2018,  Work

Symptomatic Indications

Pada masa sebelum kekuatan Eropa Barat mampu menguasai wilayah Asia Tenggara, Nusantara yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia terdiri dari wilayah-wilayah monarki. Meskipun demikian, jaringan perdagangan telah berkembang sejak awal permulaan sejarah Asia. Terhubung ke jaringan perdagangan merupakan aset yang penting bagi sebuah kerajaan untuk mendapatkan kekayaan dan komoditas, yang diperlukan untuk menjadi kekuatan besar. Tetapi semakin menjadi global, semakin banyak pengaruh asing berhasil masuk, suatu perkembangan yang akhirnya mengarah pada kondisi kolonialisme.

Symptomatic Indications_250x152cm_2018

Kondisi tersebut kelak sangat berpengaruh pada bentuk kepemimpinan Indonesia saat ini. Bahkan secara interdisipliner dapat dikatakan bahwa kepemimpinan pascakolonial dalam tubuh pemerintah Indonesia masih dimobilisasi konsep kepemimpinan prakolonial.

Seperti halnya Babad Tanah Jawi sebagai representasi dari ideologi Islam dianggap menjadi konstruksi kepemimpinan masa kini. Relevansi konsep-konsep kepemimpinan dalam konteks Indonesia menjadi sangat perlu dibingkai melalui konsep kepemimpinan yang didasarkan pada teks Babad Tanah Jawi.

Jawa pada awalnya memang pulau yang makmur. Bukti ini tampak jelas seperti dalam catatan penulis asal Inggris John Joseph Stcokdale, The Island of Java, tahun 1811. Buku ini disebut manuskrip tertua pertama yang mengisahkan tentang Jawa, sebelum manuskrip serupa karya Gubernur Jenderal Hindia Belanda asal Inggris Thomas Stamford Raffles: “History of Java”.

Cerita tentang kekayaan Jawa akhirnya mencapai Eropa dan menggoda Belanda, yang memiliki teknologi navigasi maju, untuk berlayar ke bagian dunia ini agar bisa memiliki pengaruh lebih besar pada jaringan perdagangan rempah-rempah dunia. Ekspedisi pertama mereka mencapai Banten pada tahun 1596. Baru kemudian pada 20 Maret 1602 VOC didirikan yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.

Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah persekutuan badan dagang saja, tetapi memiliki hak istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara. Tetapi rakyat nusantara lebih mengenal VOC sebagai tentara Belanda karena penindasannya dan pemerasan kepada rakyat nusantara yang sama seperti tentara Belanda.

Menjadi sebuah ironi masa lalu bagi nusantara khususnya Jawa. Jaringan perdagangan global yang sedianya menjadi penanda perkembangan kemajuan dan kemakmuran justru menjadi titik awal kolonialisme yang menyengsarakan. Berkebalikan dengan gambaran manuskrip Stcokdale dan Raffles yang menuliskan betapa Jawa bagaikan pulau surga yang makmur, beriklim hangat, dan berkelimpahan pangan.

Kemasyhuran Babad Tanah Jawi sebagai manuskrip tentang sejarah politik, mitos, dan realitas sosial Jawa dalam kurun waktu lebih dari dua abad, yang menjadi legitimasi ideologi kepemimpinan, runtuh seiring hadirnya kekuatan VOC. Sebuah badan perdagangan yang harusnya mensejahterakan. Dua manuskrip besar dari dua paradigma yang berbeda, dari barat dan dari timur tentang Jawa, seolah menjadi paradoks. Menjadi garis tegas tentang orientalisme dan oksidentalisme.

Karya ini mencoba membuat narasi visual tentang ironi, paradoks, dan paradigma untuk merayakan peristiwa. Tentang timur dan barat, tentang titik pada sebuah era yang menjadi bagian dari sejarah peradaban. Tentang romantisme Jawa. Korelasi engraving The Personified VOC Receives Gifts, karya Jan Caspar Philips tahun 1730, seorang seniman kelahiran Jerman yang tinggal di Amsterdam, berkelindan dengan teks carakan Babad Tanah Jawi tahun 1788. Dua karya dari domain yang berbeda, visual dan tekstual, dari utopia yang berbeda, yang lahir di satu era yang sama.

%d blogger menyukai ini: