2019,  Work

The Renaissance of Panji

Sebagai bangsa serumpun yang jumlahnya tidak kecil dan memainkan peranan menonjol dalam sejarah politik dan intelektual di Asia Tenggara selama masa yang panjang, kita mewarisi hampir semua peradaban besar dunia. Warisan peradaban sastra tulis yang pertama kita peroleh berkat berkembangnya agama Hindu dan  Buddha pada abad ke-7 – 14 M. Pada masa berikutnya muncul bentuk penyampaian lain yang disebut ‘kidung’, yaitu karangan naratif yang disampaikan juga dalam bentuk puisi. Bedanya puisi dalam kidung didasarkan bukan pada puitika Sanskerta, tetapi ciptaan local genius pada abad ke-14 M (Zoetmulder 1983:277-395). Sumber cerita bukan lagi epos-epos India, melainkan peristiwa-peristiwa sejarah lokal dengan tokoh-tokoh lokal.

Pada masa akhir kekuasaan Majapahit, setelah munculnya genre kidung yang biasanya mengisahkan para kestaria yang gugur di medan peperangan secara tragis, muncul siklus Cerita Panji, campuran epos, kisah petualangan dan percintaan. Tokoh-tokoh dalam Cerita Panji bukan lagi tokoh dalam mitos atau sejarah lokal, melainkan hasil rekaan atau imaginasi pengarang, namun tetap merujuk pada tokoh dalam sejarah. Meskipun sudah digubah menjadi karya imaginatif, namun tampak latar sejarah di belakangnya yaitu situasi krisis yang meliputi kerajaan Majapahit menjelang keruntuhannya.

Sementara di Eropa pada periode kira-kira abad ke-14 sampai abad ke-17, gerakan budaya yang kita sebut Zaman Renaissance berkembang. Dimulai di Italia pada akhir Abad Pertengahan dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Meskipun Renaissance dipenuhi revolusi terjadi di banyak kegiatan intelektual, serta pergolakan sosial dan politik, Renaissance mungkin paling dikenal karena perkembangan artistik dan kontribusi dari polimatik seperti Leonardo da Vinci dan Michelangelo.

Menurut Ernst Gombrich, munculnya Renaissance sebagai suatu gerak kembali di dalam seni, artinya bahwa Renaissance tidak dipengaruhi oleh ide-ide baru. Misalnya, gerakan Pra-Raphaelite atau Fauvist merupakan gerakan kesederhanaan primitif setelah kekayaan gaya Gotik Internasional yang penuh hiasan.

Dalam perkembangan sejarah sastra Jawa, pada periodisasinya oleh Dr. Pigeaud, The Literature of Java, ada empat periode sejarah sastra Jawa: periode Pra Islam, periode Jawa-Bali, periode Sastra Pasisiran, dan periode Renaissance. Seperti apa yang terjadi di Eropa, ideologi yang didengungkan pada masa itu adalah humanisme, di mana segala sesuatu dipusatkan pada manusia (antroposentris). Istilah renaissance sendiri berarti kelahiran baru, suatu pandangan hidup yang kembali pada manusia itu sendiri. Sehingga salah satu hasil renaissance ini adalah ilmu pengetahuan mulai berkembang, dan menjadi awal modernisme di Eropa.

Istilah Renaissance Sastra Jawa sendiri menurut Pigeaud dalam Margana (2004), merupakan sebuah masa di mana terjadi banyak reproduksi dan produksi karya sastra Jawa oleh para Pujangga Jawa di istana Kartasura, Surakarta dan Yogyakarta abad 18-19. Masa ini dianggap sebagai masa keemasan dari masa kegelapan dalam perkembangan kesusasteraan Jawa dari masa Hindu-Budha-Jawa hingga abad 19. Di mana Cerita Panji bermula di Jawa sekurang-kurangnya pada akhir abad 14 hingga awal abad 15 Masehi. Kisah ini melahirkan banyak varian yang muncul di beberapa wilayah pada abad 17 hingga 18 Masehi.

Cerita Panji yang masuk dalam model sastra Jawa Tengahan ini awalnya disampaikan dalam bahasa kidung, Cerita Panji kemudian menyebar di beberapa wilayah Asia Tenggara. Panji—jika menggunakan terminologi linguistik—menjadi semacam “lingua franca”, sebuah perantara—seperti yang disebut Adrian Vickers—bagi “Peradaban  Pesisir “ Asia Tenggara, meski tak sepenuhnya tepat.

Karya ini mencoba menarik benang merah dari sudut pandang masa dan tema antara Cerita Panji di Jawa dengan karya-karya Old Master tentang mitologi kisah percintaan di Eropa. Dari titik-titik korelasi itu terlihat bahwa kisah Panji tak terpisahkan (dan sesungguhnya juga ikut menjadi bagian penting) dari kasanah epos-epos besar peradaban dunia yang mengkisahkan tentang relasi-relasi yang dibangun dan diperluas oleh dua manusia yang saling jatuh cinta.

Karya Panji yang dihadirkan dalam bentuk kontemporer ini mencoba mengadopsi adegan-adegan dalam Old Master tentang mitologi kisah percintaan epos-epos besar dunia, seolah menjadi bagian dari pengawetan Panji Jawa. Secara visual karya-karya ini menghadirkan kembali gaya Wayang Beber Jawa dan menampilkan kembali kidung Wangbang Wideya, sebuah kidung yang muncul paling mula di Bali, melalui teks-teks aksara Jawa yang terangkai dan membentuk lukisan Old Master ala Panji.

Karya ini tak berhenti dalam representasi lokalitas budaya Jawa-Bali saja, karena juga menghadirkan nuansa kosmopolitan dengan menghadirkan (dan mengkorelasikan) kisah-kisah yang memiliki nuansa yang sama dengan Panji dalam Old Master Renaissance. Pada ruang gelap di bawah cahaya ultraviolet (UV), nuansa itu akan muncul lewat wajah asli karya-karya Old Master dalam media phosphor.

——————————————————————————————————————–

Kuratorial: Aminudin Siregar

Dengan latar pendidikan formal Desain Grafis, di medan seni Indonesia, Eddy Susanto mewakili generasi yang memulai karir kesenimanannya pada pertengahan dekade 2000-an. Itu adalah masa-masa transisi ketika Indonesia mulai meninggalkan era tertutup di bawah rejim Presiden Soeharto yang aktif dalam meredam kebebasan ekspresi – terutama untuk dunia seni Indonesia. Era itu juga merupakan era tertutup yang sering disebut sebagai era depolitisasi seni. Semenjak Soeharto mundur sebagai presiden, Indonesia memasuki era terbuka yang merayakan euforia kebebasan. Pada masa-masa ini seniman menyambut Indonesia pasca Soeharto dengan eksplorasi-eksplorasi baru, tak hanya media, tetapi juga tema-tema yang dahulu sempat ditabukan dan bahkan terlarang. Bersama ratusan seniman lainnya di Indonesia, Eddy Susanto turut mengalami perubahan krusial yang sedikit banyak membangun pengalaman batin dan juga strategi artistik yang khas.

Bagi Eddy Susanto seni adalah cara untuk menyelidiki pengalaman kita, dunia kita dan diri kita melalui rangkaian penelitian dan ini bisa berarti tentang menciptakan pengetahuan baru. Dalam proses menyelidiki ide, waktu, tempat, objek, figur, peristiwa, atau pengalaman untuk ditafsirkan secara kreatif, Eddy Susanto membayangkan strategi penjajaran (jukstaposisi) yang pada gilirannya dinilai cukup kuat dalam memunculkan metafora yang kaya. Baginya, melalui teks dan gambar, seni adalah eksplorasi tanpa batas untuk mewadahi kognisi, emosi, perilaku sosial, dan yang tak kalah penting: interaksi antara ilmu pengetahuan (terlebih sejarah), masyarakat, seni, dan budaya.

Publik seni Indonesia mengenal karya-karya Eddy Susanto karena kecermatannya dalam menjajarkan kebudayaan dari berbagai belahan dunia – khususnya antara budaya Jawa dan budaya lainnya. Karyanya menjukstaposisi dua-tiga sejarah – sebagian kalangan melihatnya sebagai praktik dekonstruksi perbedaan antara “ruang (space)” dan “tempat (place)” yang diciptakan dan diposisikan dalam suatu tempat sebagai sebuah pengetahuan lokal. Tampil dengan media lukisan, silk screen, obyek, dan instalasi, karya-karya Eddy Susanto yang beberapa di antaranya menuntut keterlibatan sensorik, cukup sering membangun kualitas relasional dari tempat yang menghasilkan “kami makhluk dari daratan Timur” yang pasrah terkonseptualisasi oleh ”ruang dunia pertama”.

Dalam proyek seni The Passage of Panji (2014) dan Albrecht Durer and the Old Testament of Java (2014) yang menjukstaposisi antar budaya itu, karya-karya Eddy Susanto menciptakan efek cerita berlapis yang saling mengganggu otoritas kata-kata dengan menekankan transmisi pengetahuan dan ekspresi. Narasi yang berlangsung di sana tidak diposisikan sebagai objek, tetapi lebih merupakan suatu dasar yang rumit dari mana kita kemudian mulai memahami arti tentang betapa berlapis-lapisnya sebuah peradaban pada satu masa tertentu – di suatu ruang dan di suatu tempat yang tidak saling berhubungan tapi justru menjalin konstruksi hegemonik. Kedua proyek seni yang mengangkat epik kemanusiaan tersebut sangat penting untuk membangun argumen secara terus-menerus tentang negosiasi peradaban, bukan malah membenturkannya. Beberapa hasil pengamatan menggarisbawahi manifestasi kritis atas imperialisme ketika satu peradaban mendominasi lokasi peradaban lainnya. Namun karya Eddy Susanto tidak terjebak ke dalam fitur klise yang mendikte pemahaman pasca kolonial seseorang. Alih-alih, karyanya saling berkelindan secara harmoni meskipun kita masih bisa merasakan kesenjangan antara dua oposisi biner (peradaban), polaritas yang saling bergantung satu sama lain sekaligus menajamkan ketidaksetaraan dan perbedaan.

Proyek seni Eddy Susanto kali ini memiliki kesinambungan dengan dua proyek sebelumnya, khususnya pengembangan pada Kisah Panji dengan fitur yang eksploratif dan menyegarkan. Sebagai kumpulan cerita Jawa  klasik pada era Kerajaan Kadiri, Kisah Panji memadukan unsur kepahlawanan dan roman percintaan dengan tokoh utama Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana). Dalam penyebarannya di sejumlah wilayah Asia Tenggara, Kisah Panji ini diyakini memiliki ragam versi dan modifikasi lalu berkembang dan bertransformasi ke berbagai aspek kehidupan dan bentuk seni seperti seni tari, sastra, teater, wayang, seni lukis, dan seni pahat. Tak hanya itu, Kisah Panji dipercayai beririsan dengan kisah-kisah peradaban dari penjuru dunia lainnya.

Dalam proyek ini Eddy Susanto menjajarkan benang merah dari sudut pandang khusus antara Kisah Panji di tanah Jawa dengan karya-karya Old Master Barat yang memuat mitologi percintaan. Eddy Susanso sampai pada sebuah pemahaman bahwa titik-titik korelasi itu menunjukkan bahwa sesungguhnya Kisah Panji tak bisa dipisahkan sekaligus menempati peran penting dalam khasanah epos-epos besar peradaban dunia. Kisah Panji yang dihadirkan dalam bentuk kontemporer ini mengadopsi adegan-adegan dalam Old Master Barat seraya menghadirkan kembali gaya Wayang Beber Jawa melalui kidung Wangbang Wideya, sebuah kidung yang muncul paling mula di Bali, melalui teks-teks aksara Jawa yang terangkai sedemikian rupa sehingga membentuk lukisan Old Master ala Panji. Karya ini dihasratkan tak hanya berhenti sekedar representasi lokalitas budaya Jawa-Bali saja, sebab memunculkan nuansa kosmopolitan dengan menghadirkan (dan mengkorelasikan) kisah-kisah yang memiliki nuansa yang sama dengan Panji dalam Old Master Renaissance dengan menghadirkannya di sebuah ruang gelap di mana cahaya bertumpu pada cahaya ultraviolet (UV). Lapisan jukstaposisi antar peradaban itu pada gilirannya muncul lewat wajah asli karya-karya Old Master dalam media phosphor.

Proyek ini mengacu pada strategi modernitas di konteks seni rupa Indonesia melalui “perampasan apropriasi” yang pernah dilakukan pelukis Raden Saleh pada abad ke-19 terhadap lukisan Nicolaas Pieneman. Namun proyek Eddy Susanto ini dikerjakan dengan jarak yang tidak lagi konvensional sepertihalnya Saleh-Pieneman. Proyek ini dikerjakan melalui referensi sehingga memungkinkan terjadinya pendekatan non-subversif. Dan dengan strategi penjajaran yang kian berlapis dan rumit, proyek ini tak hanya memberikan pengalaman archaic (namun baru) yang enigmatik, tetapi juga menawarkan sensasi bagi mata dan penyisipan pesan-pesan tak terduga kepada pemirsa. Proyek seni ini tak hanya menyenangkan, tetapi juga menyadarkan.  

%d blogger menyukai ini: