2020,  Work

The Decalogue

Pythagoras: “…angka merupakan sesuatu yang sakral, yang akan menyelesaikan atau membuka rahasia-rahasia alam.”

Sebut saja angka 10 yang dianggap membawa makna kesempurnaan. Berawal dari angka 0 yang merupakan simbol “ketiadaan”, bergabung dengan angka 1 yang menyatakan “ada” dan menjadi skor tertinggi dalam urutan angka.

Salah satu hal utama yang menjadi perhatian adalah ketika kita berupaya mencari pesan-pesan pada simbol-simbol yang ada sehingga menimbulkan interpretasi yang beragam.

Ada banyak informasi bersifat esensi yang secara acak tersebar dalam berbagai bentuk kebudayaan manusia, yang kebanyakan telah terpendam dan terlupakan dalam ingatan kolektif. Anasirnya yang terpisah dengan tinggalan jejak yang samar dan sulit dikenali, menjadikannya teka-teki yang sulit terpecahkan. Penelusuran asal-usul berbagai nama angka dalam bahasa tradisional sangat terkait dengan konsep kosmologi

Seperti Dasa Titah atau Sepuluh Perintah Tuhan. Dekalog, yang diberikan dalam dua bentuk, merupakan hukum Ibrani yang paling awal dan tradisi menganggapnya berasal dari Musa, meskipun pada kenyataannya berkembang dan diperhalus selama berabad-abad. Dekalog juga merupakan satu kumpulan prinsip biblika terkait etika dan ibadah, yang memegang suatu peranan penting dalam Yudaisme, Kekristenan, dan Islam.

Bukan sebuah kebetulan konsep tersebut menggunakan angka 10. Salah satu hal utama yang menarik ketika manusia berupaya mencari pesan-pesan yang tersirat dari masa lalu tersebut. Hal ini menjadi kecenderungan yang umum dilakukan karena manusia percaya bahwa simbol merupakan bentuk bahasa di masa lalu dalam menyampaikan pesan tertentu.

Secara filosofi, hikmah yang terkandung adalah bahwa keberadaan sesuatu baru dinilai bermanfaat jika dapat mengisi kekosongan, menutupi kekurangan. Tanpa nilai manfaat, keberadaan sesuatu hanya nilai diatas kertas, hampa tanpa makna.

10 tahun Lawangwangi Creative Space

Oleh: Gumilar Ganjar

Dalam medan seni rupa Indonesia, patronase privat merupakan pilar penyangga aktivitas medan yang posisinya terus menjadi signifikan. Meski belakangan ini patron publik serta inisiatif akar rumput mulai menunjukkan gairah yang cukup potensial, keduanya masih bersifat ‘alternatif’ dan belum dapat berdiri sama mapannya dengan patronase privat, apalagi menjadi substitusi. Kenyataan ini sepatutnya tidak dimaknai dengan sentimen negatif, dengan mencurigai aspek determinan pasar yang terlalu kuat menentukan arah perkembangan seni rupa, melainkan dapat kita anggap sebagai kondisi partikular yang khas dari medan seni rupa kita, sebuah kondisi yang telah menjadi kenyataan dan sepatutnya kita terima. Memang, seni rupa Indonesia sempat beberapa kali mengalami ‘sejarah’ buruk atas tindak kesewenangan pasar yang mengarahkan aktivitas medan menjadi fluktuatif, inkonsisten, dan kontraproduktif. Namun belakangan ini, aktivitas komodifikasi berjalan cenderung lebih stabil dan selektif. Tren dan selera yang berpihak pada kecenderungan tertentu mulai berganti dengan pola konsumsi yang lebih plural dan majemuk. Intensitas konsumsi seni yang sebelumnya ‘padat’ di tahun-tahun tertentu kemudian berubah menjadi lebih konsisten sepanjang waktu. Bahkan pada karya-karya yang sebelumnya dianggap mustahil dapat dikoleksi, seperti karya konseptual dan media baru, akhir-akhir ini mulai lazim untuk diserap oleh pasar. Beberapa indikasi ini tentunya patut diapresiasi, menunjukkan perkembangan pasar seni rupa kontemporer Indonesia ke arah yang lebih mapan dan dewasa. Berdiri dalam konteks perkembangan medan yang demikian, ArtSociates hadir sebagai salah satu agensi seni yang juga mempercayai adanya perimbangan yang ideal antara nilai kultural yang ditunjukkan oleh terobosan estetik dan nilai fiskal yang sepadan dari sebuah karya seni. Kami tidak melihat diskursus dan pasar sebagai dikotomi dengan agenda dan ideologi yang benar-benar berbeda, masih dapat ditemukan ruang perimbangan dimana agenda dan nilai dari keduanya dapat hadir secara berdampingan secara proporsional. Visi ini yang kami emban selama lebih dari satu dekade belakangan ini, untuk mendukung, mengembangkan, mendistribusikan, dan mempromosikan para seniman dengan kecenderungan karya yang demikian. Tidak terbatas hanya pada medan seni rupa Indonesia, seniman-seniman ini juga kami dorong dan distribusikan ke arena yang lebih besar, forum seni rupa kontemporer global.

Sebagaimana sebuah galeri semestinya berfungsi, kami juga mengemban visi untuk menjadi platform inkubasi bagi talenta-talenta baru seni rupa Indonesia. Dalam kondisi infrastruktur seni nasional yang cenderung organik, skema promosional seniman muda dapat dinyatakan berlangsung secara ‘manasuka’ dan insidental. Kesempatan bagi seniman muda untuk dapat menunjukkan dirinya pada khalayak dapat dinyatakan amatlah terbatas. Banyak terobosan dan eksplorasi estetik yang semestinya mendapatkan sorotan mesti redup terpinggirkan oleh minimnya kesempatan. Kami sangat menyayangkan kenyataan ini. Patut diakui bahwa persoalan ini tentunya terlalu besar untuk dapat kami selesaikan sendiri, namun setidaknya kami mencoba memberikan kontribusi dengan secara selektif membuka ruang dan menawarkan peluang bagi seniman muda untuk dapat menunjukkan eksplorasi dan kualitas partikularnya masing-masing melalui sebuah platform pameran berkala. Dukungan ini pun kami upayakan tidak hanya berhenti dalam sebuah perhelatan saja. Dengan memaksimalkan sumber daya yang kami miliki, beberapa dari seniman muda ini kemudian kami bina dan dorong untuk dapat menjadi seniman profesional yang bertanggung jawab dan menjunjung integritas berkesenian, yang nantinya berkarir tidak hanya pada medan seni rupa Indonesia melainkan juga pada forum seni regional dan internasional. Visi, misi, dan strategi kami sebagai institusi ini kiranya perlu ringkas kami ulas dalam surat undangan pameran ini. Dalam rangka merayakan genap satu dekade berdirinya Lawangwangi Creative Space – manifestasi fisik dari ArtSociates serta tempat dimana visi dan misi tersebut dieskekusi – kami mengundang rekan seniman sekalian untuk kiranya bersedia turut berkontribusi. Pertimbangan kami dalam memilih rekan semua sekalian tentunya dilatari dari relasi keprofesian yang kita bangun selama ini, dimana melaluinya kami merasakan adanya kesesuaian visi dan misi antara kami dengan pribadi rekan-rekan sekalian. Kami berharap rekan-rekan sekalian bersedia untuk turut menggambarkan dinamika aktivitas Artsociates sebagai sebuah institusi seni melalui pencapaian estetik masing-masing.

The exhibition Trajectory : A Decade of Lawangwangi is ready by Online Viewing Room through the link:

https://linktr.ee/artsociates.id

(Access it via your mobile phone to get the best experience.)

https://www.thejakartapost.com/life/2020/04/22/trajectory-a-decade-of-lawangwangi-creative-space.html

%d blogger menyukai ini: