektivitas, semakin banyak nilai seperti kesantunan menghilang, seiring dengan peningkatan nilai setiap individu. Dari proses individualisasi ini hak asasi manusia sebagai hak kesulungan yang tak dapat diubah berevolusi.

Sikap ini, berdasarkan prinsip nilai tinggi setiap individu dengan hak asasi manusia sebagai buah dari Zaman Pencerahan di Barat dan sekularisasi Kristen, mungkin aneh dan baru bagi banyak orang di Timur, di mana secara historis orang lebih mengedepankan pemahaman kolektif keluarga, suku, dan masyarakat berbasis agama, karenanya hak asasi manusia sering dijuluki sebagai “penemuan Barat.”

Peradaban Barat memang peradaban global modern yang dibangun sebagian besar oleh Barat, tidak akan mungkin tanpa kontribusi peradaban lain dari seluruh dunia. Ini bukan untuk meremehkan prestasi Barat, kita juga tidak boleh mengabaikan kegagalan historis dari peradaban lain. Tetapi kita harus mengingat dan merayakan kontribusi untuk peradaban dari semua orang di dunia.

Saat ini, ketika era dominasi Barat semakin kuat dan ketika negara-negara lain meminjam banyak yang terbaik dari Barat, kita harus berharap untuk melihat lebih banyak kontribusi terhadap peradaban dari luar Barat.

%d blogger menyukai ini: